<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438</id><updated>2012-02-17T09:43:23.888+07:00</updated><category term='Menungggu judgement'/><title type='text'>Shiva dalam Dunia</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>75</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-223002690067403517</id><published>2010-08-30T02:11:00.001+07:00</published><updated>2010-08-30T04:24:16.051+07:00</updated><title type='text'>Manusia (Pembahasan Tanpa Akhir)</title><content type='html'>Saya menelusuri rak buku milik ayah saya setelah cukup lama saya tidak bermain kesana. Deretan pertama berisikan buku-buku suci, yaa, beberapa koleksi kitab tafsir dan buku bertemakan pendekatan relijius lainnya. Padat dan sungguh berwarna.  Deretan kedua berisikan buku-buku politik lawas hingga kontemporer, buku- buku pendekatan psikologi-nafsiologi, psikologi kerja, psikologi anak, psikologi ketuhanan, buku-buku bertemakan perdamaian dan sosialisasi di masyarakat plural,  serta beberapa buku tentang aktualisasi diri, mulai dari karya seorang agamis hingga jenderal purnawirawan. Deretan selanjutnya bukan milik ayah saya saja. Itu milik ayah dan ibu saya. Disana ada beberapa karya sastra lepas, prosa lama, kisah-kisah mengenai tokoh idola kedua orang tua saya, serta buku-buku Hirata dan Habiburrahman favorit ibu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata saya tertuju pada salah satu buku bersampul tak menarik di ujung deretan kedua. Judulnya Nafsiologi. Karya Sukanto, MM. Kertasnya pun tak jua menarik. Tetapi saya tertarik sekedar membukanya dan melihat-lihat seperti apa isi buku-buku lawas milik ayah saya itu. Ada beberapa bagian yang sungguh menarik rupanya. Saya ulas lengkap buku ini nanti, pada terbitan blog saya mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Manusia bukan saja unik tetapi juga kompleks. Pribadi manusia itu secara struktural dicipta dalam wujud yang utuh. Lahir-batin manusia secara fungsional saling mengisi dan bukan membentuk dua anti-pode yang saling tantang. Akan tetapi, kedua sektor itu ternyata bisa 'pecah', sektor lahir berlawanan dengan sektor batin. Bukan itu saja keunikan manusia. Ia memiliki variabel gerak yang demikian besarnya, seolah-olah dunia ini bisa 'ditelan' olehnya. Padahal, ia hanya sebuah 'titik' saja dalam dunia ini. Kompleksitasnya sering nampak, karena 'aku' manusia bisa menyimpan rahasia bersifat prive yang sukar diramal dan diperhitungkan. Ditarik dalam simpul kata, pembahasan tentang manusia belum bisa disebut mencapai predikat tuntas, sejak dulu sampai kini. Dunia filsafat telah menjelajahi jaring-jaring logika, dunia sains telah mengobservasi dengan alat-alat inderawi yang dianggapnya solid, agama ditampilkan dalam berbagai versi tafsir, namun belum juga ada kejelasan yang mantap tentang apa yang disebut 'manusia utuh' atau tentang 'manusia' sebagai 'manusia'..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-223002690067403517?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/223002690067403517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=223002690067403517' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/223002690067403517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/223002690067403517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/manusia-pembahasan-tanpa-akhir.html' title='Manusia (Pembahasan Tanpa Akhir)'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-3769282047032659153</id><published>2010-08-29T01:35:00.000+07:00</published><updated>2010-08-29T01:37:38.818+07:00</updated><title type='text'>The Heart Can be A Real Bastard</title><content type='html'>The Heart Can be A Real Bastard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya benci sekali kenapa hati ini tercipta dan terkadang menjadi sentral dari segalanya. Bahkan otak, yang menjadi sumber dari intelegensia si empunya, tertunduk lesu dan tak berdaya ketika hati mulai  berbicara. Saya heran mengapa kekuatan itu bisa tercipta. Merusak segala konstelasi pertahanan yang telah diciptakan dengan sedemikian rupa oleh sang empunya, bisa seketika hancur ketika hati menguap dan meletupkan apa yang ia rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tidak adil segalanya. Mengapa tidak Tuhan pisahkan saja fungsinya, disebar ke berbahai organ yang menyusun tubuh setiap manusia. Semuanya memiliki unit-unit hati tersendiri yang kemudian pada akhirnya voting suara organ-organ t ubuh tersebut yang akan menjadi suara hati si empunya. Bukan keadaan serba diktatorial yang hati lakukan seperti saat ini. Dia melulu yang menentukan segalanya. Terkadang ia bahkan membuat ilusi bahwa otak tidak pandai dalam membuat keputusan. Otak dicaci sedemikian rupa, kemudian ia membuat bayangan baru di balik otak, dibuatnya sungguh nyata, proyeksi apa yang akan terjadi apabila si empunya mempercayai otaknya ketimbang hatinya. Hati mengeluarkan jurus- jurus kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, dan berbagai faktor x lainnya yang membuat si empunya goyah untuk mempercayai rasionya sendiri, dan berpaling ke hal lain yang dianggapnya lebih merepresentasikan suara dirinya, yakni hati tadi. Benar- benar konspirasi yang rapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup itu pilihan. Hidup itu hati. Empunya selalu mempercayai hati. Hidup itu tentang hati, selalu begitu pada akhirnya. Saya heran mengapa hati diberi otoritas terlalu banyak, membiarkannya menjadi diktator dalam setiap diri manusia, menjajah jelata hingga para doktor lulusan Harvard sana. Menindas manusia dari berbagai kemasan dan gaya hidup. Hati yang membuat semuanya menjadi lain dan sama. Saya mau tahu apakah ada tombol sakti yang bisa menjatuhkan rezim hati di diri saya. Memilih jalan hidup perlu pertimbangannya. Memilih makanan perlu pertimbangannya. Memilih pakaian perlu kritik darinya. Mengapresiasi seni hanya ketika itu sesuai dengan seleranya. Memilih cinta hanya ketika ia bilang ini cinta. Saya menyerah dan akhirnya sulit berkata tidak akan pilihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maukah hati bernegosiasi dengan saya sekali saja? Membuat konsesi besar dalam hidup saya, misalnya menjelaskan mengapa pilihannya ini bukan itu, menjelaskan mengapa ini kanan bukan kiri, mengapa ini harus malam bukan siang, mengapa ini cinta dan itu bukan. Atau sekedar memberi saya satu kesempatan untuk memilih tanpa ada intervensi darinya untuk menentukan pilihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya ini bermimpi. Saya sudah tahu ia tak akan mau diajak bernegosiasi. Negosiasi itu seperti klub malam, tempat yang tak akan hati masuki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-3769282047032659153?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/3769282047032659153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=3769282047032659153' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3769282047032659153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3769282047032659153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/heart-can-be-real-bastard.html' title='The Heart Can be A Real Bastard'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-391210077768757525</id><published>2010-08-29T01:30:00.000+07:00</published><updated>2010-08-29T01:34:00.762+07:00</updated><title type='text'>Halo Dunia</title><content type='html'>Halo dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya malu sekali menyapamu kini, setelah beberapa saat saya tidak menyapamu dengan sapaan  hangat. Sekenanya saja. Sekedar lewat saja. Maafkan saya yang tidak terlalu memprioritaskan dirimu dibandingkan dengan teman- temanmu disana, jejaring mini yang mengizinkan saya singgah sekenanya saja, dalam rumah kecil berukuran 140 karakter saja. Mungkin kamu terluka melihat hati saya direbut begitu saja. Mohon dimaafkan. Kini saya akan kembali memelukmu seperti sedia kala. Memelukmu seolah tak ada entitas lain yang lebih berharga. Tidak jejaring mini, tidak juga portal akademik, yang beberapa hari yang lalu berhasil menjajah saya selama 27 jam berturut- turut tidak memejamkan mata, memaksa saya terkapar seperti seorang tertuduh di bui yang diinterogasi tanpa henti selama dua puluh tujuh jam! Izinkan saya menceritakan semuanya padamu. Hanya padamu. Maksud saya, kamu yang kedua setelah Tuhan tentunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita satu. Saya hanya ingin kuliah. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita diawali dengan perencanaan matang saya untuk mengambil mata kuliah baru di semester lima. Seluruhnya telah saya persiapkan dengan matang, mulai dari kelas- kelas yang disinyalir dapat memberikan warna baru dalam perjalanan akademik saya, dosen- dosen yang ramah dan tentu menarik untuk disimak, hingga menghindari dosen globalonia yang telah masuk daftar hitam kelas yang tidak akan saya ambil di semester berikutnya. Setelah perencanaan yang begitu matang, delapan mata kuliah siap saya ambil untuk semster lima nanti. Enam belas Agustus. Dinihari pukul 00.15, bagian akademik mengumumkan bahwa pada tepat waktu inilah portal akademik akan resmi membuka masa pengisian rencana studi mahasiswa secara on line. Serempak seluruh mahasiswa bersiap-siaga, demi mendapatkan kelas yang diimpikan tanpa harus berebut atau bahkan  kecewa karena kuota habis. Hal ini yang menjadi ciri khas periode KRS. Selalu berulang polanya setiap tahunnya. Kami berharap pihak universitas melakukan perbaikan di berbagai sisi, sehingga keluhan- keluhan mahasiswa pada tahun lalu didengar dan dievaluasi menjadi perbaikan total semester ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan beberapa rekan mulai panik ketika mendapati portal akademik tidak dapat diakses sama sekali. Selalu muncul berbagai angka- angka mistis ketika kami memasukkan alamat web tujuan, kemudian layar komputer kami berubah menjadi tulisan- tulisan aneh yang menandakan situs tersebut tidak dapat diakses. yang mengherankan, beberapa rekan lainnya berhasil mengakses dan bahkan berhasil mendapatkan kelas yang mereka inginkan tanpa hambatan sama sekali. Kami mulai panik. Menghujat dan memaki. Ratusan komplain bertebaran memenuhi berbagai media yang mungkin. Mulai dari jejaring portal, jejaring sosial, hingga komplain langsung yang dittujukan oleh teman- teman yang berada di sekitar kampus. Kami tidak tidur. Kami seperti mayat hidup yang seharian dan semalam suntuk memandangi layar komputer, memandangi layar telepon selular, berharap keajaiban segera datang. Beberapa jam setelah komplain secara langsung disampaikan oleh rekan- rekan kami, muncullah kabar bahwa server memang dnyatakan rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terkejut. Terlebih karena fakta ini bahkan tidak diberitahukan kepada mahasiswa, yang bahkan sudah sejak awal mengira portal akan baik- baik saja. Terlebih kuota kelas semakin berkurang, tandanya selalu ada mahasiswa yang berhasil mengakses portal tersebut. Kami panik bukan main. Beberapa rekan bahkan berkata bahwa nilai puasa mereka dipertanyakan karena adanya insiden ini. Tak mengherankan bla ada yang berbicara demikian. Makian dan hujatan tak lagi terperi dilontarkan di sana- sini, memenuhi pikiran dan kegundahan hati setiap mahasiswa yang tak beruntung seperti kami. Alangkah beratnya. Namun bagaimana lagi. Hanya itulah yang bisa kami lakukan. Selain opsi lan yang memang cukup radikal, seperti misalnya membawa tabung gas elpiji 3 kilogram dan meledakkan kampus kami. Ah, itu hanya sekelibat pikiran yang muncul di tengah deraan kegalauan kami yang tak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak main-main soal masa depan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kuliah benar- benar menentukan proyeksi masa depan kami. Fokus dan kecenderungan perilaku kami dibentuk dari awal menyiapkan pengaruh apa yang akan kami serap. Pengaruh apa yang akan mengindoktrinasi hari-hari kami melalui ceramah dan tugas tugas kelas. Teori dan konsepsi apa yang akan kami pakai untuk menganalisa setiap fenomena hubungan internasional yang menjadi fokus kami, atau saya khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam kemudian kami bisa mengakses dan memilih mata kuliah. Namun ketika dilakukan input data, situs tersebut kembali tak mau diajak bekerjasama. Tak bisa menghitung dia rupanya. Kami memasukkan 24 SKS, ia katakan 87 SKS. Kami benar- benar tak tahu lagi harus bagaimana. Padahal hari itu bertepatan dengan hari kemerdekaan negara kita. Kami merasa belum lepas dari penjajahan seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lagi- lagi tidak bisa tidak memberikan seluruh perhatian saya pada situs ini. Sepertinya saya bahkan sudah lelah untuk lelah. Saya lelah untuk pasrah, kemudian pasrah saja merelakan kelelahan ini merasuk dan bertengger, selamat datang. Saya kembali tidak tidur dan menunggu. Tak ada hasil. Ia masih pula tak dapat berhitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 Agustus 2010 pukul  02.05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman meghubungi saya bahwa situs itu telah kembali normal dan bisa diakses dengan cepat. Dia bilang, jangan gunakan PC atau Laptop. Dia bilang, gunakan telepon selular. Seketika saya mengakses lewan ponsel saya, melakukan input dengan luar biasa cepatnya, dan akhirnya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELAS BERHASIL DIAMBIL. 24 SKS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin pingsan saya rasanya. Saya mengeluarkan air mata. Saya kesal, mengapa harus berlebihan seperti ini. Benar- benar diluar kontrol akal sehat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tersenyum saya kirimkan pesan ke teman- teman yang bernasib serupa bahwa portal sudah bisa diakses. beberapa tertidur. Kehilangan kuota. Beberapa terbangun dan tersenyum seperti saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-391210077768757525?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/391210077768757525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=391210077768757525' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/391210077768757525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/391210077768757525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/halo-dunia.html' title='Halo Dunia'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-7868373114888396163</id><published>2010-08-23T04:18:00.000+07:00</published><updated>2010-08-23T04:25:38.583+07:00</updated><title type='text'>Mohon Maaf</title><content type='html'>Saya memohon maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diri saya yang membiarkan halaman ini berhari-hari terabaikan. Berhari-hari tanpa kabar. Sulit sekali saya menjelaskan mengapa. Bahkan diri saya sendiripun tidak sanggup menjelaskan mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I just knew what 'home issue' is. So this is it?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-7868373114888396163?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/7868373114888396163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=7868373114888396163' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7868373114888396163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7868373114888396163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/mohon-maaf.html' title='Mohon Maaf'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-1611318294956422022</id><published>2010-08-15T13:02:00.000+07:00</published><updated>2010-08-15T13:06:42.663+07:00</updated><title type='text'>If There's Any?</title><content type='html'>If there's any amendment shall we made to our law, in specific case of people commiting adultery, that would be..&lt;br /&gt;This House Would Put Capital Punishment to People Committing Adultery. Chemical castration's just not that comparable to the damage that has been made by it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just Saying&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-1611318294956422022?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/1611318294956422022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=1611318294956422022' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1611318294956422022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1611318294956422022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/if-theres-any.html' title='If There&apos;s Any?'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-4358425530456317990</id><published>2010-08-14T12:10:00.000+07:00</published><updated>2010-08-14T12:46:47.891+07:00</updated><title type='text'>This is GOOD</title><content type='html'>Saya dikirimi sebuah artikel menarik mengenai hukum oleh rekan saya, Skanda (tidak pakai L). Dia seorang mahasiswa hukum di NLS India, salah satu adjudicator favorit saya ketika UADC kemarin. Dia bilang ini salah satu tugas kuliahnya yang paling menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harvard Law Review&lt;br /&gt;Vol. 62, No. 4, February 1949&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THE CASE OF THE SPELUNCEAN EXPLORERS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LON L. FULLER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IN THE SUPREME COURT OF NEWGARTH, 4300&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The defendants, having been indicted for the crime of murder, were convicted and sentenced to be hanged by the Court of General Instances of the County of Stowfield. They bring a petition of error before this Court. The facts sufficiently appear in the opinion of the Chief Justice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRUEPENNY, C. J.    The four defendants are members of the Speluncean Society, an organization of amateurs interested in the exploration of caves. Early in May of 4299 they, in the company of Roger Whetmore, then also a member of the Society, penetrated into the interior of a limestone cavern of the type found in the Central Plateau of this Commonwealth. While they were in a position remote from the entrance to the cave, a landslide occurred. Heavy boulders fell in such a manner as to block completely the only known opening to the cave. When the men discovered their predicament they settled themselves near the obstructed entrance to wait until a rescue party should remove the detritus that prevented them from leaving their underground prison. On the failure of Whetmore and the defendants to return to their homes, the Secretary of the Society was notified by their families. It appears that the explorers had left indications at the headquarters of the Society concerning the location of the cave they proposed to visit. A rescue party was promptly dispatched to the spot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The task of rescue proved one of overwhelming difficulty. It was necessary to supplement the forces of the original party by repeated increments of men and machines, which had to be conveyed at great expense to the remote and isolated region in which the cave was located. A huge temporary camp of workmen, engineers, geologists, and other experts was established. The work of removing the obstruction was several times frustrated by fresh landslides. In one of these, ten of the workmen engaged in clearing the entrance were killed. The treasury of the Speluncean Society was soon exhausted in the rescue effort, and the sum of eight hundred thousand frelars, raised partly by popular subscription and partly by legislative grant, was expended before the imprisoned men were rescued. Success was finally achieved on the thirty-second day after the men entered the cave.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since it was known that the explorers had carried with them only scant provisions, and since it was also known that there was no animal or vegetable matter within the cave on which they might subsist, anxiety was early felt that they might meet death by starvation before access to them could be obtained. On the twentieth day of their imprisonment it was learned for the first time that they had taken with them into the cave a portable wireless machine capable of both sending and receiving messages. A similar machine was promptly installed in the rescue camp and oral communication established with the unfortunate men within the mountain. They asked to be informed how long a time would be required to release them. The engineers in charge of the project answered that at least ten days would be required even if no new landslides occurred. The explorers then asked if any physicians were present, and were placed in communication with a committee of medical experts. The imprisoned men described their condition and the rations they had taken with them, and asked for a medical opinion whether they would be likely to live without food for ten days longer. The chairman of the committee of physicians told them that there was little possibility of this. The wireless machine within the cave then remained silent for eight hours. When communication was re-established the men asked to speak again with the physicians. The chairman of the physicians' committee was placed before the apparatus, and Whetmore, speaking on behalf of himself and the defendants, asked whether they would be able to survive for ten days longer if they consumed the flesh of one of their number. The physicians' chairman reluctantly answered this question in the affirmative. Whetmore asked whether it would be advisable for them to cast lots to determine which of them should be eaten. None of the physicians present was willing to answer the question. Whetmore then asked if there were among the party a judge or other official of the government who would answer this question. None of those attached to the rescue camp was willing to assume the role of advisor in this matter. He then asked if any minister or priest would answer their question, and none was found who would do so. Thereafter no further messages were received from within the cave, and it was assumed (erroneously, it later appeared) that the electric batteries of the explorers' wireless machine had become exhausted. When the imprisoned men were finally released it was learned that on the twenty-third day after their entrance into the cave Whetmore had been killed and eaten by his companions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From the testimony of the defendants, which was accepted by the jury, it appears that it was Whetmore who first proposed that they might find the nutriment without which survival was impossible in the flesh of one of their own number. It was also Whetmore who first proposed the use of some method of casting lots, calling the attention of the defendants to a pair of dice he happened to have with him. The defendants were at first reluctant to adopt so desperate a procedure, but after the conversations by wireless related above, they finally agreed on the plan proposed by Whetmore. After much discussion of the mathematical problems involved, agreement was finally reached on a method of determining the issue by the use of the dice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before the dice were cast, however, Whetmore declared that he withdrew from the arrangement, as he had decided on reflection to wait for another week before embracing an expedient so frightful and odious. The others charged him with a breach of faith and proceeded to cast the dice. When it came Whetmore's turn, the dice were cast for him by one of the defendants, and he was asked to declare any objections he might have to the fairness of the throw. He stated that he had no such objections. The throw went against him, and he was then put to death and eaten by his companions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After the rescue of the defendants, and after they had completed a stay in a hospital where they underwent a course of treatment for malnutrition and shock, they were indicted for the murder of Roger Whetmore. At the trial, after the testimony had been concluded, the foreman of the jury (a lawyer by profession) inquired of the court whether the jury might not find a special verdict, leaving it to the court to say whether on the facts as found the defendants were guilty. After some discussion, both the Prosecutor and counsel for the defendants indicated their acceptance of this procedure, and it was adopted by the court. In a lengthy special verdict the jury found the facts as I have related them above, and found further that if on these facts the defendants were guilty of the crime charged against them, then they found the defendants guilty. On the basis of this verdict, the trial judge ruled that the defendants were guilty of murdering Roger Whetmore. The judge then sentenced them to be hanged, the law of our Commonwealth permitting him no discretion with respect to the penalty to be imposed. After the release of the jury, its members joined in a communication to the Chief Executive asking that the sentence be commuted to an imprisonment of six months. The trial judge addressed a similar communication to the Chief Executive. As yet no action with respect to these pleas has been taken, as the Chief Executive is apparently awaiting our disposition of this petition of error.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It seems to me that in dealing with this extraordinary case the jury and the trial judge followed a course that was not only fair and wise, but the only course that was open to them under the law. The language of our statute is well known: "Whoever shall willfully take the life of another shall be punished by death." N. C. S. A. (N. S.) § 12-A. This statute permits of no exception applicable to this case, however our sympathies may incline us to make allowance for the tragic situation in which these men found themselves.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In a case like this the principle of executive clemency seems admirably suited to mitigate the rigors of the law, and I propose to my colleagues that we follow the example of the jury and the trial judge by joining in the communications they have addressed to the Chief Executive. There is every reason to believe that these requests for clemency will be heeded, coming as they do from those who have studied the case and had an opportunity to become thoroughly acquainted with all its circumstances. It is highly improbable that the Chief Executive would deny these requests unless he were himself to hold hearings at least as extensive as those involved in the trial below, which lasted for three months. The holding of such hearings (which would virtually amount to a retrial of the case) would scarcely be compatible with the function of the Executive as it is usually conceived. I think we may therefore assume that some form of clemency will be extended to these defendants. If this is done, then justice will be accomplished without impairing either the letter or spirit of our statutes and without offering any encouragement for the disregard of law.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FOSTER, J.   I am shocked that the Chief Justice, in an effort to escape the embarrassments of this tragic case, should have adopted, and should have proposed to his colleagues, an expedient at once so sordid and so obvious. I believe something more is on trial in this case than the fate of these unfortunate explorers; that is the law of our Commonwealth. If this Court declares that under our law these men have committed a crime, then our law is itself convicted in the tribunal of common sense, no matter what happens to the individuals involved in this petition of error. For us to assert that the law we uphold and expound compels us to a conclusion we are ashamed of, and from which we can only escape by appealing to a dispensation resting within the personal whim of the Executive, seems to me to amount to an admission that the law of this Commonwealth no longer pretends to incorporate justice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For myself, I do not believe that our law compels the monstrous conclusion that these men are murderers. I believe, on the contrary, that it declares them to be innocent of any crime. I rest this conclusion on two independent grounds, either of which is of itself sufficient to justify the acquittal of these defendants.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first of these grounds rests on a premise that may arouse opposition until it has been examined candidly. I take the view that the enacted or positive law of this Commonwealth, including all of its statutes and precedents, is inapplicable to this case, and that the case is governed instead by what ancient writers in Europe and America called "the law of nature."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This conclusion rests on the proposition that our positive law is predicated on the possibility of men's coexistence in society. When a situation arises in which the coexistence of men becomes impossible, then a condition that underlies all of our precedents and statutes has ceased to exist. When that condition disappears, then it is my opinion that the force of our positive law disappears with it. We are not accustomed to applying the maxim cessante ratione legis, cessat et ipsa lex to the whole of our enacted law, but I believe that this is a case where the maxim should be so applied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The proposition that all positive law is based on the possibility of men's coexistence has a strange sound, not because the truth it contains is strange, but simply because it is a truth so obvious and pervasive that we seldom have occasion to give words to it. Like the air we breathe, it so pervades our environment that we forget that it exists until we are suddenly deprived of it. Whatever particular objects may be sought by the various branches of our law, it is apparent on reflection that all of them are directed toward facilitating and improving men's coexistence and regulating with fairness and equity the relations of their life in common. When the assumption that men may live together loses its truth, as it obviously did in this extraordinary situation where life only became possible by the taking of life, then the basic premises underlying our whole legal order have lost their meaning and force.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Had the tragic events of this case taken place a mile beyond the territorial limits of our Commonwealth, no one would pretend that our law was applicable to them. We recognize that jurisdiction rests on a territorial basis. The grounds of this principle are by no means obvious and are seldom examined. I take it that this principle is supported by an assumption that it is feasible to impose a single legal order upon a group of men only if they live together within the confines of a given area of the earth's surface. The premise that men shall coexist in a group underlies, then, the territorial principle, as it does all of law. Now I contend that a case may be removed morally from the force of a legal order, as well as geographically. If we look to the purposes of law and government, and to the premises underlying ourpositive law, these men when they made their fateful decision were as remote from our legal order as if they had been a thousand miles beyond our boundaries. Even in a physical sense, their underground prison was separated from our courts and writ-servers by a solid curtain of rock that could be removed only after the most extraordinary expenditures of time and effort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I conclude, therefore, that at the time Roger Whetmore's life was ended by these defendants, they were, to use the quaint language of nineteenth-century writers, not in a "state of civil society" but in a "state of nature." This has the consequence that the law applicable to them is not the enacted and established law of this Commonwealth, but the law derived from those principles that were appropriate to their condition. I have no hesitancy in saying that under those principles they were guiltless of any crime.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What these men did was done in pursuance of an agreement accepted by all of them and first proposed by Whetmore himself. Since it was apparent that their extraordinary predicament made inapplicable the usual principles that regulate men's relations with one another, it was necessary for them to draw, as it were, a new charter of government appropriate to the situation in which they found themselves.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It has from antiquity been recognized that the most basic principle of law or government is to be found in the notion of contract or agreement. Ancient thinkers, especially during the period from 1600 to 1900, used to base government itself on a supposed original social compact. Skeptics pointed out that this theory contradicted the known facts of history, and that there was no scientific evidence to support the notion that any government was ever founded in the manner supposed by the theory. Moralists replied that, if the compact was a fiction from a historical point of view, the notion of compact or agreement furnished the only ethical justification on which the powers of government, which include that of taking life, could be rested. The powers of government can only be justified morally on the ground that these are powers that reasonable men would agree upon and accept if they were faced with the necessity of constructing anew some order to make their life in common possible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fortunately, our Commonwealth is not bothered by the perplexities that beset the ancients. We know as a matter of historical truth that our government was founded upon a contract or free accord of men. The archeological proof is conclusive that in the first period following the Great Spiral the survivors of that holocaust voluntarily came together and drew up a charter of government. Sophistical writers have raised questions as to the power of those remote contractors to bind future generations, but the fact remains that our government traces itself back in an unbroken line to that original charter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If, therefore, our hangmen have the power to end men's lives, if our sheriffs have the power to put delinquent tenants in the street, if our police have the power to incarcerate the inebriated reveler, these powers find their moral justification in that original compact of our forefathers. If we can find no higher source for our legal order, what higher source should we expect these starving unfortunates to find for the order they adopted for themselves?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I believe that the line of argument I have just expounded permits of no rational answer. I realize that it will probably be received with a certain discomfort by many who read this opinion, who will be inclined to suspect that some hidden sophistry must underlie a demonstration that leads to so many unfamiliar conclusions. The source of this discomfort is, however, easy to identify. The usual conditions of human existence incline us to think of human life as an absolute value, not to be sacrificed under any circumstances. There is much that is fictitious about this conception even when it is applied to the ordinary relations of society. We have an illustration of this truth in the very case before us. Ten workmen were killed in the process of removing the rocks from the opening to the cave. Did not the engineers and government officials who directed the rescue effort know that the operations they were undertaking were dangerous and involved a serious risk to the lives of the workmen executing them? If it was proper that these ten lives should be sacrificed to save the lives of five imprisoned explorers, why then are we told it was wrong for these explorers to carry out an arrangement which would save four lives at the cost of one?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Every highway, every tunnel, every building we project involves a risk to human life. Taking these projects in the aggregate, we can calculate with some precision how many deaths the construction of them will require; statisticians can tell you the average cost in human lives of a thousand miles of a four-lane concrete highway. Yet we deliberately and knowingly incur and pay this cost on the assumption that the values obtained for those who survive outweigh the loss. If these things can be said of a society functioning above ground in a normal and ordinary manner, what shall we say of the supposed absolute value of a human life in the desperate situation in which these defendants and their companion Whetmore found themselves?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This concludes the exposition of the first ground of my decision. My second ground proceeds by rejecting hypothetically all the premises on which I have so far proceeded. I concede for purposes of argument that I am wrong in saying that the situation of these men removed them from the effect of our positive law, and I assume that the Consolidated Statutes have the power to penetrate five hundred feet of rock and to impose themselves upon these starving men huddled in their underground prison.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now it is, of course, perfectly clear that these men did an act that violates the literal wording of the statute which declares that he who "shall willfully take the life of another" is a murderer. But one of the most ancient bits of legal wisdom is the saying that a man may break the letter of the law without breaking the law itself. Every proposition of positive law, whether contained in a statute or a judicial precedent, is to be interpreted reasonably, in the light of its evident purpose. This is a truth so elementary that it is hardly necessary to expatiate on it. Illustrations of its application are numberless and are to be found in every branch of the law. In Commonwealth v. Staymore the defendant was convicted under a statute making it a crime to leave one's car parked in certain areas for a period longer than two hours. The defendant had attempted to remove his car, but was prevented from doing so because the streets were obstructed by a political demonstration in which he took no part and which he had no reason to anticipate. His conviction was set aside by this Court, although his case fell squarely within the wording of the statute. Again, in Fehler v. Neegas there was before this Court for construction a statute in which the word "not" had plainly been transposed from its intended position in the final and most crucial section of the act. This transposition was contained in all the successive drafts of the act, where it was apparently overlooked by the draftsmen and sponsors of the legislation. No one was able to prove how the error came about, yet it was apparent that, taking account of the contents of the statute as a whole, an error had been made, since a literal reading of the final clause rendered it inconsistent with everything that had gone before and with the object of the enactment as stated in its preamble. This Court refused to accept a literal interpretation of the statute, and in effect rectified its language by reading the word "not" into the place where it was evidently intended to go.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The statute before us for interpretation has never been applied literally. Centuries ago it was established that a killing in self-defense is excused. There is nothing in the wording of the statute that suggests this exception. Various attempts have been made to reconcile the legal treatment of self-defense with the words of the statute, but in my opinion these are all merely ingenious sophistries. The truth is that the exception in favor of self-defense cannot be reconciled with the words of the statute, but only with its purpose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The true reconciliation of the excuse of self-defense with the statute making it a crime to kill another is to be found in the following line of reasoning. One of the principal objects underlying any criminal legislation is that of deterring men from crime. Now it is apparent that if it were declared to be the law that a killing in self-defense is murder such a rule could not operate in a deterrent manner. A man whose life is threatened will repel his aggressor, whatever the law may say. Looking therefore to the broad purposes of criminal legislation, we may safely declare that this statute was not intended to apply to cases of self-defense.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When the rationale of the excuse of self-defense is thus explained, it becomes apparent that precisely the same reasoning is applicable to the case at bar. If in the future any group of men ever find themselves in the tragic predicament of these defendants, we may be sure that their decision whether to live or die will not be controlled by the contents of our criminal code. Accordingly, if we read this statute intelligently it is apparent that it does not apply to this case. The withdrawal of this situation from the effect of the statute is justified by precisely the same considerations that were applied by our predecessors in office centuries ago to the case of self-defense.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are those who raise the cry of judicial usurpation whenever a court, after analyzing the purpose of a statute, gives to its words a meaning that is not at once apparent to the casual reader who has not studied the statute closely or examined the objectives it seeks to attain. Let me say emphatically that I accept without reservation the proposition that this Court is bound by the statutes of our Commonwealth and that it exercises its powers in subservience to the duly expressed will of the Chamber of Representatives. The line of reasoning I have applied above raises no question of fidelity to enacted law, though it may possibly raise a question of the distinction between intelligent and unintelligent fidelity. No superior wants a servant who lacks the capacity to read between the lines. The stupidest housemaid knows that when she is told "to peel the soup and skim the potatoes" her mistress does not mean what she says. She also knows that when her master tells her to "drop everything and come running" he has overlooked the possibility that she is at the moment in the act of rescuing the baby from the rain barrel. Surely we have a right to expect the same modicum of intelligence from the judiciary. The correction of obvious legislative errors or oversights is not to supplant the legislative will, but to make that will effective.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I therefore conclude that on any aspect under which this case may be viewed these defendants are innocent of the crime of murdering Roger Whetmore, and that the conviction should be set aside.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TATTING, J.   In the discharge of my duties as a justice of this Court, I am usually able to dissociate the emotional and intellectual sides of my reactions, and to decide the case before me entirely on the basis of the latter. In passing on this tragic case I find that my usual resources fail me. On the emotional side I find myself torn between sympathy for these men and a feeling of abhorrence and disgust at the monstrous act they committed. I had hoped that I would be able to put these contradictory emotions to one side as irrelevant, and to decide the case on the basis of a convincing and logical demonstration of the result demanded by our law. Unfortunately, this deliverance has not been vouchsafed me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As I analyze the opinion just rendered by my brother Foster, I find that it is shot through with contradictions and fallacies. Let us begin with his first proposition: these men were not subject to our law because they were not in a "state of civil society" but in a "state of nature." I am not clear why this is so, whether it is because of the thickness of the rock that imprisoned them, or because they were hungry, or because they had set up a "new charter of government" by which the usual rules of law were to be supplanted by a throw of the dice. Other difficulties intrude themselves. If these men passed from the jurisdiction of our law to that of "the law of nature," at what moment did this occur? Was it when the entrance to the cave was blocked, or when the threat of starvation reached a certain undefined degree of intensity, or when the agreement for the throwing of the dice was made? These uncertainties in the doctrine proposed by my brother are capable of producing real difficulties. Suppose, for example, one of these men had had his twenty-first birthday while he was imprisoned within the mountain. On what date would we have to consider that he had attained his majority - when he reached the age of twenty-one, at which time he was, by hypothesis, removed from the effects of our law, or only when he was released from the cave and became again subject to what my brother calls our "positive law"? These difficulties may seem fanciful, yet they only serve to reveal the fanciful nature of the doctrine that is capable of giving rise to them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But it is not necessary to explore these niceties further to demonstrate the absurdity of my brother's position. Mr. Justice Foster and I are the appointed judges of a court of the Commonwealth of Newgarth, sworn and empowered to administer the laws of that Commonwealth. By what authority do we resolve ourselves into a Court of Nature? If these men were indeed under the law of nature, whence comes our authority to expound and apply that law? Certainly we are not in a state of nature.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let us look at the contents of this code of nature that my brother proposes we adopt as our own and apply to this case. What a topsy-turvy and odious code it is! It is a code in which the law of contracts is more fundamental than the law of murder. It is a code under which a man may make a valid agreement empowering his fellows to eat his own body. Under the provisions of this code, furthermore, such an agreement once made is irrevocable, and if one of the parties attempts to withdraw, the others may take the law into their own hands and enforce the contract by violence - for though my brother passes over in convenient silence the effect of Whetmore's withdrawal, this is the necessary implication of his argument.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The principles my brother expounds contain other implications that cannot be tolerated. He argues that when the defendants set upon Whetmore and killed him (we know not how, perhaps by pounding him with stones) they were only exercising the rights conferred upon them by their bargain. Suppose, however, that Whetmore had had concealed upon his person a revolver, and that when he saw the defendants about to slaughter him he had shot them to death in order to save his own life. My brother's reasoning applied to these facts would make Whetmore out to be a murderer, since the excuse of self-defense would have to be denied to him. If his assailants were acting rightfully in seeking to bring about his death, then of course he could no more plead the excuse that he was defending his own life than could a condemned prisoner who struck down the executioner lawfully attempting to place the noose about his neck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All of these considerations make it impossible for me to accept the first part of my brother's argument. I can neither accept his notion that these men were under a code of nature which this Court was bound to apply to them, nor can I accept the odious and perverted rules that he would read into that code. I come now to the second part of my brother's opinion, in which he seeks to show that the defendants did not violate the provisions of N. C. S. A. (N. S.) § 12-A. Here the way, instead of being clear, becomes for me misty and ambiguous, though my brother seems unaware of the difficulties that inhere in his demonstrations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The gist of my brother's argument may be stated in the following terms: No statute, whatever its language, should be applied in a way that contradicts its purpose. One of the purposes of any criminal statute is to deter. The application of the statute making it a crime to kill another to the peculiar facts of this case would contradict this purpose, for it is impossible to believe that the contents of the criminal code could operate in a deterrent manner on men faced with the alternative of life or death. The reasoning by which this exception is read into the statute is, my brother observes, the same as that which is applied in order to provide the excuse of self-defense.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the face of things this demonstration seems very convincing indeed. My brother's interpretation of the rationale of the excuse of self-defense is in fact supported by a decision of this court, Commonwealth v. Parry, a precedent I happened to encounter in my research on this case. Though Commonwealth v. Parry seems generally to have been overlooked in the texts and subsequent decisions, it supports unambiguously the interpretation my brother has put upon the excuse of self-defense.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now let me outline briefly, however, the perplexities that assail me when I examine my brother's demonstration more closely. It is true that a statute should be applied in the light of its purpose, and that one of the purposes of criminal legislation is recognized to be deterrence. The difficulty is that other purposes are also ascribed to the law of crimes. It has been said that one of its objects is to provide an orderly outlet for the instinctive human demand for retribution. Commonwealth v. Scape. It has also been said that its object is the rehabilitation of the wrongdoer. Commonwealth v. Makeover. Other theories have been propounded. Assuming that we must interpret a statute in the light of its purpose, what are we to do when it has many purposes or when its purposes are disputed?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A similar difficulty is presented by the fact that although there is authority for my brother's interpretation of the excuse of self-defense, there is other authority which assigns to that excuse a different rationale. Indeed, until I happened on Commonwealth v. Parry I had never heard of the explanation given by my brother. The taught doctrine of our law schools, memorized by generations of law students, runs in the following terms: The statute concerning murder requires a "willful" act. The man who acts to repel an aggressive threat to his own life does not act "willfully," but in response to an impulse deeply ingrained in human nature. I suspect that there is hardly a lawyer in this Commonwealth who is not familiar with this line of reasoning, especially since the point is a great favorite of the bar examiners.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now the familiar explanation for the excuse of self-defense just expounded obviously cannot be applied by analogy to the facts of this case. These men acted not only "willfully" but with great deliberation and after hours of discussing what they should do. Again we encounter a forked path, with one line of reasoning leading us in one direction and another in a direction that is exactly the opposite. This perplexity is in this case compounded, as it were, for we have to set off one explanation, incorporated in a virtually unknown precedent of this Court, against another explanation, which forms a part of the taught legal tradition of our law schools, but which, so far as I know, has never been adopted in any judicial decision.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-4358425530456317990?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/4358425530456317990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=4358425530456317990' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/4358425530456317990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/4358425530456317990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/this-is-good.html' title='This is GOOD'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-5240692983039941367</id><published>2010-08-13T19:03:00.000+07:00</published><updated>2010-08-13T19:07:43.212+07:00</updated><title type='text'>TGIF 13</title><content type='html'>Thank God It's Friday 13!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I never been into horoscope. Literally.&lt;br /&gt;But today's daily horoscope is something.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be more forgiving of yourself today, Scorpio. You always expect perfection, and usually that's what you accomplish. But perfectionism has its price. If you aren't totally pleased with the way you handle every challenge you face this morning and afternoon, don't obsess over what went wrong. Instead, focus on what you did well, and rest assured there will be a lot of it. Tonight, when you go over your day in your mind, think about the high points, not the low points. It' better to fall asleep with a sense of accomplishment rather than thinking about any perceived failures.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-5240692983039941367?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/5240692983039941367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=5240692983039941367' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5240692983039941367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5240692983039941367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/tgif-13.html' title='TGIF 13'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-1285498799025699590</id><published>2010-08-13T12:02:00.000+07:00</published><updated>2010-08-13T12:05:08.067+07:00</updated><title type='text'>FYI</title><content type='html'>I hate insensitivity. Sadly, it keeps coming. Riding on someone's back, and then somebody else, and another somebody else(s). &lt;br /&gt;:(&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-1285498799025699590?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/1285498799025699590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=1285498799025699590' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1285498799025699590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1285498799025699590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/fyi.html' title='FYI'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-3089368755993175088</id><published>2010-08-11T19:25:00.000+07:00</published><updated>2010-08-11T19:41:01.751+07:00</updated><title type='text'>Probs?</title><content type='html'>It hurts when you lose your weight easily but it takes gazillions efforts to gain your weight back. *Frustated&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-3089368755993175088?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/3089368755993175088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=3089368755993175088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3089368755993175088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3089368755993175088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/probs.html' title='Probs?'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-7378271271467190093</id><published>2010-08-11T16:01:00.001+07:00</published><updated>2010-08-11T16:05:30.690+07:00</updated><title type='text'>Song of the Day (2)</title><content type='html'>Superman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I can’t stand to fly&lt;br /&gt;I’m not that naive&lt;br /&gt;I’m just out to find&lt;br /&gt;The better part of me &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m more than a bird…I’m more than a plane&lt;br /&gt;I'm more than some pretty face beside a train&lt;br /&gt;It’s not easy to be me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I wish that I could cry&lt;br /&gt;Fall upon my knees&lt;br /&gt;Find a way to lie&lt;br /&gt;About a home I’ll never see &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It may sound absurd…but don’t be naive&lt;br /&gt;Even heroes have the right to bleed&lt;br /&gt;I may be disturbed…but won’t you concede&lt;br /&gt;Even heroes have the right to dream&lt;br /&gt;And it’s not easy to be me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Up, up and away…away from me&lt;br /&gt;Well it’s all right…You can all sleep sound tonight&lt;br /&gt;I’m not crazy…or anything… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I can’t stand to fly&lt;br /&gt;I’m not that naive&lt;br /&gt;Men weren’t meant to ride&lt;br /&gt;With clouds between their knees &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m only a man in a silly red sheet&lt;br /&gt;Digging for kryptonite on this one way street&lt;br /&gt;Only a man in a funny red sheet&lt;br /&gt;Looking for special things inside of me &lt;br /&gt;inside of me ...... inside of me ...ya inside of me... inside..of me &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m only a man in a funny red sheet&lt;br /&gt;I’m only a man looking for a dream&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m only a man in a funny red sheet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s not easy ... wu.. hoo.. hoo..&lt;br /&gt;It’s not easy to be.. me...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*one of my teammate loves this. Very.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-7378271271467190093?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/7378271271467190093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=7378271271467190093' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7378271271467190093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7378271271467190093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/song-of-day-2_11.html' title='Song of the Day (2)'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-6265367954592881438</id><published>2010-08-10T22:11:00.000+07:00</published><updated>2010-08-10T22:12:06.453+07:00</updated><title type='text'>Why So Serious?</title><content type='html'>Sebetulnya saya sudah muak melihat berbagai pemberitaan di media massa. &lt;br /&gt;Rakyat mati akibat alasan konyol. Lahan ameliorasi kebaikan pemerintah justru menjadi buerang ketika pemerintah tidak jeli melihat situasi di lapangan. Sebagai pemimpin, mestinya presiden memperhatikan bagaimana sebuah proposal diimplementasikan, sehingga pada akhirnya nilai filosofis konversi minyak tanah ke gas elpiji, berjalan secara simultan di tataran praksisnya. Parodi ledakan tabung gas dari rumah ke rumah menjadi hal yang bukan lagi mengagetkan. “ Ya, berita terakhir, sudah berkurang korbannya, semalam hanya ada satu saya dengar...” Tandas seorang wanita nomor satu di wilayah usaha pertambangan dan gas bumi nasional. Tetap memasang senyum cantik di kamera. Seolah tak terjadi apa- apa. Padahal mungkin saja bayi- bayi yang tidak berdosa yang kehilangan lahan hidupnya tengah mengutuk beberapa kepala dari alam kubur sana. &lt;br /&gt;Rakyat bercerai berai karena perbedaan selera. Agama tidak ada bedanya dengan selera. Selera manusia menganggap pencarian atas kebenaran. Setiap manusia memiliki versi kebenaran yang ia yakini sepenuhnya. Konsepsi mengenai agama sebenarnya merupakan hal yang paling dewasa apabila kita mengakui adanya perbedaan selera tersebut. Sekarag bukan lagi zamannya manusia ber-KTP saling tuding dan bahkan adu jotos karena perbedaan selera. Atau mungkin saya salah, sebenarnya budaya ricuh karena perbedaan selera itu sudah membudaya? Saya miris melihat salah satu organisasi masyarakat yang mengaku membela salah satu agama, menjadi kian dibenci oleh masyarakat Indonesia yang plural. Padahal saya yakin, fondasi ormas tersebut berdiri bukanlah untuk dibenci, melainkan untuk menyebarkan ide-ide konstruktif kepada masyarakat melalui jalur religi. Saya yakin benar itu. Terlebih ketika ormas ini dituding sebagai prototype agama tertentu secara keseluruhan. Sepertinya hal ini harus segera diluruskan. Salient majority tetap moderat, saya kira. Tetapi ya, begitu. Salient sekaligus silent. Tidak meluluu nyaman berkoar seperti ekstrimis, katanya. &lt;br /&gt;Begini. Kalau mau membuat kebebasan agama, kebebasan selera, atau apapunlah namanya menjadi budaya, marilah kita bentuk terlebih dahulu social order yang baru. Untuk membentuk social order, perlu social contract terlebih dahulu. New social contract, then come new social order. Perlu bermain cerdas di level legal formal untuk melangkah lebih jauh ke cita-cita ini. Tidak cukup hanya menggumam atau berkoar di segala social network yang ada, karena jelas itu hanya berfungsi meningkatkan kesadaran individu, bukan merubah social order. Jika anda pro kebebasan selera, mulailah menyiapkan argumen terbaik anda untuk dikemukakan sebagai kausa penting di gedung DPR/MPR sana. Agar menghasilkan sebuah rumusan yang disetujui segenap masyarakat, bukan pernyataan belaka yang menjadi (terkadang) trending topik di jejaring sosial.&lt;br /&gt;Terakhir, mengenai bapak suri. Saya tidak habis pikir mengapa bapak suri kita lebih suka ‘curhat’ dibandingkan dengan mengurusi rakyat. Mungkin bapak benar, curhat bisa melegakan pikiran. Namun ketika bapak curhat, 300 juta penduduk menjadi cemas dibuatnya. Tidak heran mengapa teroris begitu gemas terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I might be wrong. Why so serious?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-6265367954592881438?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/6265367954592881438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=6265367954592881438' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/6265367954592881438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/6265367954592881438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/why-so-serious.html' title='Why So Serious?'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-7275145750761841462</id><published>2010-08-09T18:03:00.001+07:00</published><updated>2010-08-09T18:06:46.523+07:00</updated><title type='text'>Word of the Day</title><content type='html'>COMPASSION. A strong word with a gentle understanding combines with powerful action of love.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maylaffayza&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-7275145750761841462?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/7275145750761841462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=7275145750761841462' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7275145750761841462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7275145750761841462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/word-of-day.html' title='Word of the Day'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-8579178399696223266</id><published>2010-08-08T22:58:00.000+07:00</published><updated>2010-08-08T23:15:57.788+07:00</updated><title type='text'>Sembilan</title><content type='html'>Saya cinta angka sembilan.&lt;br /&gt;Sembilan. Terdengar tidak munafik. Sembilan. Jarang sekali saya menemukan konotasi negatif berbilang sembilan. Sembilan itu realistis. Sembilan itu humanis. Sembilan itu cantik dan elegan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan itu satu ditambah delapan, dua ditambah tujuh, tiga ditambah enam, empat ditambah lima, lima ditambah empat, enam ditambah tiga, tujuh ditambah dua, delapan ditambah satu. Sembilan ditambah nol. Sembilan itu universal. Sembilan itu akomodatif. Semua angka bisa digandengnya bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan itu batas rasional yang membuat manusia itu manusia. Bukan mesin atau nabi. Bukan malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan. Saya cinta angka ini. Beruntung sekali saya lahir di tanggal sembilan. Semoga saya dapat mewarisi sifat- sifat mulia angka ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-8579178399696223266?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/8579178399696223266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=8579178399696223266' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8579178399696223266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8579178399696223266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/sembilan.html' title='Sembilan'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-2853075924409770730</id><published>2010-08-07T12:44:00.000+07:00</published><updated>2010-08-07T12:46:47.381+07:00</updated><title type='text'>Warna-Warni Hari Ini</title><content type='html'>Hari ini sungguh berwarna-warni.&lt;br /&gt;Saya diundang ke sebuah acara Halal Bi Halal Pra Ramadhan sebuah maskapai penerbangan yang cukup ternama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan disini sebenarnya inti ceritanya. Saya tidak terlalu nyaman sebenarnya untuk berkumpul disini, namun ini ialah suatu kewajiban moral bagi saya untuk memenuhi sebuah undangan saja. Terlebih undangan seseorang yang sangat saya hormati. Seorang kapten senior. Seorang....aaaah. Ayahnya seseorang yang pernah mengisi hidup saya. Bersama ibu. Kedua individu yang benar-benar saya hormati dan sayangi seperti orang tua saya sendiri. Begitupun mereka. Sayang sekali anaknya yang seharusnya menjadi tokoh sentral disini, ternyata tidak demikian di hati saya. Kami. Hati kami tidak menyatu, seperti layaknya hati saya menyatu dengan ayah dan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal tadi perbincangan kami agak kaku. Lalu sempat menjadi kaku. Cair. Lalu kaku lagi. Lalu kini datar. Saya paling tidak nyaman apabila mereka mulai menyinggung masa lalu. Saya dengan putranya. Ingin pergi dari sini saya rasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I moved on. Maaf yaa tante dan om.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:(&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-2853075924409770730?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/2853075924409770730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=2853075924409770730' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2853075924409770730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2853075924409770730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/warna-warni-hari-ini.html' title='Warna-Warni Hari Ini'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-1638901350367302570</id><published>2010-08-05T18:42:00.000+07:00</published><updated>2010-08-05T18:46:05.928+07:00</updated><title type='text'>Paradoks</title><content type='html'>Saya pergi berlibur ke rumah nenek. Itukah kalimat yang sering kita buat sebagai tugas Bahasa Indonesia di awal masuk kelas setelah liburan? Tidak sepenuhnya klise. Saya hari ini melakukannya.&lt;br /&gt;Bedanya, saya bercerita bukan di buku tugas bersampul coklat setelah mendengar mandat dari ibu guru, tetapi saya menulisnya di sudut ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang berubah. Posisi interior maupun eksterior rumah ini masih sama. Aroma cuaca dan kelembapan udara masih terasa sama dan familiar. Perilaku para tetangga, ritme lalu lalang kendaraan di jalan raya terdekat, hingga pertanyaan dan kalimat sapa para tetangga ketika bertemu sayapun masihlah sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali satu.&lt;br /&gt;Kakek saya telah tiada. Paradoks. Ruangan ini tiba-tiba terasa asing saja. Sedikit asing tanpa kehadirannya. Sedikit asing tanpa dirinya yang biasa melantunkan ayat-ayat suci hingga larut malam di dekat ruang keluarga. Sedikit asing tanpa kisah-kisahnya mengenai masa mudanya dulu yang sebagai Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Sedikit asing tanpa pertanyaan-pertanyaannya mengenai UGM masa kini, dikomparasikan dengan UGM zaman dulu (yang membuat saya selalu teringat padanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikannya tempat terbaik disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-1638901350367302570?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/1638901350367302570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=1638901350367302570' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1638901350367302570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1638901350367302570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/paradoks.html' title='Paradoks'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-3716679488593237547</id><published>2010-08-04T21:36:00.000+07:00</published><updated>2010-08-04T21:38:36.131+07:00</updated><title type='text'>Mengukur Kadar Kecintaan Itu Mudah</title><content type='html'>Bagaimana ya?&lt;br /&gt;Hati Anda pasti lebih tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-3716679488593237547?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/3716679488593237547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=3716679488593237547' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3716679488593237547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3716679488593237547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/mengukur-kadar-kecintaan-itu-mudah.html' title='Mengukur Kadar Kecintaan Itu Mudah'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-8299515438773213332</id><published>2010-08-04T09:57:00.000+07:00</published><updated>2010-08-04T10:25:09.065+07:00</updated><title type='text'>Kutipan Manis</title><content type='html'>Sebelum saya lupa, biarkan saya menulis kutipan manis ini, dari seorang teman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan ketika cintamu tidak berbalas. Kamu hanya kehilangan seseorang yang tidak mencintaimu, sedangkan dia? Dialah orang yang harusnya menyesal karena menyia-nyiakan orang yang sangat mencintainya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepenuhnya benar, tetapi, seperti yang sudah saya kemukakan di awal, ini kutipan MANIS, bukan kutipan benar. Kalau ada yang menganggap benar ya tidak apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima Kasih, teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-8299515438773213332?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/8299515438773213332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=8299515438773213332' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8299515438773213332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8299515438773213332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/kutipan-manis.html' title='Kutipan Manis'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-3162183575353247170</id><published>2010-08-04T07:17:00.000+07:00</published><updated>2010-08-04T07:18:53.588+07:00</updated><title type='text'>Song of the Day</title><content type='html'>Assassins&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Mayer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I work in the dead of night&lt;br /&gt;When the roads are quiet&lt;br /&gt;And no one is around&lt;br /&gt;To track my moves&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Racing the yellow lights&lt;br /&gt;To find the gate is open&lt;br /&gt;She's waiting in the room&lt;br /&gt;I just slip on through&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You get in, you get done&lt;br /&gt;And then you get gone&lt;br /&gt;You never leave a trace&lt;br /&gt;Or show your face, you get gone&lt;br /&gt;Should have turned around&lt;br /&gt;And left before the sun came up again&lt;br /&gt;But the sun came up again&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Into the morning light&lt;br /&gt;To find the day is burning&lt;br /&gt;The curtains and the wine&lt;br /&gt;In a little white room&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No, I'm not alone&lt;br /&gt;Her head is heavy on me&lt;br /&gt;She's sleeping like a child&lt;br /&gt;What could I do?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You get in, you get done&lt;br /&gt;And then you get gone&lt;br /&gt;You never leave a trace&lt;br /&gt;Or show your face, you get gone&lt;br /&gt;Should have turned around&lt;br /&gt;And left before the sun came up again&lt;br /&gt;But the sun came up again&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was a killer, was the best they'd ever seen&lt;br /&gt;I'd steal your heart before you ever heard a thing&lt;br /&gt;I'm an assassin and I had a job to do&lt;br /&gt;Little did I know that girl was an assassin too&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suddenly, I'm in over my head&lt;br /&gt;And I can hardly breathe&lt;br /&gt;Suddenly, I'm floating over her bed&lt;br /&gt;And I feel everything&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And suddenly I know exactly what I did&lt;br /&gt;But I cannot move a thing&lt;br /&gt;And suddenly I know exactly what I've done&lt;br /&gt;And what it's gonna mean to me, mean to me&lt;br /&gt;I'm gone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was a killer, was the best they'd ever seen&lt;br /&gt;I'd steal your heart before you ever heard a thing&lt;br /&gt;I'm an assassin and I had a job to do&lt;br /&gt;Little did I know, that girl was an assassin too&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She's an assassin&lt;br /&gt;She's an assassin&lt;br /&gt;She's an assassin&lt;br /&gt;She's an assassin&lt;br /&gt;And she had a job to do&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-3162183575353247170?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/3162183575353247170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=3162183575353247170' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3162183575353247170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3162183575353247170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/song-of-day.html' title='Song of the Day'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-7072173075830448430</id><published>2010-08-04T07:03:00.000+07:00</published><updated>2010-08-04T07:15:35.313+07:00</updated><title type='text'>Yesterday was a Blast</title><content type='html'>Saya bingung harus memulainya dari mana. Entahlah. Ikuti saja alurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin kekhawatiran yang saya takutkan benar-benar terjadi. Saya pasrah. KHS semester ini telah berada di tangan orangtua saya. Terlihat menurun 0,12 poin dari semester lalu. Matilah saya, apakah gerangan yang akan terjadi nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tampak kecewa. Wajahnya datar. Justru itu yang membuat hati saya semakin teriris. Globalonia terima kasih telah menbuat hidupku rumit begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abang bilang "Sabar. Semua pasti ada hikmahnya. Dan hikmah itu akan selalu sulit jalannya. Butuh keikhlasan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's really hard for me to let it go.&lt;br /&gt;But, I'll try.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-7072173075830448430?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/7072173075830448430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=7072173075830448430' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7072173075830448430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7072173075830448430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/yesterday-was-blast.html' title='Yesterday was a Blast'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-5237649995147912038</id><published>2010-08-03T15:03:00.000+07:00</published><updated>2010-08-03T15:22:20.832+07:00</updated><title type='text'>Semudah Itukah Kita Menangis?</title><content type='html'>"Jangan nangis ah, cengeng!". Saya tidak selalu setuju dengan premis itu. Menangis bukan berarti cengeng. Menangis hanyalah mengeluarkan ekspresi secara sehat, dihiasi dengan beberapa butir cairan bening sebagai bumbunya. &lt;br /&gt;Setelah itu jangan tanya. Bahagia. Lepas. Lega. Berbeda dengan yang namanya cengeng. Cengeng itu larut dalam kekecewaan atau kesedihan tanpa berusaha bangkit darinya. Tetapi sekali lagi, itu tidak salah. Preferensi hidup.&lt;br /&gt;Termasuk siang tadi.&lt;br /&gt;Abang saya yang luar biasa itu baru saja memberi makan ikan-ikannya. Maksud saya, membuat postingan baru pada blognya. Abang saya menaruh sekotak akuarium imajiner di sudut kanan blognya. Ya, pokoknya begitulah.&lt;br /&gt;Saya melihat postingan teratas. Dan beberapa saat kemudian saya menangis. Saya benar-benar tidak menyangka abang saya ini menaruh segala detail momen kecil maupun besar yang kita alami dengan sangat detail. Dan rapi.&lt;br /&gt;Mengundang orang untuk berimajinasi dan masuk ke dalam ulasan singkat yang ia bicarakan di kotak kecil itu. &lt;br /&gt;Kali ini berbeda. Di sana, ia menaruh tiga potongan kisah kecil, salah satunya ia membicarakan mengenai sahabat saya, satunya lagi tentang seseorang, dan satunya lagi...............saya.  &lt;br /&gt;Abang selalu berhasil membuat saya tersenyum, menangis dan tertawa di saat yang bersamaan. Seperti abang bilang, "Friends are siblings God forgets to give us...". Mau lihat akuarium abang?&lt;br /&gt;www.its-nando.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-5237649995147912038?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/5237649995147912038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=5237649995147912038' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5237649995147912038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5237649995147912038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/semudah-itukah-kita-menangis.html' title='Semudah Itukah Kita Menangis?'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-6926068655575921589</id><published>2010-08-03T09:26:00.000+07:00</published><updated>2010-08-03T09:48:04.754+07:00</updated><title type='text'>Sepak Bola</title><content type='html'>Pernah merasakan hidup bersama 4 orang saudara kandung laki-laki yang gila sepak bola? Saya pernah. Literally gila. Pagi main bola. Pulang sekolah main bola.&lt;br /&gt;Sore bertanding sepak bola. Malam menonton sepak bola. Kalau tidak ada pertandingan, berarti ritmenya berpindah ke googling info terbaru sepak bola. Plus, teriak-teriak.&lt;br /&gt;"Aaaaaaaarghhh kenapa sih Fabregas?!" Atau "Aaaaaaargh main sih kayak banci lari!!!!!!" Yang paling parah "Sit? Wasit? Merem? Mati aja lo!...."&lt;br /&gt;Padahal sepertinya yang saya lihat wasitnya bekerja normal saja. Err, setidaknya, sepengetahuan saya. &lt;br /&gt;Di pagi ini ketika saya menulis ini, adik saya sedang bermain bola dengan kedua temannya di halaman rumah saya. Celotehan heboh dan suara bak buk bola menghentak permukaan terdengar begitu ritmis.&lt;br /&gt;Wajah mereka bahagia sekali. Seperti wajah pasangan di malam minggu. Benar, saya tidak berlebihan. Tetapi bedanya, mereka berkeringat. Dengan bonus berbau aneh. Ini bagian yang paling saya tidak suka.&lt;br /&gt;Tetapi skenario di atas hanya sesekali terjadi. Seringnya? Suara ricuh bocah ingusan berkonflik. "Kamu narik duluan sih..." Atau "Ummi....aku didoroooooong Putra...." Atau simply teriakan tangis kesakitan.&lt;br /&gt;Tetapi esoknya mereka bermain bersama lagi. Ini yang saya heran. Seandainya konflik orang dewasa bisa diselesaikan dengan tuntas dalam waktu sesingkat itu. Sesingkat anak-anak menyelesaikan konflik.&lt;br /&gt;Padahal sepertinya mereka terluka sekali ketika salah satu partnernya bermain tidak fair. Sama seperti orang dewasa. Salah satu rekan anda tidak fair, kita terluka. Sakit hati. Bisa memakan waktu cukup lama.&lt;br /&gt;Apa yang berbeda? Sepertinya anak-anak lebih cerdas dalam menyederhanakan masalah. Sepertinya anak-anak lebih mudah memaafkan, ya?&lt;br /&gt;Siapa sebenarnya yang masih anak-anak? Kita atau mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, hidup.&lt;br /&gt;Sepertinya kalau ada orang dewasa yang berkata: "kalian anak kecil tau apa?!"&lt;br /&gt;Saya, kalau berada di posisi itu, akan menjawab " Saya lebih tau bagaimana menyederhanakan masalah dan bagaimana memaafkan sesama.."&lt;br /&gt; :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love kids.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-6926068655575921589?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/6926068655575921589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=6926068655575921589' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/6926068655575921589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/6926068655575921589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/sepak-bola.html' title='Sepak Bola'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-7470320831635430462</id><published>2010-08-02T23:17:00.000+07:00</published><updated>2010-08-02T23:26:09.449+07:00</updated><title type='text'>Tidur Cantik</title><content type='html'>Sudah agak lama saya tidak merasakan tidur cantik. Yah, mau bagaimana lagi. Terkadang untuk mendapatkan hasil yang luarbiasa dalam hidup, &lt;br /&gt;apapun konteksnya, dibutuhkan pengorbanan. Kebanyakan yang dikorbankan ialah waktu tidur. Sebut saja waktu tidur saya sebulan lalu selama pelatihan JOVED- &lt;br /&gt;BIND- yang tidak lebih dari 3 atau 4 jam setiap hari. Kalaupun ada kesempatan tidur ekstra, tak pernah berkualitas tidurnya.&lt;br /&gt;Selalu terpikir banyak hal. Berkelibat berseliweran memaksa dahi saya terus berkerut sepanjang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya kembali bisa tidur cantik. Rumah. Libur. Keluarga. Senang. Tidur cantik. Saya senang sekali rasanya bisa mendapatkannya kembali setelah sekian lama.&lt;br /&gt;Termasuk malam ini. Semoga tidur saya cantik sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tidur cantik semuanya :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-7470320831635430462?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/7470320831635430462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=7470320831635430462' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7470320831635430462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7470320831635430462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/tidur-cantik.html' title='Tidur Cantik'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-5813049554512957271</id><published>2010-08-02T14:34:00.000+07:00</published><updated>2010-08-02T15:00:09.512+07:00</updated><title type='text'>Proses versus Hasil</title><content type='html'>Bagi saya keduanya matters. Orang bilang, jangan hanya melihat hasil, lihat prosesnya. Well, hasil itu menjelaskan proses.&lt;br /&gt;Hasil yang aneh memperlihatkan proses yang aneh pula. Hasil yang sempurna memperlihatkan proses yang sempurna pula.&lt;br /&gt;Atau sebaliknya? Pokoknya mereka mutually exclusive kalau salah satunya jelek. Begitu ayah saya menanamkan arti proses dan hasil&lt;br /&gt;semenjak saya kecil dulu.&lt;br /&gt;Pernah suatu saat saya kehilangan semangat. Nilai menurun. Penonton kecewa. Barulah ketika saya merasakan kekecewaan yang luar biasa, saya merubah ritme belajar saya serta merta.&lt;br /&gt;Waktu berganti, saya kembali mendapatkan posisi aman tersebut. Hal ini berbeda ceritanya dengan hal yang baru saja saya alami di semester 4 ini.&lt;br /&gt;Saya heran dengan satu mata kuliah ini. Biarkan saya sebut merek. Globalisasi judulnya. Singkat cerita, saya menemukan sebentuk huruf aneh di dalam KHS saya.&lt;br /&gt;Saya lantas mencari kejelasan pada tutor mata kuliah ini. Ada apakah gerangan. Dia bilang tidak tahu. Dia bilang dia tidak punya otoritas menentukan nilai akhir. Semua di tangan dosen.&lt;br /&gt;Saya tetap bertanya. Ah, dia bilang banyak mahasiswa yang nilainya jatuh pada bagian proyek kelas. Kalau memang proyek kelas, rasanya tidak mungkin. Seluruh anggota kelompok proyek kelas saya mendapatkan nilai nyaris sempurna.&lt;br /&gt;Apakah ada tugas yang barangkali tidak lengkap? Terselip? Tercecer? Terbuang?&lt;br /&gt;Saya benar-benar kesal. Saya datangi dosen yang terhormat. Saya tanyakan pada beliau mengenai perihal nilai saya. Bukannya kejelasan yang saya dapat, hanya beberapa kata saja:&lt;br /&gt;"Saya sibuk.." Kemudian beranjak pergi. Saya terhenyak bingung. Kepala ini panas rasanya. Tak lama kemudian saya dapati beliau yang terhormat sedang duduk bercengkrama dengan asyiknya.&lt;br /&gt;Mohon maaf saya mengusik KESIBUKAN anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skenario ini belum berakhir. Saya akan tetap menuntut penjelasan yang komprehensif dari beliau yang terhormat.&lt;br /&gt;Yang telah mengotori kepercayaan orangtua saya atas proses yang saya jalankan.&lt;br /&gt;It's not over (yet).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-5813049554512957271?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/5813049554512957271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=5813049554512957271' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5813049554512957271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5813049554512957271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/proses-versus-hasil.html' title='Proses versus Hasil'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-697480854759361647</id><published>2010-08-02T13:34:00.000+07:00</published><updated>2010-08-02T13:44:07.766+07:00</updated><title type='text'>Hampir Setahun Lalu</title><content type='html'>Semenjak saya memutuskan untuk mencoba jatuh cinta. Ah, bukan juga. Ternyata setelah empat bulan berlalu ternyata ia bukan cinta.&lt;br /&gt;Bukan asmara. Bukan pula coba-coba. Lalu apa namanya? Seseorang tadi siang mengingatkan saya pada sosok itu. Sosok yang saya beri selamat&lt;br /&gt;di hari pernikahannya. Semoga ia berbahagia. Nampaknya kami sedikit banyak bernasib serupa. Sedikit. Ditinggal. Klise sekali ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datar saja. Tak ada apa-apa. Tak ada luka. Tak ada haru biru tangis isak sedu sedan dan irama nestapa lainnya. Mungkin sinetron-sinetron kita&lt;br /&gt;Agak berlebihan bila menggambarkan ekspresi seorang tokoh yang ditinggal kekasihnya. Mungkin sinetron lupa memberikan sentuhan realistis&lt;br /&gt;di dalam plot besarnya. Move on. Lagi-lagi klise. Semudah itukah kita melupakan segalanya? Kenyatannya ya.&lt;br /&gt;Tunggu, apabila semudah itu kita lupa, apakah itu cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I might be wrong.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-697480854759361647?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/697480854759361647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=697480854759361647' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/697480854759361647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/697480854759361647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/hampir-setahun-lalu.html' title='Hampir Setahun Lalu'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-1971153105411647337</id><published>2010-08-02T07:40:00.000+07:00</published><updated>2010-08-02T07:45:08.201+07:00</updated><title type='text'>Lagu Sepanjang Masa</title><content type='html'>Ada lagu yang nangkring di playlist saya lamaaaa sekali.&lt;br /&gt;Tidak pernah saya remove. Setiap hari pasti saya putar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daughters&lt;br /&gt;John Mayer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I know a girl she puts the color inside of my world&lt;br /&gt;She's just like a maze, where all of the walls all continually change&lt;br /&gt;And I've done all I can to stand on the the steps, with my heart in my hands&lt;br /&gt;Now I started to think maybe it's got nothinging to do with me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fathers be good to your daughters&lt;br /&gt;Daughters will love like you do&lt;br /&gt;Girls become lovers, who turn into mothers&lt;br /&gt;So mothers be good to your daughters too&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh you see that skin, it's the same she's been standing in&lt;br /&gt;Since the day, she saw him walking away&lt;br /&gt;Now she's left cleaning up the mess he made&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So fathers be good to your daughters&lt;br /&gt;Daughters will love like you do&lt;br /&gt;Girls become lovers, who turn into mothers&lt;br /&gt;So mothers be good to your daughter too&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh&lt;br /&gt;Boys you can break find out how much they can take&lt;br /&gt;Boys will be strong, boys soldier on but&lt;br /&gt;Boys would be gone without warmth of a womans good good heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On behalf of every man looking out for every girl&lt;br /&gt;You are the god and the weight of the world&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So fathers be good to your daughters&lt;br /&gt;Daughters will love like you do&lt;br /&gt;Girls become lovers who turn into mothers&lt;br /&gt;So mothers be good to your daughters too&lt;br /&gt;So mothers be good to your daughters too&lt;br /&gt;So mothers be good to your daughters too&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waiting for the moment where I can sing this song together with my own daughter. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-1971153105411647337?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/1971153105411647337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=1971153105411647337' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1971153105411647337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1971153105411647337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/lagu-sepanjang-masa.html' title='Lagu Sepanjang Masa'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-4715305046357562590</id><published>2010-08-02T05:56:00.000+07:00</published><updated>2010-08-02T05:57:23.618+07:00</updated><title type='text'>Apa Mau Dikata?</title><content type='html'>Kenapa malas menulis? Nampaknya tidak ada justifikasi sebenarnya untuk mengelak. Malas. Ya, simply malas saja.&lt;br /&gt;Kenapa malas? Ini semua gara-gara twitter! Mungkin klise, tapi yaa mau bagaimana lagi? Kalau mau berhitung, 140 karakter&lt;br /&gt;Dikalikan dengan 17000 sekian tweets bisa cukup menyelesaikan skripsi, sebenarnya. Ahahaha.&lt;br /&gt;Berapa banyak waktu yang saya habiskan untuk berkicau di sana. Butuh stimulus untuk menulis lagi. Terima kasih untuk teman-teman yang sering mengingatkan. Yah, modem mati bukan alasan untuk tidak menulis lagi.&lt;br /&gt;Oke, mari berbagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Jojo Sinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya mungkin menarik. Full stop. Ketika media menggembar-gemborkannya dengan berlebihan, well..it's getting TOO MUCH.&lt;br /&gt;Saya heran mengapa media sebegitu aktifnya menilik fenomena ini untuk laik menjadi headline papan atas pemberitaan. Kalaupun ini menghebohkan, setidaknya taruhlah di berita feature ringan sebagai penghantar selesainya acara berita di tv. Berilah judul fenomena remaja masa kini. Atau, fenomena beracun. Atau, lypsinc video: tren menjiplak negara jiran. Ya apapun lah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tiba-tiba setiap hari berita itu tak kunjung berhenti. Berbeda dengan Tim Olimpiade Sains Nasional yang baru saja menorehkan prestasi yang hanya dimuat sesekali di TV. Berbeda dengan kasus konflik di Kyrgyztan atau Kenya yang hanya dimuat sesekali. Berbeda dengan kompetisi debat parlementer nasional yang hanya dimuat di stasiun TV lokal. Berbeda dengan UGM yang menjadi Juara Umum PIMNAS XXIII yang sama sekali tidak muncul di media nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengerti media punya kepentingan. Hak siar. Hak menentukan mana tayangan yang akan meraup rating dan membanjiri tawaran iklan. Akan tetapi, semua hal tersebut erat kaitannya dengan kondisi audiensnya. A.k.a masyarakat kita.&lt;br /&gt;Jadi, kalau media tetap memilih Jojo Sinta, mungkin karena memang masyarakat sebagian besar menikmatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa mau dikata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wait, Why so serious?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-4715305046357562590?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/4715305046357562590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=4715305046357562590' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/4715305046357562590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/4715305046357562590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/08/apa-mau-dikata.html' title='Apa Mau Dikata?'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-1141080404125282546</id><published>2010-03-25T01:26:00.004+07:00</published><updated>2010-03-25T01:48:08.916+07:00</updated><title type='text'>menulis lagi</title><content type='html'>sudah lama saya tidak membuka halaman ini. blog saya. hmm, kehadiran berbagai jejaring sosial menyita perhatian saya selama beberapa bulan belakangan ini. dimulai dari jejaring sosial facebook yang terkadang dunia maya ini terkesan lebih "publik" dibandingkan dengan ruang publik itu sendiri..hingga twitter yang membiarkan publik berkicau sesuka hati pada dinding ruang sempit berkarakter 140 saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baiklah, akan segera saya mulai lembaran baru ini. diawali dengan amanah yang baru saja saya pegang sebagai bentuk kepercayaan sekaligus apresiasi debater eds ugm terhadap sosok kecil yang mereka anggap mampu setidaknya dalam kurun waktu setahun dalam mengemban amanah sebagai presiden organisasi debat ugm ini. menjadi sosok yang memiliki legitimasi bukanlah sebuah privilage, melainkan sebaliknya, yakni siksaan. taruhannya ialah nama baik serta eksistensi diri sebagai individu, apakah mampu menghadapi segala tantangan dan tekanan yang diberikan alam, ataukah akan menyerah pada keputusasaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EDS UGM hadir sebagai sebuah tempat dimana aku dibesarkan, dimana segala pendewasaan terjadi, dimana aku menemukan keluargaku yang selanjutnya. setelah keluargaku, keluarga cahaya madani-ku, kini keluarga eds ugm-ku. dan berada di tengah-tengah masyarakat cendekia ini, kurang lebih ialah sebuah kehormatan, sekaligus keistimewaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puji dan syukur senantiasa kupanjatkan pada Allah SWT yang telah memberikan begitu banyak nikmat tiada tara yang tak akan hadir padanya dusta dan kesia-siaan, penghargaan dan terima kasih yang sedalam- dalamnya kuhaturkan pada sahabat, kakak, teman, saudara, senior...&lt;br /&gt;yang telah mengajariku arti kehidupan yang sesungguhnya, di alam yang mereka sebut kedewasaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernando Tampubolon&lt;br /&gt;Caessar Pronocitro&lt;br /&gt;Engelbertus Panggalo&lt;br /&gt;Yunizar Adiputera&lt;br /&gt;Novelisa Wirid&lt;br /&gt;Eldhianto Maulana Jusuf&lt;br /&gt;Tanti Kosmiyati&lt;br /&gt;Jessica Clara Shinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau ada surga di muka bumi, kalianlah surga yang Tuhan maksudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 1.45 AM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-1141080404125282546?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/1141080404125282546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=1141080404125282546' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1141080404125282546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1141080404125282546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2010/03/menulis-lagi.html' title='menulis lagi'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-5670838596615836685</id><published>2009-11-11T21:45:00.002+07:00</published><updated>2009-11-11T21:49:42.171+07:00</updated><title type='text'>ingat mati</title><content type='html'>gue udah lama banget terlalu lupa akan hal yang satu ini. setelah gue baca notes dari temen gue tadi pagi, gue nyadaaar banget gimana rasanya punya seseorang yang udah deket banget sama kita, terus tiba- tiba ninggalin kita gitu aja, ninggalin kita selamanya, diambil Yang Maha Kuasa. Setelah kakek gue pergi, kini aneh benar rasanya. main ke rumah nenek gue. cuma ada nenek. nenek aja. ga ada sosok pahlawan yang selalu ngelindungin nenek gue seumur hidupnya. nenek gue rapuh banget sekarang. keliatan banget dari nada suaranya pas ngomong di telefon. yah, gue emang belum sempet liat makam kakek gue. hmmm...&lt;br /&gt;dalam beberapa hari ini gue akan segera meluncur kesana. hope it will cure my emptiness.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-5670838596615836685?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/5670838596615836685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=5670838596615836685' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5670838596615836685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5670838596615836685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2009/11/ingat-mati.html' title='ingat mati'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-8524724617486882318</id><published>2009-11-03T01:16:00.001+07:00</published><updated>2009-11-03T01:16:36.064+07:00</updated><title type='text'>British Parliamentary System</title><content type='html'>Aku suka banget debat parlementer. Huhu. Terlebih British Parliamentary Debate. Wow. Love it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-8524724617486882318?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/8524724617486882318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=8524724617486882318' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8524724617486882318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8524724617486882318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2009/11/british-parliamentary-system.html' title='British Parliamentary System'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-7864656625205840036</id><published>2009-11-02T02:00:00.001+07:00</published><updated>2009-11-02T02:00:22.055+07:00</updated><title type='text'>I'm in love!</title><content type='html'>Well. It's kinda weird when i decided to go trough d mainstream and be back to d first page that listed every tiny little piece of my life. This particular site.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm tottally in it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibilang gara-gara gue baca blog heboh ucay yang isinya heboh, tapi ga segitu hebohnya juga sih. Ksks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The point is, i found my name listed on it! Apa apaan ini! Hah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahaha. It can't be that bad anyway. Walaupun agak lebai, temen gue yang rajin dan anak tipe harapan bangsa a.k.a ucay ini sedikit mengungkapkan impresinya terhadap gue. First till d last impression. Kenapa segitu lebainya yak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, gue akan bales juga sih, tunggu aja. Haha. Evil laugh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was overwhelming, but..&lt;br /&gt;Thanks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nitenite.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-7864656625205840036?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/7864656625205840036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=7864656625205840036' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7864656625205840036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7864656625205840036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2009/11/im-in-love_02.html' title='I&apos;m in love!'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-4747347475004206745</id><published>2009-11-02T01:52:00.000+07:00</published><updated>2009-11-02T01:59:57.061+07:00</updated><title type='text'>I'm in love!</title><content type='html'>Well. It's kinda weird when i decided to go trough d mainstream and be back to d first page that listed every tiny little piece of my life. This particular site.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm tottally in it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibilang gara-gara gue baca blog heboh ucay yang isinya heboh, tapi ga segitu hebohnya juga sih. Ksks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The point is, i found my name listed on it! Apa apaan ini! Hah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahaha. It can't be that bad anyway. Walaupun agak lebai, temen gue yang rajin dan anak tipe harapan bangsa a.k.a ucay ini sedikit mengungkapkan impresinya terhadap gue. First till d last impression. Kenapa segitu lebainya yak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, gue akan bales juga sih, tunggu aja. Haha. Evil laugh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was overwhelming, but..&lt;br /&gt;Thanks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nitenite.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-4747347475004206745?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/4747347475004206745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=4747347475004206745' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/4747347475004206745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/4747347475004206745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2009/11/im-in-love.html' title='I&apos;m in love!'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-1461190771303705692</id><published>2009-10-31T03:35:00.002+07:00</published><updated>2009-10-31T03:40:41.422+07:00</updated><title type='text'>LUCKY</title><content type='html'>entah kenapa yaaa. setelah hampir delapan belas tahun gue hidup di muka bumi ini, gue masih aja ngerasa jadi orang paling beruntung sedunia. jadi orang yang bisa bahagia dengan ukuran kebahagiaan yang gue bikin sendiri parameternya. jadi orang yang bisa berbagi, jadi orang yang ga pernah terjepit dalam suasana yang di luar prediksinya. hmm. apa cuma perasaan gue aja yaa? ah, life. it will always be unpredictable.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-1461190771303705692?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/1461190771303705692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=1461190771303705692' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1461190771303705692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1461190771303705692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2009/10/lucky.html' title='LUCKY'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-1428808389003800842</id><published>2009-10-31T03:19:00.002+07:00</published><updated>2009-10-31T03:27:07.991+07:00</updated><title type='text'>Kata Piyudh</title><content type='html'>hehe. katanya, si Shiva Dalam Dunia ini kok ga diurusin siih fii?&lt;br /&gt;haduh. susah yaa jawabnya. simply karena sekarang, aku kebanyakan heboh di situs jejaring sosial sih, yang udah ada fasilitas notes-nya segala, jadi bisa dibilang, fiturnya lengkap aja, seperti perkawinan antara blog, plus jejaring sosial. ehm, alasan kedua, aku kadang bingung mau nge-post apa. apa yaa? hariku cenderung biasa sih. tidak, tidak. hariku selalu luar biasa, jadi bingung mau nyeritain yang mana. kuliahku? selalu luarbiasa. adaa aja fenomena aneh yang terjadi pas seharian kuliah. dosen yang ngasih soal UTS aneh- aneh laah, fenomena berandalan elegan-lah, anak- anak HI 2008 yang bikin forum anti alay laah. ahahahhaa. semuanya selalu berwarna. keluarga EDS. heuuh. ini apalagi. terlalu seru kalo buat diceritain di sini. yang jelas, mereka memang bener- udah jadi keluargaku di Jogja. ga kebayang deh kalo aku ga ketemu dan gabung sama komunitas anak- anak kritis ini. euhh. i realize that...being with them is such...a gift.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-1428808389003800842?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/1428808389003800842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=1428808389003800842' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1428808389003800842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1428808389003800842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2009/10/kata-piyudh.html' title='Kata Piyudh'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-7923726181137226477</id><published>2009-05-19T10:46:00.000+07:00</published><updated>2009-05-19T10:51:10.325+07:00</updated><title type='text'>Lama tidak menulis</title><content type='html'>wah, sudah lama sekali tidak menulis. hiks, hiks.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-7923726181137226477?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/7923726181137226477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=7923726181137226477' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7923726181137226477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7923726181137226477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2009/05/lama-tidak-menulis.html' title='Lama tidak menulis'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-6822722124909890476</id><published>2008-09-03T21:04:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T21:11:19.675+07:00</updated><title type='text'>KETEMU</title><content type='html'>Alhamdulillah, semuanya telah kembali..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-6822722124909890476?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/6822722124909890476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=6822722124909890476' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/6822722124909890476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/6822722124909890476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/09/ketemu.html' title='KETEMU'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-2774971150750461874</id><published>2008-08-29T19:04:00.000+07:00</published><updated>2008-08-29T19:07:29.099+07:00</updated><title type='text'>Ya Allah, Inilah Peringatan dari-Mu...</title><content type='html'>&lt;div id="ln0"&gt;FLASHDISK URFI KETINGGALAN DI KELAS 1 B !!!!&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln0');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln1');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln2"&gt;SEMPURNA BANGET SIH HARI INI????&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln2');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln3');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln4"&gt;ADA YG NEMUIN???&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln4');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln5');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln6');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln7"&gt;HIIIIKKKKZZZZ....&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln7');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln8');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln9');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln10"&gt;Warna putih, Kingston 1 GB, Talinya Pink ada tulisan Close- Up nyah...&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln10');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln11');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln12"&gt;Yg terpenting adalah ISINYA..&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln12');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln13');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln14"&gt;Hidupku...&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln14');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln15');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln16"&gt;Makasiii temen2....&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln16');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln17');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln18"&gt;Hiks..&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-2774971150750461874?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/2774971150750461874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=2774971150750461874' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2774971150750461874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2774971150750461874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/08/ya-allah-inilah-peringatan-dari-mu.html' title='Ya Allah, Inilah Peringatan dari-Mu...'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-8761804021800207244</id><published>2008-08-27T15:32:00.000+07:00</published><updated>2008-08-27T15:33:52.179+07:00</updated><title type='text'>MAAF...Inilah..</title><content type='html'>&lt;div id="ln0"&gt;M.A.A.F&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln0');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln1');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln2"&gt;Urfi mohon maaf.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln2');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln3');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln4"&gt;bukan hanya karena ini momen Ramadhan looh..&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln4');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln5');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln6"&gt;Tapi atas segala kekhilafan yang pernah dilakukan.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln6');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln7');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln8"&gt;Percayalah,&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln8');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln9');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln10"&gt;Maaf mencairkan segala suasana. Evaluasi memperbaiki sesudahnya. kesadaran membukakan segalanya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln10');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln11');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln12"&gt;Yours truly,&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln12');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln13');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln14"&gt;Urfisheeva&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln14');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;    &lt;input name="action" value="reply" type="hidden"&gt;&lt;input name="uid" value="35107994" type="hidden"&gt;&lt;input name="bid" value="75528138" type="hidden"&gt;&lt;input name="firstname" value="UrfiSheeva" type="hidden"&gt;&lt;input name="subject" value="Re: MOHON MAAF" type="hidden"&gt;&lt;input name="replybody" value="UrfiSheeva wrote:\n    M.A.A.F      Urfi mohon maaf.      bukan hanya karena ini momen Ramadhan looh..      Tapi atas segala kekhilafan yang pernah dilakukan.      Percayalah,      Maaf mencairkan segala suasana. Evaluasi memperbaiki sesudahnya. kesadaran membukakan segalanya.      Yours truly,      Urfisheeva" type="hidden"&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-8761804021800207244?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/8761804021800207244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=8761804021800207244' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8761804021800207244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8761804021800207244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/08/maafinilah.html' title='MAAF...Inilah..'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-5514605287133398472</id><published>2008-08-27T14:56:00.000+07:00</published><updated>2008-08-27T14:57:56.736+07:00</updated><title type='text'>Dari seorang teman, ( lagi )</title><content type='html'>Dalam kehidupan ada 3 haru... Kmren, kisah lalu untuk jembatan kini&amp;amp;Esok Hari Ini, Belajar Berlari Untuk Esok Esok, Mengatur strategi dalam Anagn... Ketakutan akan hari kemren&amp;amp;esok hanya permainan pikiran &amp;amp; biarkan hati ini mersakannya Hal yang terbaik untuk Kita , menangis / tertawa/ justru mengotori? jangan biarkan pikiran menguasai seblum Logika memahami lalu mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari - hari adlah lembaran baru untuk beramal, jadikanlah Hari2mu sarat dNg amAl Terbaik... Kesempatan akan segera Lenyap ScPat pRjAlanan Awan,dan mnunda Pkerjaan adalah tanDaw Orang MeruGi"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-5514605287133398472?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/5514605287133398472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=5514605287133398472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5514605287133398472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5514605287133398472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/08/dari-seorang-teman-lagi.html' title='Dari seorang teman, ( lagi )'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-6090929095133542360</id><published>2008-08-24T20:10:00.000+07:00</published><updated>2008-08-24T20:13:06.274+07:00</updated><title type='text'>Dari seorang teman, Diar.</title><content type='html'>Saat Lelahmu brada di Titik Pekatnya Hawa&lt;br /&gt;Rebahkan Sejenak dalam Kenyamanan.&lt;br /&gt;Tiupkan Do'a sebelumnya,&lt;br /&gt;berharap selimut kesabaran tetap terbentang.&lt;br /&gt;Semoga Allah Mnjaga Tdurmu Malam ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-6090929095133542360?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/6090929095133542360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=6090929095133542360' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/6090929095133542360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/6090929095133542360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/08/dari-seorang-teman-diar.html' title='Dari seorang teman, Diar.'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-3630243078297767584</id><published>2008-08-24T19:58:00.000+07:00</published><updated>2008-08-24T20:00:12.556+07:00</updated><title type='text'>Dari seorang teman, Hasan Muldhani.</title><content type='html'>Kata orang pintar salah satu ciri orang yang dewasa, matang, dan bijaksana adalah kemampuan untuk menertawakan diri sendiri, dan selalu bisa tersenyum dalam kondisi apapun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-3630243078297767584?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/3630243078297767584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=3630243078297767584' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3630243078297767584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3630243078297767584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/08/dari-seorang-teman-hasan-muldhani.html' title='Dari seorang teman, Hasan Muldhani.'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-2038698071143328118</id><published>2008-08-23T20:46:00.001+07:00</published><updated>2008-08-23T20:57:35.607+07:00</updated><title type='text'>Sendiri Menahan Tangis.</title><content type='html'>&lt;div id="ln0"&gt;Saya kangen rumah dan isinya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln0');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln1');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln2"&gt;deru mesin kendaraan abi,&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln2');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln3');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln4"&gt;tepuk lembut umi di punggung saya kala saya terlelap kelelahan,&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln4');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln5');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln6"&gt;kasih sayang hangat dibalik dinginnya tatapan Aa Umam, abangku lelaki satu- satunya..&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln6');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln7');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln8"&gt;ucapan salam adikku sepulang sekolah,&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln8');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln9"&gt;Ahmad, Ihsan, Hani, Faruq.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln9');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln10"&gt;Teteh kangen kalian..&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln10');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln11');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln12"&gt;celotehan si bungsu Annisa,&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln12');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln13"&gt;menyejukkan telinga, sungguh, kata- kata bijak ala balita yang dilontarkannya membuatku bergeming dan memancarkan butiran- butiran bening di sela- sela kelopak mata :&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln13');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln14');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln15"&gt;" Teteh, kapan pulang? Ntar malem kan? Anis tunggu yah..Umi masak enak banget lho malem ini.."&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln15');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln16');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln17"&gt;Allah, saya tak mau berdusta.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln17');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln18"&gt;Rindu ini sungguh menggetarkan jiwa.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln18');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln19');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln20"&gt;Kuatkan hatiku Ya Rabb!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-2038698071143328118?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/2038698071143328118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=2038698071143328118' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2038698071143328118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2038698071143328118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/08/sendiri-menahan-tangis.html' title='Sendiri Menahan Tangis.'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-4960155498338620152</id><published>2008-08-23T20:32:00.000+07:00</published><updated>2008-08-23T20:33:04.421+07:00</updated><title type='text'>PENTING!</title><content type='html'>&lt;table class="messagestable"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="value" id="bbsubjtxt"&gt;BWT Kesembilanbelasan BUDDY 5 dan 6...!&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td class="field"&gt;Message:&lt;/td&gt; &lt;td class="value" id="bbbodytxt"&gt; &lt;div id="ln0"&gt;semoga kesatuan pikiran dan apresiasi nilai rasa yang kita bina bersama, tak lekang dimakan senja usia kita.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln0');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln1');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln2"&gt;Yours truly,&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln2');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln3');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln4"&gt;Urfisheeva.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-4960155498338620152?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/4960155498338620152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=4960155498338620152' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/4960155498338620152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/4960155498338620152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/08/penting.html' title='PENTING!'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-4789873923361430960</id><published>2008-08-23T20:26:00.000+07:00</published><updated>2008-08-23T20:30:45.953+07:00</updated><title type='text'>Esai tugas OSPEK</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pemanasan Global Semakin Memanaskan Dunia : Proses Panjang Protokol Kyoto, Inikah Solusi yang Dicari?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dunia pada bebrapa dekade terakhir abad dua puluh begitu berguncang akan adanya isu mutakhir lingkungan yang menjadi bahan pembicaraan, bahkan perdebatan di kalangan berbagai pihak, baik kalangan akademisi maupun masyarakat umum lainnnnya. Istilah global warming, atau pemanasan global, menjadi begitu akrab menyapa kehidupan penghuni dunia pada zaman kekinian. Menurut Wikipedia Indonesia, ensiklopedi bebas Berbahasa Indonesia, pemanasan global &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah adanya proses peningkatan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suhu" title="Suhu"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;suhu&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; rata-rata &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Atmosfer" title="Atmosfer"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;atmosfer&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Laut" title="Laut"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;laut&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, dan daratan Bumi, dimana Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Celsius" title="Celsius"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;C&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (1.33 ± 0.32 °&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fahrenheit" title="Fahrenheit"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;F&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;) selama seratus tahun terakhir. Menurut Data yang dikutip dari pernyataan &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Intergovernmental_Panel_on_Climate_Change" title="Intergovernmental Panel on Climate Change"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Intergovernmental Panel on Climate Change&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; (IPCC ), sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca" title="Gas rumah kaca"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;gas-gas rumah kaca&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; akibat aktivitas manusia, melalui efek rumah kaca. Meski pernyataan yang dilansir IPCC tersebut telah disepakati oleh para ilmuwan dan ahli lingkungan dari beberapa negara berpengaruh seperti negara- negara yang tergabung dalam G8, pada realitanya, masih ditemukan beberapa perbedaan pandangan dalam menyimpulkan apa sebenarnya yang menjadi akar penyebab munculnya pemanasan global tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Beberapa kerjasama internasional telah dibentuk demi membahas permasalahan ini serta mencari solusi terbaik dalam menghadapi pemanasan global. Salah satunya adalah kesediaan negara- negara di dunia dalam menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang bertujuan untuk menangani serta mengurangi emisi gas- gas rumah kaca. Protokol Kyoto lahir melalui sebuah proses yang panjang, dimana sebelumnya diadakan konferensi permulaan “ &lt;i style=""&gt;Earth Summit&lt;/i&gt; “, di Rio de Janeiro, Brazil pada tahun 1992 yang diikuti oleh 150 negara dan menghasilkan sebuah keputusan untuk membuat sebuah pertemuan kembali dalam rangka merumuskan sebuah perjanjian yang mengikat mengenai pengurangan emisi gas- gas rumah kaca. Kemudian, lahirlah Protokol Kyoto pada tahun 1997 di Jepang, yang dirumuskan oleh lebih dari 160 negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akan tetapi, hal yang kemudian menjadi dilematis dalam permasalahan ini adalah proses panjang dalam hal implementasi perjanjian ini dalam bentuk nyata yang telah ditentukan, yaitu mengenai pengurangan emisi gas- gas rumah kaca, terutama bagi negara- negara induustri besar yang begitu banyak berkontribusi dalam emisi gas- gas rumah kaca di dunia. Amerika Serikat, Uni Eropa serta Rusia menjadi negara- negara yang amat vokal dalam metamorfosis Protokol Kyoto, yang tentu diwarnai dengan pengambilan sikap serta penundaan waktu ratifikasi yang panjang oleh negara- negara tersebut. Hal ini terlihat jelas pasca terpilihnya George W. Bush tahun 2001, ketika Amerika Serikat malah memberikan pernyataan bahwa proyek pengurangan emisi gas- gas rumah kaca tersebut malah menghabiskan biaya yang sangat tinggi, sangat berlawanan dengan sikap Amerika Serikat sebelumnya yang malah berambisi untuk mengurangi emisi gas- gas rumah kaca sebesar 7% dari tingkat emisi tahun 1990. Nuuansa politis semakin terlihat ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memutuskan untuk segera meratifikasinya pada tahun 2004, yang berarti persyaratan berlakunya perjanjian per 16 Februari 2005, telah dipenuhi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Banyak pihak yang berapriori negatif terhadap kekuatan Protokol Kyoto itu sendiri, dipandang dari segi pendanaan serta pengaruh politik yang membidani berjalannya proses ratifikasi Protokol Kyoto. Terutama masalah tidak dikonsentrasikannya pula pengurangan emisi gas- gas rumah kaca pada negara- negara berkembang, yang dikhawatirkan justru akan menjadi kontributor utama emisi gas rumah kaca pada tahun 2035. Protes keras yang muncul seiring disepakatinya Protokol Kyoto diteriakkan oleh industri- industri minyak, batubara serta perusahaan- perusahaan lainnya yang berbasis pada pemanfaatan bahan bakar bersumber pada fosil. Parameter umatam aksi tentu berkaitan dengan masalah biaya serta efektivitas pengurangan pemakaian bahan bakar bersumber fosil, yang menjadi sumber utama industri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Meskipun Protokol Kyoto masih dianggap lemah dalam posisinya sebagai sebuah perjanjian yang mengikat, dukungan serta harapan besar dalam penyelamatan lingkungan terus mengalir seiring berjalannya pemanasan global yang terus menghantui masyarakat dunia akan resiko permanen yang akan ditimbulkan pada efek dahsyat pemanasan global yang terburuk. Hal ini menjadi cerminan bagi masyarakat dunia, untuk lebih memberikan kontribusi secara langsung mengenai penyelamatan lingkungan hidup, diantaranya dengan terus mengawasi serta berperan serta dalam proyek penanggulangan resiko pemanasan global,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diantaranya dengan mulai melakukan konversi energi serta melakukan penghematan energi. Upaya terbaik terus dilakukan oleh pemerintah, namun hal utama yang penting untuk direalisasikan sebagai masyarakat dunia, adalah menjadi individu yang sadar akan pentingnya menjaga kelestarian alam, karena pemanasan global sebenarnya merupakan fenomena alamiah yang harus terjadi, tinggal bagaimana masyarakat menghadapi serta mencari solusi sebagai jalan keluar dari berbagai kekhawatiran yang menghantui.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                    &lt;/span&gt;Yogyakarta, 22 Agustus 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sumber :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Wikipedia Indonesia, Ensiklopedi Bebas Berbahasa Indonesia,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;KYOTO PROTOCOL TO THE UNITED NATIONS FRAMEWORK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;CONVENTION ON CLIMATE CHANGE&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;UNITED NATIONS 1998 ( PDF Form )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-4789873923361430960?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/4789873923361430960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=4789873923361430960' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/4789873923361430960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/4789873923361430960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/08/esai-tugas-ospek.html' title='Esai tugas OSPEK'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-5748074031712162221</id><published>2008-08-23T20:14:00.000+07:00</published><updated>2008-08-23T20:20:42.178+07:00</updated><title type='text'>Mahasiswa Sebagai Solusi : Refleksi Eksistensi Mahasiswa Masa Kini</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;Ketika istilah mahasiswa terdengar di telinga, adalah sebuah asosiasi mengenai reformasi serta motivator penggerak yang terlintas di benak masyarakat. Ada kalanya pula mahasiswa sebagai komunitas yang dianggap penting sebagai stakeholders perubahan, namun belumlah memiliki kekuatan yang signifikan untuk merubah kebijakan, sehingga terkadang terhenti pada proses advokasi kebijakan, namun tidak berlanjut pada tahap penyelesaian. Stigma masyarakat terhadap mahasiswa pada masa kekinianpun menjadi bermacam- macam, mulai dari kaidah murni sebagai akademisi, hingga kaum anarkis yang berujung pada apiori negatif terhadap segelintir mahasiswa.&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Problematika yang menerpa Republik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Indonesia seakan berturbulensi pada pekatnya faktor- faktor “ X “ yang menbidani krisis multidevresional bangsa, yang notabene telah berakar pada situasi yang menggugah masyarakat untuk berteriak, bahkan menceracau pada garis- garis permasalahan yang semakin merambah ke berbagai sektor kehidupan. Sebutlah Indeks Pembangunan Manusia yang memprihatinkan, pendapatan perkapita yang jauh tertinggal, birokrasi yang nakal serta korupsi yang telah berakar pada berbagai institusi negara. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kemudian mulailah kita bertanya- tanya, apakah korelasi mahasiswa dengan permasalahan bangsa ini? Berbagai pernyataan sampai spekulasi mengantarkan kita pada sebuah rangkaian alamiah mengenai peran mahasiswa sebagai motivator perubahan, yakni penggerak utama pada berbagai titik yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas, yang didasari oleh cita- cita luhur golongan pelajar pada generasi perintis kemerdekaan, yang menjadi inspirator pada berbagai titik perjuangan, demi eksistensi sebuah kemerdekaaan pada awal kemunculan Republikanisme Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kini, kedudukan mahasiswa menjadi bergeser sedikit di hati masyarakat, seiring dengan berbagai penyimpangan yang terjadi pada segolongan mahasiswa tertentu, yang seakan ditunggangi oleh oknum yang agaknya menginginkan keterpurukan Republik ini semakin menjadi saja. Kini, adalah misi utama mahasiswa untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengembalikan kepercayaan publik mengenai tujuan luhur mahasiswa yang sebenarnya, yang secara harfiah memiliki persamaan cita- cita dengan masyarakat, yang jauh dari kesan ekstremisme maupun demonstrasi tak berarah. Mulailah menilik isu- isu kemanusiaan yang terkadang terpinggirkan karena kedahsyatan isu poliotik yang menjadi prioritas mahasiswa untuk bergerak. Mulailah menata posisi kembali sebagai generasi muda yang memiliki loyalitas sebagai anak negeri, yang memiliki semangat serta jiwa pemuda untuk berkarya dan menjadi motivator pada berbagai situasi yang sepatutnya, sehingga eksistensi mahasiswa sebagai kalangan akademisi, penggerak masyarakat, serta pembawa solusi bagi problematika negara, menjadi sebuah rumusan yang memberi pencerahan pada lerikui permasalahan bangsa yang semakin membuncah di masa kini. Mahasiswa dan perubahan, layaknya pena yang menari di atas kertas. Begitu ideal dan murni diupayakan. Berkacalah pada realita yang mendasari kepribadian mahasiswa. Cukuplah momen nasional detik- detik proklamasi kemerdekaan serta reformasi 1998 menjadi bukti nyata teguhnya prinsip mahasiswa, yang menjadi kunci utama bagi mahasiswa untuk mempertahankan eksistensinya di masyarakat sebagai motivator perubahan yang berkepribadian mantap, sebagai akademisi yang memiliki empati pada problematika kehidupan bangsa ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                        &lt;/span&gt;Yogyakarta, 18 Agustus 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Alur meretas mimpi. Dirgahayu kemerdekaan RI ke- 63. Merdeka!&lt;span style=""&gt;                                           &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-5748074031712162221?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/5748074031712162221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=5748074031712162221' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5748074031712162221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5748074031712162221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/08/mahasiswa-sebagai-solusi-refleksi.html' title='Mahasiswa Sebagai Solusi : Refleksi Eksistensi Mahasiswa Masa Kini'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-3383091443458493260</id><published>2008-08-19T19:45:00.002+07:00</published><updated>2008-08-19T19:48:47.844+07:00</updated><title type='text'>Ospek, ehm. PPSMB 2008</title><content type='html'>Tralala, trilili...&lt;br /&gt;senangnya yang udah ( hampir ) jadi mahasiswa..&lt;br /&gt;hehe,&lt;br /&gt;ternyata, mahasiswa yang umurnya masih 16 tahun ada 99 orang tho, banyak jugga yakk....&lt;br /&gt;hehe, malah ada yang 14 tahun, 1 bulan dan Lima hari, namanya Wahyu, kaya apa ya orangnya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;overall, seneng banget hari ini..ketemu2 temen2 yang extrovert...&lt;br /&gt;Hula, mudah2an sii besok lebih seru...lagi...dan lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disinii bahagiaa..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-3383091443458493260?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/3383091443458493260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=3383091443458493260' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3383091443458493260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3383091443458493260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/08/ospek-ehm-ppsmb-2008.html' title='Ospek, ehm. PPSMB 2008'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-2523789899347469729</id><published>2008-05-26T17:21:00.001+07:00</published><updated>2008-05-26T17:40:54.898+07:00</updated><title type='text'>Puisi Terbaru Saya ; dibawakan dalam peringatan 100 Tahun Kebangkitan Bangsa di GOR Kota Tangerang. Ssst, ditandatangani Menpora Adhyaksa Dault loh...</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Copperplate Gothic Light, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt;&lt;b&gt;Gemuruh Kebangkitan Bangsa&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bangkit adalah mencari&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Mencari jati diri sebagai bangsa yang merdeka&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bangkit adalah wibawa&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Wibawa dalam kokohnya persatuan negara&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bangkit adalah air mata&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Air mata perjuangan dan kesetiaan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bangkit adalah nurani&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Nurani menegakkan perdamaian negeri&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Betapapun lautan menghempas kaki- kaki penuh darah penuh nanah&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Betapapun serdadu mengoyak- ngoyak perisai baja&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Jangan pernah menangis pada nada kehampaan!&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Pada butir- butir perjuangan, pada pesona sebuah kejujuran,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Terdapat arti dari sebuah kearifan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bangkit itu menari pada kaki sendiri&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bangkit itu menjerit pada buasnya ketidakadilan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bangkit itu marah melihat bangsa yang terjajah&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bangkit berbuat pada cahaya kebenaran hakiki&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Gemuruh kebangkitan bangsa menerkam huru- hara kepalsuan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Gemuruh kebangkitan bangsa meneriakkan indahnya kesatuan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Seratus tahun kebangkitan bangsa, seyogianya adalah :&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Seratus tahun menunjukkan identitas bangsa&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Akankah kita membatu pada hembusan angin kapitalis yang salah ditafsirkan?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Apakan kebangkitan bersimbol pada pembicaraan tak rasional yang dibesar- besarkan?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Apakah kebangkitan diilustrasikan pada penindasan bertopeng prosedur atau kekuasaan?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Apakah bersorak pada kelapangan sesaat masih pantas kita lakukan?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Disaat mentari di Palestina berjuang untuk tetap bersinar,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Disaat deru pasukan berkuda putih menanti derap kemenangan,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Menanti eksistensi dari sebuah kemerdekaan,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Kemerdekaan yang merdeka, bukan kebebasan semata,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Saudaraku,  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Inilah titik balik sebuah pembuktian,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Melebur perbedaan, menyokong garis- garis pengharapan,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Inilah api kebangkitan, inilah luapan dari tekad bulat yang tertahan,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bukan sepuluh, seratus atau seribu tahun kebangkitan,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tetapi apa, siapa, dan bagaimana kita di masa depan!&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bangkit bangsaku, bangkit Indonesiaku, Untukmu, Indonesiaku!&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;Tangerang, 20 Mei 2008&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;Urfi Syifa Urohmah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-2523789899347469729?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/2523789899347469729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=2523789899347469729' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2523789899347469729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2523789899347469729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/05/puisi-terbaru-saya-dibawakan-dalam.html' title='Puisi Terbaru Saya ; dibawakan dalam peringatan 100 Tahun Kebangkitan Bangsa di GOR Kota Tangerang. Ssst, ditandatangani Menpora Adhyaksa Dault loh...'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-8671072300361864513</id><published>2008-05-05T14:51:00.002+07:00</published><updated>2008-05-05T15:32:07.719+07:00</updated><title type='text'>Back To Nature</title><content type='html'>Yogyakarta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kaki ini menapaki tanah tandus beberapa tahun lalu,&lt;br /&gt;Mata terpercik hati berbisik,&lt;br /&gt;Yogya, disana Ku kan kembali,&lt;br /&gt;Setidaknya, kaki ini akan melangkah kembali kesana,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mendengar selorohan Urfi kecil kala itu,,&lt;br /&gt;Kini,&lt;br /&gt;Kakiku menapakinya, menelusuri keeksotisan sejarah Nusantara pada butir- butir keelokan Yogyakarta,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadjah Mada almamaterku kini,&lt;br /&gt;Setajam Gadjah mada berfatwa, akan ku raih Wisudaku secepat dirinya menaklukkan seluruh nusantara..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-8671072300361864513?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/8671072300361864513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=8671072300361864513' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8671072300361864513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8671072300361864513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/05/back-to-nature.html' title='Back To Nature'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-6590376927472707264</id><published>2008-02-17T15:32:00.002+07:00</published><updated>2008-02-17T16:00:35.924+07:00</updated><title type='text'>Angka dan Irama Rasa</title><content type='html'>Angk dan menilik rasa. itulah dua hal yang berbeda kontur, namun terlalu indah untuk disandingkan. bagaimana budaya meniti irama difikirkan secara matang dengan perbandingan rasio dan angka. namun, sadarkah bahwa dalam dunia pendidikan, terkadang harmonisasi keduanya terlalu dipaksakan.&lt;br /&gt;adalah sebuah tanggung jawab yang besar bagi para orang tua untuk selalu memberikan kualitas pendidikan yang terbaik bagi buah hatinya. namun, otoritas dalam menentukan sebuh pilihan tentulah menjadi hak prerogatif bagi sang anak yang notabene adalah objek pendidikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencermati beberapa kasus orang tua yang terlalu tendensius men-judge anaknya untuk memilih sebuah program studi yang tidak sesuai dengan minat dan bakat mereka. ini adalah sebuah kesalahan halus yang sangat bersifat fatal.&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan, akankah kita melakukan hal yang sama pada putra- putri kita nantinya?&lt;br /&gt;marilah kita cermati lebih dalam tentang hakikat masa depan seseorang, bukan belenggu arogansi yang harus kita paksakan terhadap dunia mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-6590376927472707264?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/6590376927472707264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=6590376927472707264' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/6590376927472707264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/6590376927472707264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/02/angka-dan-irama-rasa.html' title='Angka dan Irama Rasa'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-2978322070384538841</id><published>2008-02-17T15:15:00.004+07:00</published><updated>2008-02-17T15:26:00.651+07:00</updated><title type='text'>Akhirnya,</title><content type='html'>Akhirnya memang kita harus memilih.&lt;br /&gt;Antara hitam dan putih,&lt;br /&gt;antara darah dan mahkota,&lt;br /&gt;antara selat dan samudera,,,&lt;br /&gt;antara hidup dan mati,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hidup?&lt;br /&gt;Kita memang harus berani hidup!&lt;br /&gt;Kunci dari hidup adalah bergerak!&lt;br /&gt;sejauh mana kau bergerak, itulah intensitas cahayamu, kawan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-2978322070384538841?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/2978322070384538841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=2978322070384538841' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2978322070384538841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2978322070384538841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2008/02/akhirnya.html' title='Akhirnya,'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-7418003328558689848</id><published>2007-12-01T13:09:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T20:45:06.989+07:00</updated><title type='text'>Reformis</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/R1D7R9f4QII/AAAAAAAAAAc/8hToF7zLAvA/s1600-R/oevv.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/R1D7R9f4QII/AAAAAAAAAAc/vkI5ZgQ7suo/s320/oevv.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138883460814356610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa rekan sejawat saya kini sedang gencar- gencarnya mengklaim diri mereka masing- sebagai sosok reformis masa kini. tetapi masalahnya kini, apakah makna dari reformis dan reformasi tersebut benar- benar relevan untuk diterapkan di dalam kehidupan seorang remaja yang berada dalam lingkup civitas akademika sebuah sekolah berbasis boarding?&lt;br /&gt;sayapun masih menunggu sebenarnya apa visi dari kelompok reformis ini. satu hal yang membuat saya kagum adalah :&lt;br /&gt;kkonsistensi diri meereka untuk menjadi seorang reformis, bukan oportunis yang selalu menjadi penjilat dalam berbagai situasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-7418003328558689848?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/7418003328558689848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=7418003328558689848' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7418003328558689848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7418003328558689848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/11/reformis.html' title='Reformis'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/R1D7R9f4QII/AAAAAAAAAAc/vkI5ZgQ7suo/s72-c/oevv.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-9164290130653034262</id><published>2007-12-01T13:03:00.000+07:00</published><updated>2007-12-01T13:07:25.474+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Masalah Klasik</title><content type='html'>Paradigma Kesetaraan Gender, Mutlakkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika manusia mengenang arti sebuah perjuangan Kartini bagi bangsa Indonesia seutuhnya, kharisma wanita heroik dan membangunlah yang akan timbul pada citra seorang Kartini. Namun apakah sejatinya kesetaraan yuang Kartini maksudkan adalah kesamaan derajat antara pria dan wanita yang harfiahnya sejatinya terlalu berbeda dengan simpul kesetaraan gender itu sendiri. Pemahaman utuh yang belum dipahami secara menyeluruh oleh wanita Indonesia masa kini agaknya sedikit menyulut berbagai perbedaan mendasar yang seyogianya harus segera diluruskan disini. Bagaimanakah sebenarnya kesetaraan gender yang sebenarnya wanita impikan? Adakah korelasinya dengan hakikat persamaan hak antara pria dan wanita?&lt;br /&gt; Beberapa fenomena yang mengejutkan adalah merupakan sebuah kewajaran yang pastilah terjadi disini. Friksi dan ketegangan yang terjadi antara berbagai pihak pengagung kesetaraan gender dan persamaan hak antara dua jenis manusia yang berbeda secara harfiah maupun maknawiah ini terus berlanjut. Terkadang banyak pihak terkait yang selalu menggunakan dalih persamaan gender ini dalam kodrat yang tak semestinya kita lakukan. Wanita, tak bisa dipungkiri, memiliki keterbatasan yang mendasar dalam setiap penciptaannya. Namun pada kronologis proses kehidupan wanita yang tentu saja bersinggungan dengan kehidupan lawan mainnya dalam lakon kehidupan, dalam hal ini pria, wanita memiliki keterbatasan dalam berbagai hal. Namun, wanitapun memiliki kelebihan mendasar yang tentu saja tidak dimiliki pria. Wanita memiliki naluri seorang ibu yang dapat kita gariskan sebagai sebuah permata indah yang berkelindan kasih sayang yang bisa kita temukan di setiap peluh keringat dan desau memorinya. &lt;br /&gt;Metafora kesatria yang dimiliki seorang ayah,dalam hal ini pria, menjadikan sebuah landasan yang positif bila dapat berkorelasi dengan baik jika terjalin komunikasi yang efektif dengan peran seorang ibu dalam kehidupan, yang tentu saja wanita. Bagaikan sebuah simbiosis mutualisme, paduan antara pria dan wanita dalam melaksanakan kodratnya bisa kita umpamakan seperti sebuah sistem alamiah yang sebenarnya telah Tuhan gariskan jauh sebelum penciptaan wanita dan pria, bahkan.&lt;br /&gt;Wanita, dengan sejuta pesona. Makhluk Tuhan yang sering dianggap lemah ini punya hak. Wanita juga punya kodrat. Kodrat yang tidak bisa dipungkiri, tentunya. Wanita butuh perlindungan. Dan hal ini telah menjadi ketentuan Sang Maha Pencipta, yang menjadi pemicu keterkaitan wanita dengan pria. Tetapi, banyak diantara kita yang salah persepsi, karena  maknanya kesetaraan tidaklah selalu sama, identik bahkan serupa.&lt;br /&gt;Kita pun tak akan pernah melupakan takdir bahwa wanita dan pria diciptakan untuk saling melengkapi. Tanpa harus mengingkari dan naïf terhadap kodrat wanita, kesetaraan dalam tanda kutip, harus selalu ada. Dalam berpendidikan dan berkebudayaan, serta aspek lain dalam hidup ini. Wanita bukan pria. Tentu saja, karena mereka berbeda.&lt;br /&gt;Wanita bisa memimpin., tetapi bukan berarti wanita harus menjadi seorang pemimpin. Wanita bisa bertanggung jawab. Namun bukan berarti wanita harus menjadi seorang penanggung jawab. Menyikapi hal tersebut, wanita dan pria harus kembali pada kodrat. Orientasi kehidupan dan segala dinamikanya terus berputar dan berkelanjutan. Peran serta seorang wanita sangatlah dibutuhkan. Urgensitas keterlibatan wanita bahkan amatlah diperlukan. Juan Peron runtuh tak berdaya ketika seorang Evita tiada lagi di sisinya. Sang penguasa luluh tak berdaya ketika wanita, sebagai malaikat pendamping hidup harus melenggang meninggalkan masa- masa kebersamaan. Hal ini amatlah erat interelasinya dengan fakta di lapangan, jika kita analogikan seutuhnya dengan kehidupan keseharian kita, dan opini ini terus berkembang menjadi fakta. &lt;br /&gt;Hal ini nyata. Wanita memang berarti. Tanpa mengingkari kodrat, wanita tampil di masyarakat. Riak- riak wanita kini telah hadir di masyarakat. Wanita kini diakui. Tentu saja seperti keeksistensian manusia sewajarnya. Wanita berhak mengenyam bangku pendidikan. Dan hal tersebut tak mengenal usia. Itulah maksud dari kesetaraan gender, makna dari emansipasi wanita yang sebenarnya. Bukan wanita yang selalu mengagungkan kekuasaan, keangkuhan, arogansi dan narsisme berkedok emansipasi. &lt;br /&gt;Maka dari itulah, apakah kesetaraan gender tersebut mutlak? Tentulah tidak. Jawaban tersebut muncul dari kenyataan yang ada. Wanita punya keterbatasan, tentu saja dari berbagai sisi. Kembali kepada kodrat seorang wanita. Pelengkap pria, dalam tanda kutip, saling melengkapi dan memiliki ketergantungan satu sama lainnya. Jika Kartini masih hidup, dirinya akan menyunggingkan senyum, karena konsepnya dapat dicerna dengan tepat. Implikasinya akan terlihat dengan jelas. Sekarang dan nanti di masa depan. Terakhir, bukanlah sebuah keterlambatan untuk mengucapkan selamat hari jadi bagi Kartini. Berkaca pada diri, sebagai seorang wanita. Wanita yang selalu mencerna hakikat wanita di dalam posisinya pada kesetaraan gender dan makna emansipasi yang sebenarnya. Terima kasih Tuhan, terima kasih pula Kartini. Namamu selalu ada pada setiap untaian makna dari relung hidup wanita Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandeglang, 28 Juli 2007&lt;br /&gt;( Urfi Syifa )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-9164290130653034262?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/9164290130653034262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=9164290130653034262' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/9164290130653034262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/9164290130653034262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/11/sebuah-masalah-klasik.html' title='Sebuah Masalah Klasik'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-875539989585578971</id><published>2007-12-01T12:57:00.000+07:00</published><updated>2007-12-01T13:00:59.568+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menungggu judgement'/><title type='text'>“ L’ Enfer”</title><content type='html'>“ L’ Enfer”&lt;br /&gt;( Neraka )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Urfi Syifa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit rasanya jika kita tetap membicarakan tentang kesejatian dari penciptaan manusia. Bagaimanapun kita mendeskripsikan keindahan penciptaan., tak akan bisa lidah ini menyambung segala makna yang telah Tuhan gariskan bagi kita. Termasuk diriku ini. Aku tak sanggup menatap gemerlap langit biru yang berkelebat di batas cakrawala. Enyahlah rasa bangga sebagai manusia. Runtuhlah semua teori Sun Tzu pada The Art of War, sebuah karya yang fantastis namun terlalu mudah untuk dipatahkan pada kasus yang sedang aku alami ini. Kematian. Tahukah kau apakah intrinsik dari kematian yang sebenarnya? Tentu kau tak pernah tahu. Kecuali kau pernah merasakan aroma kematian. Superb and complicated. Fascinating and too scariest. Adalah beberapa masa detik lalu aku bergelimang harta dan tingginya tampuk kuasa, namun kini enyahlah sudah geerlap dunia yang kurasa tak fana. Betapa bodohnya aku yang selalu menunda kesempatan taubat yang Tuhan berikan sebenarnya pada laras- laras yang kusia- siakan. Tak ada lagi belaian sang ratu yng kurasakan kini. Tak ada lagi bahtera hidup yang kuberdirikan dengan sejuta cara itu kini. Inilah hari kesekusi itu. La peine de mort. &lt;br /&gt; Tak ada prolog dan prakata dalam drama barzakh yang gulita. Tak ada prakata dan ramah- tamah penghuni semesta pada lubang hitam ini. Seringai tajamlah yang mengawali dan mengakhri segalanya. Segala yang kumulai dan kuakhiri dalam siklus kehidupanku beberapa detik lalu.&lt;br /&gt;“ Wahai Kau manusia hina, mengapa Kau habiskan uang rakyat yang berdarah-darah dalam tanganmu yang kotor dan penuh nista itu?”, sang malaikat menginterogasiku dengan tatapan busuk sebusuk diriku dianggapnya.&lt;br /&gt; “ Aku tak bermaks-..”, baru saja aku mencoba menghimpun kekuatan untuk merangkai jawaban, tiba- tiba,&lt;br /&gt; “ Pyarrr!”&lt;br /&gt; Pecut apinya baru saja ia muntahkan kepadaku. Rantai berdurinya baru saja ia  hunjamkan ke padatan molekul yang menyusun diriku ini. Kepingan – kepingan tubuhku yang hancur ini remuk redam seperti Abbasiyah dikala Hulagu Khan datang menyambar. Butiran- butiran ini mengalami kiamat. Siksaan yang tak berkesudahan. Kulit- kulitku terkelupas mulai dari ari- ari hingga serabut otot halus penyusun usus- usus yang mulai membusuk digerogoti pasukan cacing pembasmi manusia biadab seperti diriku. Lalu, seolah dengan pukulan tongkat ajaib sang peri, tubuhku mulai membentuk kembali. Menyerupai gumpalan nebula yang bersatu membentuk eksistensi dirinya yang baru. Aku hidup. Seperti terlahir kembali.&lt;br /&gt; Tanpa ada jeda sedikitpun bagiku untuk menghirup aroma kehidupan yang baru saja terspesialisasi pada titik nadir, sesosok makhluk kembali hadir di sela- sela tempat tinggalku yang baru nan bau ini. Ia kembali. Kutahu namanya adalah Munkar serta Nakir. Yang beledu hitamnya mampu merontokkan mata para pendosa yang memandangnya. Ia hadir sebagai pengeksekusi raga. Ia nyata. Mereka ada.&lt;br /&gt; “ Wahai Kau manusia pesakitan! Berapa macam nyawa yang kau gantung pengharapan hidupnya demi butiran- butiran asa yang kau rampas dari sisi mereka? Jawab!”,&lt;br /&gt; “ Wahai Kau manusia pesakitan! Berapa ribu janji yang kau nafikan demi kesesatanmu yang kau jalankan usai Kau melenggang diatas tahtamu, Hah? Berapa banyak waktu yang Kau dustakan kala Engkau berhutang atas amanah yang kau genggam? Jawab!”&lt;br /&gt; “ Janji itu adalah…!”, aku tercekat di tengkuk tepat ketika muncullah sebentuk liar bertaring mengkilap menabrakkan kakinya tepat di ujung kelopak mataku.&lt;br /&gt; “ Braak!”&lt;br /&gt; Baru saja seekor ular sepanjang ratusan kali lipat dari anaconda yang pernah menghiasi layar kaca semasa hidupku, melilitku dan membelit tulang- tulang rusukku hingga lumat tak bertepi. Ia menghabiskan sumsum tulang merahku yang telah tersusun beberapa saat yang lalu. Ia sedot ubun- ubun kepalaku hingga mendidih aku dibuatnya kesakitan. Lalu ia tambah penderitaanku dengan mencabuti kuku ini satu persatu dengan begitu ganasnya. Ia berikan api yang begitu berkobar dahsyat di atas tenggorokanku yang tengah tercekat dengan gumpalan daging busuk yang menyesakkan pernapasan. Aku lebur karena dusta. Aku lenyap tak bertitik. Nadir telah dihempasnya. Inilah kiamat itu. Tuhan, kutahu azab- Mu bukanlah palsu. Kutahu ini adalah rangkaian dari janjimu yang terlalu agung untuk dinistakan. Kutahu ini adalah sebuah keterlambatan untuk mengetahui inti dari sebuah janji dan pengharapan. Kutahu ini adalah momen yang terlalu salah untuk mengaku bersalah. Kutahu ini adalah sebuah kebutaan pada hakikat seorang makhluk untuk meratapi kebodohan. &lt;br /&gt; “ Lantas, Kau apakan kesempatan yang Tuhan berikan untuk memuja- Nya? Kau sia- siakan detik- detik mahal yang Ia berikan untuk termenung pada kesesatan! Kau habiskan energi yang Ia percayakan pada sloki kemaksiatan dan meja- meja bertabur judi dan kedurjanaan! Kau habiskan dirimu untuk mendustakan nikmat Tuhan- Mu yang menciptakan!”,&lt;br /&gt; “ Ampuni aku, Ya Rabb, Ampuni aku, Ya Rahman!”, aku meratap pada kesunyian yang tak berujung. Senyap itu menumpas segala keresahan batin yang kini kudapati nyata. Sesaat kusadari bahwa semuanya berakhir hampa dan sia- sia. Begitu sempitnya waktu, begitu besarnya dosa.&lt;br /&gt; “ Inilah hasil karya spektakularmu! Inilah genggaman takdir yang kau jalankan selama hidupmu! Inilah keharusan Tuhan yang kau dapati mencerca tubuhmu, manusia laknat!”, sang malaikat tak pernah berhenti mengutukku. Seisi alam sekan mengutukku. Aku ini penuh Lumpur dan berdebu. Ingin rasanya aku melebur menjadi batu. Diam dan tak bergerak bagi sebuah keabadian.&lt;br /&gt; Kemudian, ia membawaku pada sebuah transisi alam yang begitu menakjubkan. Pada sebuah transedental Kemahaagungan Tuhan yang tak pernah sekalipun manusia deskripsikan detailnya secara realis. Yang tak pernah Bernini lukiskan pada detik- detik kematiannya. Yang tak pernah Da Vinci bicarakan pada kode- kode penuh misterinya. Yang tak pernah mampu Michaelangelo ukir dalam genggaman pahatan- pahatan emasnya. Yang tak pernah Vincent Van Gogh definisikan pada kemurnian seni yang ia ikrarkan. Inilah rangkaian lembah paling nista yang tak ada duanya. Inilah jenjang kebuntuan yang tak akan pernah hilang kepekatannya. Inilah akhir kepekatan yang tak pernah lenyap garis- garis kobaran apinya. Inilah syaraf melingkar penuh kepahitan yang terlalu dalam untuk dimuntahkan. Inilah kepiawaian Tuhan dalam mengutuk para pelaknat yang mendustakan penciptaannya. Inilah lembah misterius itu. Dalam dongeng, kami menyebutnya neraka. L’enfer. &lt;br /&gt; Terpuruk pada pertikaian antara nyata dan tidak, aku menyeloroh ke dalam lubang hitam di bawah sana. Lubang itu seakan menertawakan paranoia yang tertangkap diatas bukit ketegangan urat syarafku ini. Ia memanggilku untuk bergabung dalam komunitas yang ada di dalamnya. Panggilan kematian itu. Panggilah penuh ancaman itu. Kuhindari namun mengejarku. Kunafikan namun ia tercekat dalam pahitnya realita. Kulambaikan namun ia menarikku semakin kuat. Seperti anti materi yang siap meledak dalam lambung hitamku. Lubang itu menyedotku. Layaknya warp atu terowongan ulat yang menembus tiga dimensi waktu. Kuterdiam dan kini terpaku. Aku luruh dalam lubang hitam itu. Hingga beberapa ‘rekan’ menyapaku kini,&lt;br /&gt; “ Wahai penghuni baru, siapkah kau bermandikan ulat- ulat ganas setiap harinya bersama kami?”, sesosok pria berkaki serigala menghampiriku untuk berbagi duka. Sepertinya aku mengenalnya. Ah, aku memang mengenalnya. Prototype pengisi buku sejarah dunia dan kitab- kitab kejadian pada umumnya.  Rasanya aku mengenal ‘tetangga’ baruku ini. Nebuchandnezzar sang  penumpah darah. Aku rasa aku memang mengenalnya. Karya monumentalisnya di pinggir Eufrat sana menyiratkan kekagumanku padanya. Akhirnya kami bertemu di neraka.&lt;br /&gt; Tak lama kujumpai manusia yang kakinya remuk dihantam gada yang bedesingan di kakinya detik demi detik. Aku tahu siapa dia. Roman sisa- sisa keganasan makhluk yang pernah dianggap manusia ini memang masih terlihat. Tangannya memegang sebilah Scimitar* Turki yang mengkilat. Namun, aku merasa heran dengan apa yang tengah dilakukannya. Ia mengayunkan scimitarnya ke arah kepalanya sendiri. Ia terlihat memenggal kepalanya sendiri. Lelaki Samarkand ini memang telah gila, rupanya. Baru kulihat pemandangan yang amat fantastis di depanku. Ketika Timurleng membius mataku dengan kepalanya yang ia penggal berkali- kali. Terpenggal dan kembali utuh lagi. Ia melakukannya selama ribuan tahun semenjak ia terseok ke dalam lumpur dusta ini!&lt;br /&gt; “ Apa ini, Tuhan?”, aku bertanya pada detik- detik genting marabahaya mengintaiku,&lt;br /&gt; “ Apa ini, Tuhan?”, aku berteriak pada murka Tuhan yang akan segera tiba menjemputku,&lt;br /&gt; “ Apa ini, Tuhan?”, tanyaku pada butir- butir darah yang senantiasa tumpah di sela- sela jari kakiku yang telanjang ini. Tak ada jawaban. Kosong.&lt;br /&gt; Beberapa saat kemudian, sesosok wanita berwajah menyerupai babi dan berbahasa aneh memanggil- manggil ke arahku dan meminta pertolongan. &lt;br /&gt; “ Pouvez-vous m’aider?”,&lt;br /&gt; Aku terdiam. Menatapnya penuh arti. Kini ia berteriak.&lt;br /&gt; “ Monsieur, Pouvez-vous m’aider?”, wanita perancis ini memintaku menolongnya. Aku tak sanggup lagi melihat kemelut wajahnya yang terikat rantai besi. Aku menjawabnya.&lt;br /&gt; “ Je ne comprends pas!”, aku tak mengerti sebenarnya apa yang diinginkannya.&lt;br /&gt; “ Je ne me sens pas bien”, ia mengeluh kesakitan. Tapi, apa yang bisa aku lakukan di tengah- tengah ancaman seperih ini? Memikul diri sendiri saja aku tak mampu, apalagi menolongnya? Iilogique! Aku memutuskan untuk berlari meninggalkannya. Aku berlari meninggalkan rintihannya yang mendayu- dayu. Aku berlari meninggalkan permaisuri raja perancis terakhir sebelum dimulainya revolusi perancis ini dengan berjuta ketakutan. Oh, Marie Antoniette!&lt;br /&gt; “ Oύ allez-vous?”, teriakannya mendesis tajam. Ia menanyaiku kemana aku akan pergi meninggalkannya?&lt;br /&gt; “ Excusez-moi, La reine..”, aku memang tak bisa melakukan apa- apa pada sang ratu. Marie Antoniette mendelik tajam ke arah tikunganku menghilang. Tatapannya luluh disapu kobaran api yang melahapnya kemudian.&lt;br /&gt; Kau tahu? Terlalu banyak manusia disini. Terlalu banyak manusia tak berbaju disini. Tak kusangka orang- orang yang begitu terkenal dapat kujumpai disini. Tak kusangka manusia- manusia pencatat sejarah dapat hadir di tengah- tengah aroma hitam berjelaga ini. Tak kusangka aku dapat menjumpai manusia setengah binatang dengan wujud yang sebenarnya disini. Sangat harfiah. Tempat ini. Neraka.&lt;br /&gt; “ Hei, Kau, penghuni baru, bersiaplah!”, tatapan nyinyir seorang pria berhidung betet melagukan kegetiran pada diriku.&lt;br /&gt; “ Bersiap untuk apa?”,&lt;br /&gt; “ Bodoh, Kau! Ini neraka. Kedahsyatannya tak terkira. Sebentar lagi Kau pasti menemukan hakikat sebenarnya keberadaan dirimu disini!”,&lt;br /&gt; Lidah pria berhidung betet itu terjulur sampai ke tanah. Ia berkata, bahwa kata- kata yang ia katakan mengatakan lidahnya harus terjulur sedemikian. Semasa dunia digenggamnya, kebohongannya mengadu domba publik mengantarnya pada gerbang neraka. Tangisan- tangisan dustanya menerawang pada takdir yang membawanya pada rantai api yang menyambar- nyambar. Raut penyesalannya ketika mengadu domba publik pada masa pemerintahan Khalifah Utsman  ini masih dapat kubaca.&lt;br /&gt; Kini, aku dan diriku. Aku merasakan luka yang teramat dalam pada pemandangan yang kulihat meliuk- liuk di depanku. Semburat kehancuran memaksaku untuk terbang dan tenggelam. Lecutan listrik jutaan volt menghantam dadaku dengan sempurna. Kini tinggallah aku si debu yang kotor. Kini tinggallah aku Lumpur tua tak tersentuh yang tak bermakna. Kini aku elemen tak bernilai yang dijejalkan di perhimpunan makhluk laknat berlumur dosa. Inilah aku dan perbuatanku. Inilah aku dan hari- hari penentuan itu. Inilah aku dan selubung jahanam yang menyelubungi masa penantianku akan datangnya Hari Penentuan. Hari akhir dimana mulut- mulut dikunci dengan rapat. Hari dimana manusia memalingkan wajahnya terhadapa manusia lainnya. Hari dimana ayahbunda terpisah dengan buah hatinya. Hari dimana kegelisahan bertaut pada kaki- kaki manusia yang telah dihinakan. Hari dimana tangan- tangan berbicara atas perkara mutlak semasa ia bergelantungan pada manusia yang memegangnya. Inilah aku. Dengan sejuta amanah rakyatku yang kusia- siakan. Inilah aku, dengan segunung kemaksiatan yang telah Tuhan tangguhkan pembalasannya. Hari dimana memang pada akhirnya aku harus mengatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ” Tuhan, hapuslah Hari Pembalasan itu!”, aku berteriak,&lt;br /&gt; “ Tuhan, ampunilah aku!”. Kosong. Sejuta penyesalan berkecamuk. Andai saja aku dilahirkan sebagai sebentuk debu tak bertitik. Tak sangsilah diri ini memikirkan akhirat yang begitu padat akan pertanggungjawaban. Oh, Tuhan!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Yaa Laitanii kuntu turaabaa!”,*&lt;br /&gt; Alankah baiknya jika dulu aku tercipta sebagai sejumput tanah. Tak perlu sedu sedan itu. Tak perlu pertanggungjawaban itu. Tak perlu pembalasan pahit dari Tuhan itu.&lt;br /&gt;Setidaknya aku mencoba mengatakannya sebelum Ia melemparku pada kobaran dahsyat bergelora sesaat setelah aku merintih memohon kepadanya pada rentang waktu keterlambatan yang begitu fatal. Terpuruk dan kekal di neraka- Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandeglang, 6 November 2007.&lt;br /&gt;Teruntuk para tikus berdasi di negeri gemah ripah loh jinawi.&lt;br /&gt;( Urfi Syifa Urohmah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scimitar : Pedang has Turki yang bentuknya melengkung di bagian ujungnya&lt;br /&gt;QS. An- Naba : 40 ( Yaa Laitanii kuntu turaabaaa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-875539989585578971?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/875539989585578971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=875539989585578971' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/875539989585578971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/875539989585578971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/11/l-enfer.html' title='“ L’ Enfer”'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-50420618545474953</id><published>2007-10-28T15:36:00.000+07:00</published><updated>2007-10-28T15:43:05.629+07:00</updated><title type='text'>Satu Hal Penting Lagi</title><content type='html'>Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.&lt;br /&gt;Menangislah ketika seharusnya kau tertawa.&lt;br /&gt;kesimpulannya,,,&lt;br /&gt;Menangislah di dalam kesempatanmu untuk tertawa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-50420618545474953?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/50420618545474953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=50420618545474953' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/50420618545474953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/50420618545474953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/satu-hal-penting-lagi.html' title='Satu Hal Penting Lagi'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-4107357500929693988</id><published>2007-10-28T15:22:00.000+07:00</published><updated>2007-10-28T15:24:56.745+07:00</updated><title type='text'>Ada beberapa rekomndasi Baca dari saya :</title><content type='html'>- Tetralogi Laskar Pelangi&lt;br /&gt;- The Choice by Ahmad Deedat&lt;br /&gt;- La Tahzan for Teens&lt;br /&gt;- Angel and Demon&lt;br /&gt;- The Da Vinci Code&lt;br /&gt;- Holy Blood, Holy Grail&lt;br /&gt;- Kerudung Merah Kirmizi by Remy SYlado&lt;br /&gt;- Harafisy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca yah,,,,&lt;br /&gt;bagus banget lho..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-4107357500929693988?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/4107357500929693988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=4107357500929693988' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/4107357500929693988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/4107357500929693988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/ada-beberapa-rekomndasi-baca-dari-saya.html' title='Ada beberapa rekomndasi Baca dari saya :'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-7323144980084962678</id><published>2007-10-28T15:17:00.000+07:00</published><updated>2007-10-28T15:20:03.601+07:00</updated><title type='text'>Putri Ti_Tian..</title><content type='html'>Tau ga???&lt;br /&gt;Saya punya seorang teman yang luar biasa bersemangat dalam belajar..&lt;br /&gt;Dia...&lt;br /&gt;Tian Istiyana...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-7323144980084962678?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/7323144980084962678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=7323144980084962678' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7323144980084962678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7323144980084962678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/putri-titian.html' title='Putri Ti_Tian..'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-822663634373084929</id><published>2007-10-28T15:06:00.000+07:00</published><updated>2007-10-28T15:17:11.202+07:00</updated><title type='text'>POI</title><content type='html'>POI ( Point of Information ) is the most freak word which i would throw it into the rubbish bin,,,&lt;br /&gt;Gila aja, lagi nak2 ngomong langsung dipotong gytu,,,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-822663634373084929?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/822663634373084929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=822663634373084929' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/822663634373084929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/822663634373084929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/poi.html' title='POI'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-534509140499879719</id><published>2007-10-28T14:57:00.000+07:00</published><updated>2007-10-28T15:02:45.595+07:00</updated><title type='text'>BEte...........................!</title><content type='html'>Gila, ni warnet LOLA banget,,...&lt;br /&gt;mana yang jaganya jutek lagi......&lt;br /&gt;uuh,,, iNdonesia.&lt;br /&gt;katanya ramah orangya,.&lt;br /&gt;boong banget sih.&lt;br /&gt;Cuma beberapa aja tuh yang benar2 Indonesia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fffuuiihhh.&lt;br /&gt;Love,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-534509140499879719?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/534509140499879719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=534509140499879719' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/534509140499879719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/534509140499879719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/bete.html' title='BEte...........................!'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-5717671618044039080</id><published>2007-10-25T15:36:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T15:38:46.710+07:00</updated><title type='text'>A-must-Read,,,</title><content type='html'>Kenapa??&lt;br /&gt;satu. Apresiasi,&lt;br /&gt;Dua, pajak lihat2.&lt;br /&gt;tiga.&lt;br /&gt;don't forget to leave ur comment here,,,,&lt;br /&gt;THANKZZZZ..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-5717671618044039080?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/5717671618044039080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=5717671618044039080' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5717671618044039080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5717671618044039080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/must-read.html' title='A-must-Read,,,'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-2594356228197665630</id><published>2007-10-25T15:32:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T15:35:05.179+07:00</updated><title type='text'>Kalo yang ini,,, kacau,,,,</title><content type='html'>Dia Manusia Bukan Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Urfi Syifa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namanya Sunarto. Bermacam deskripsi orang tentangnya dikala pertama orang melihat dirinya. Dulu dia anak yang baik. Dalam tanda kutip, lebih baik jika dibandingkan dengan anggota keluarganya yang lain. Sunarto hidup dalam dunia yang keras. Dunia yang benar- benar keras untuk dicerna oleh usianya pada saat itu. Hingga kini, Sunarto kecil sudah berganti dengan Sunarto yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari Sunarto yang dulu. Sejarah mencatat fenomena Sunarto. Entah siapa yang menulisnya, buat apa peduli. Yang terpenting, Sunarto memang benar- benar fenomenal. &lt;br /&gt; Dibesarkan di daerah kumuh di kawasan Cawang, JakartaTimur, bukanlah suatu problema yang teramat besar bagi Sunarto. Anak- anak lain yang seusianya juga bisa melewati kehidupan seperti itu, hidup di daerah kumuh yang kalau orang bilang, jauh di bawah garis kemiskinan. Fenomena kaum marginal makin membengkak di Negara kita ini. Tak tahu karma, kutukan, azab dari Tuhan atau apalah namanya, yang jelas, Sunarto itu termasuk salah satu yang ada di dalamnya. &lt;br /&gt; Tetapi, yang menjadi masalah bagi Sunarto, kehidupan keluarganyalah yang membuatnya berubah. Mental dan kepribadian seseorang diwariskan secara tidak langsung dari kedua orangtuanya. Tak bisa dipungkiri, karena memang begitulah realitanya. Ayahnya seorang pemadat dan paling suka main perempuan, sementara ibunya, orang- orang biasa menyebutnya ” jablay ”, atau wanita jarang dibelai, atau dalam arti kata lain, ibunya adalah seorang kupu- kupu malam handal di daerah itu. Tak cukup sampai disitu, ternyata masih ada yang lainnya lagi. Kakak perempuannya mewarisi bakat ibunya, menjadi seorang wanita tuna susila yang sudah kebal dengan berbagai penyakit menular seksual di tubuhnya.Sementara kakak laki- lakinya, adalah seorang preman kejam yang tidak perlu berpikir dua kali untuk mengayunkan pisaunya ke leher orang yang dianggap ” mengusiknya ”. Tanpa disadari, Sunarto kecil yang polos dan belum banyak mengerti menjadi mewarisi itu semua. Perlahan tapi pasti, kepribadiannya terbentuk dari polemik yang terjadi di dalam tubuh keluarganya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ” Bu, kenapa sih bapak jarang banget pulang? ”, Tanya Sunarto kepada ibunya.&lt;br /&gt; “ Alah, Lu kayak nggak tau aja, bapak Lu kan lagi main perempuan! ”&lt;br /&gt; ” Main perempuan itu apa, Bu? Narto nggak ngerti! ”&lt;br /&gt; ” Dasar anak bego, tanya sana sama bapak Lu, ntar juga Lu ngerti sendiri, udah sana pergi, bikin gua pusing aja, Lu! ”, Damprat ibunya kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Begitulah kehidupan Sunarto. Pertanyaan- demi pertanyaan yang diajukannya tidak pernah didapatkannya dari orang- orang terdekatnya. Yang ada, Sunarto mencari sendiri jawabannya, hingga mencobanya sendiri. Tragis memang, tapi mau bagaimana lagi. Anak kecil yang ingin tahu segala sesuatu pastilah akan mencari jawaban dari pertanyaannya sampai ketemu. Begitu juga Narto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Teh Cicih, kemarin Teteh pulang sama siapa? Kok pake dicium- cium segala sih, Teh? Mobilnya bagus juga, Teh, tapi kok mau- maunya sih masuk ke kampung kita yang bau kayak gini? “&lt;br /&gt; “ Heh, anak kecil, tau apa sih Lu? Asal Lu tau aja, ya, kalo ga ada dia, gua ga bisa ketemu nasi tiap ari, ngerti kagak Lu? ”&lt;br /&gt; ” Emangnya dia tukang nasi, Teh? ”&lt;br /&gt; ” Bukan, bego, tapi dia orang kaya yang ngejadiin gua piaraannya, udah, Lu ga usah tanya- tanya gua lagi, gua capek banget, mau tidur, tadi gua abis main tiga ronde sama dia! ”, Jawab kakak perempuannya, Cicih Sunengsih ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Narto hanya melongo mendengar penjelasan yang ia tak mengerti sama sekali. Sementara itu, waktu terus berlanjut, hingga membawa Sunarto kecil ke masa dimana dirinya sudah mengetahui seluruh polemik yang terjadi di dalam tubuh orang- orang yang hidup di sekelilingnya. Dengan mencari jawabannya sendiri, tentunya. Himpitan ekonomi yang menerpa kehidupannya semenjak ia dilahirkan ke muka bumi ini hingga ia menghirup nafas sebagai pemuda dewasa, memaksa dirinya untuk lari dari kenyataan hidup. Mencopet, menjambret dan memalak adalah rutinitas Narto kini. Jangan tanya mengapa ia melakukannya. Karena orang- orang terdekatnya saja tidak pernah menanyakannya. Bakat menjadi seorang pemadat dan main perempuan diwariskan oleh ayahnya. Otomatis, karena hukum alam tetap berlaku. Bakat merampas hak milik orang lain, termasuk melenyapkan nyawa orang lain ia dapatkan dari Warto, kakak laki- lakinya.&lt;br /&gt; ” Mau ngapain Lu bawa- bawa cewek ke sini? ”, Ibunya bertanya.&lt;br /&gt; ” Ngapain Ibu tanya- tanya, dulu, waktu Ibu bawa om- om kesini, Narto ga pernah nanya! Jadi sekarang, Ibu ga usah tanya- tanya, karena kita udah SST, alias Sama- Sama Tau! Ngerti, Bu? ”, Jawabnya.&lt;br /&gt; ” Oh, jadi sekarang Lu udah mulai kurang ajar, ya, sama gua? ”&lt;br /&gt; ” Terserah, yang jelas, yang ngajarin Narto kayak gini itu Ibu! ”, Narto menimpali sambil membawa masuk seorang Pekerja Seks Komersial ke dalam gubuk reyot berukuran 6x5 meter yang menjadi tempat tinggal ia dan keluarganya itu. Apa yang dilakukannya di dalam? Tentu saja sama seperti kegiatan yang ia saksikan ketika masa kecilnya dulu, dimana Ibu dan kakak perempuannya sendiri bergumul dengan pria asing yang tak pernah dikenalnya. Dan kini, pemandangan itu menjelma menjadi realita kehidupan dirinya sendiri.&lt;br /&gt; Kini, Ayah dan Ibunya sudah lanjut usia. Kakak perempuannya? Sudah tak terlalu menarik lagi untuk dijadikan sebagai ” tempat rekreasi” para pria hidung belang. Stok lama, katanya. Plus Raja singa yang bersarang di tubuhnya. Dan kakak laki- lakinya, kariernya sebagai seorang preman udah tamat, setelah dirinya habis babak belur dihajar massa ketika kedapatan menjambret tas seorang nenek- nenek di sebuah halte bis, beberapa tahun lalu, hingga menyebabkan dirinya tewas. Kini, hanya Sunarto yang bisa dikatakan sebagai orang kuat di keluarga yang tak pernah dicintainya itu. Bak seorang raja, kini, apapun yang Narto perintahkan, harus mereka dengarkan. Jika tidak, pisau lipatnya akan berbicara. Persis seperti kakak laki- laki dan ayahnya beberapa tahun lalu.&lt;br /&gt; ” Cih, gua mau Makan, cepet siapin, gua laper banget! “, Perintahnya, sambil memecah kesunyian malam.&lt;br /&gt; “ Berani- beraninya Lu nyuruh gua, emang gua babu Elu, apa? “&lt;br /&gt; “ Eh, bacot, Lu, ga tau ini apaan? ”, Ancam Narto sambil mengacungkan pisaunya ke arah kakak perempuannya itu. &lt;br /&gt; “ Banyak laga, ya, Lu? Coba aja kalo berani! ”&lt;br /&gt; ” Jadi Lu ga takut, ya, sama gua? Mau Lu gua perkosa? Mau, Lu gua bacok? Mau lu gua potong- potong, Hah? ”, Hardik Narto.&lt;br /&gt; ” Alah, bisanya Cuma ngomong doang, dasar preman kampung! “&lt;br /&gt; “ Brengsek Lu, ya, mau coba, Hah? “, Ancamnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba- tiba datang ibunya dari dapur untuk melerai keduanya. Dengan perasaan marah bercampur takut, ia mendekati keduanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Lu semua udah pada gila, ya? Pake mau bunuh- bunuhan segala, lagi? Nyebut, Lu pada! ”, Teriak ibunya.&lt;br /&gt; ” Alah, banyak ngomong Lu pada! Kalo berani, maju Lu berdua! ”, Ancam Narto sambil mengacungkan lagi pisaunya. Ia maju mengayunkan pisaunya ke arah kakak perempuannya yang lemah tak berdaya. Ketika ia ingin melanjutkan aksinya ke arah ibunya, ibunya kabur dari gubuk nista tersebut. Ibunya kabur sejauh- jauhnya dari tempat itu. Sementara Narto? Ia kini tak peduli dengan Ibunya yang telah kabur entah kemana itu. Ia asyik membacokkan pisaunya ke tubuh kakak perempuannya yang kini telah tak berdaya itu. Satu nyawa lagi telah melayang. Sebelumnya, ia pernah menbunuh dua orang sekaligus, yaitu tukang ojek dan penumpangnya, tentunya. Kini ia masih dalam status buronan polisi, dan kini, kasusnya pasti lebih berat lagi. &lt;br /&gt; Narto masih asyik membacoki tubuh kakak perempuannya, Cicih Sunegsih. Sesuai janjinya, kakak perempuannya memang dipotong- potong. Dimutilasi. Ironinya, ia memutilasi kakak kandungnya sendiri. Sunarto seolah sudah kehilangan akal sehatnya. Entah iblis mana yang telah merasuk ke dalam dirinya. Nafasnya mendengus- dengus seperti serigala buas yang mendapat mangsa. Diambilnya potongan telinga Cicih, bagian terlunak yang ia gapai pertama kali. Selanjutnya, ia mengunyah telinga Cicih sampai tuntas. Darah segar memuncrat kemana- mana. Ruangan yang sempit itu berubah aromanya. Dari aroma kumuh dan bau menyengat comberan, menjadi amis darah yang tak tertahankan. Selesai dengan telinga, ia mencungkil mata kanan Cicih, dan mengunyahnya dengan perasaan sedikit jijik. Tapi ia terlihat menikmati rasa jijiknya itu. Sesekali desahan panjang nafasnya mengalun.&lt;br /&gt; ” Enak juga, daging si Cicih. “, Seraya melanjutkan “ makan malamnya itu. Sunarto juga diuntungkan dengan posisi rumahnya. Berada tepat di bawah jalan layang yang amat bising, membuat setiap teriakan menjadi tak berarti. Begitu pula teriakan Cicih sebelum ia dihabisi oleh adiknya sendiri itu.&lt;br /&gt;Sambil sedikit berfantasi dengan payudara cicih, Narto juga mengunyah bagian itu perlahan- lahan. &lt;br /&gt;” Hahaha, pantes aja nggak ada yang doyan lagi sama si Cicih, toketnya udah kendor! ”, Gumamnya.&lt;br /&gt;Narto benar- benar sudah kesetanan. Dijilatinya darah yang menetes di sela- sela bibir dan mulutnya, sambil terus mengunyah daging manusia di hadapannya itu. Narto mungin sudah sakit jiwa. Buktinya, ia tak memikirkan hal apa yang akan terjadi setelah itu. Bahkan, memikirkan jeruji besipun tidak. Narto seperti bukan manusia. Animo yang ada, mungkin dia memang bukan manusia, melainkan jelmaan iblis atau sebangsanya.&lt;br /&gt;Dari kejauhan, terdengar derap langkah ringkih ayahnya. Sambil terbatuk, ia masuk ke dalam gubuknya itu. Jantungnya berdegup keras. Wajahnya pucat. Darahnya mengalir lebih cepat dari biasanya, dan mulutnya terasa kaku, ketika melihat pemandangan ” indah ” di hadapannya. Sunarto tersentak kaget, dan menghentikan sejenak aksinya.&lt;br /&gt;” Nar....to? Elu...nga..pa..in..?”, Tanya lelaki tua itu tergugup.&lt;br /&gt;” Gua lagi makan, mau apa, Pak? Mau nyobain? Nih, daging anak kesayangan Lu, si Cicih, lumayan, empuk juga! ”, Timpal Narto.&lt;br /&gt;” Ja...di..ii..tu..?”&lt;br /&gt;” Iya, ini si Cicih, mau apa, Pak? Mau nyusul? ”&lt;br /&gt;” Dasar anak setan! Bangsat Lu, ya, Lu bunuh kakak kandung Lu sendiri? Jahanam Lu! ”, Teriaknya.&lt;br /&gt;” Eh, apa Lu bilang, Pak tua? Jadi Lu emang bener- bener mau nyusul si Cicih, ya? Ni, gua kasih tau rasanya dibacok sama orang!”, Seru Narto sambil menerkam ayahnya yang renta, membekap mulutnya, hingga terakhir, menikamkan pisaunya ke leher ayahnya, dan seketika ayahnya juga tewas di tangannya. Merasa tidak puas, ia juga mengoyak- ngoyak tubuh ayahnya, namun tidak memakannya. Alot, dia bilang. Di tengah kesunyian malam, Sunarto mencari- cari karung di belakang gubuknya. Setelah menemukan, ia masukkan tubuh Cicih dan ayahnya ke dalam karung tersebut. Setelah itu, ia tertidur kekenyangan di samping onggokan daging yang telah dimasukkan  ke dalam karung tersebut. Betapa bodohnya ia, karena menganggap ia akan terus menghirup udara bebas selama hidupnya. Dia tak sadar, beberapa saat lagi, ia tak akan menghirup udara bebas lagi.&lt;br /&gt;Sementara itu, Ibunya melarikan diri ke kantor polisi terdekat. Sambil terengah- engah ketakutan, ia masuk ke dalam kantor polisi tersebut, dan berteriak ketakutan seperti orang gila.&lt;br /&gt;” Dia bunuh Cicih, dia bunuh Cicih! “, Ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan orang polisi yang sedang berjaga langsung menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kenapa, Bu? Ada apa? Tolong Tenang! “, kata salah satu polisi menenangkan dirinya.&lt;br /&gt;” Dia bunuh Cicih, dia tusuk Cicih, dia, Aaaaa.....Cicih......! ”, Teriaknya histeris.&lt;br /&gt;” Siapa, Bu yang bunuh Cicih? Siapa Cicih? Tolong tenang dan ceritakan persoalan yang jelas kepada kami, Bu! ”, Kata seorang Polisi lagi.&lt;br /&gt;Setelah meneguk segelas air putih yang diberikan oleh salah satu polisi, Ibunya Sunarto sudah mulai tenang dan menceritakan kejadiannya pada polisi tersebut. Seketika, itu pula, lima orang polisi bersenjata lengkap langsung memburu Sunarto, buronan sekaligus pembunuh beberapa nyawa lagi, yang amat mereka cari. &lt;br /&gt; Sunarto masih tertidur ketika ia digerebek oleh polisi di gubuk nista tersebut. Sunarto mencoba kabur, dan melawan petugas, sehingga terpaksa petugas melontarkan timah panas mereka ke arah Sunarto. Dua buah peluru menembus jantungnya, tetapi ajaibnya, ia masih sanggup untuk melawan, hingga peluru terakhir yang bersarang di kepalanya mematikan gerakannya. Mematikan hidupnya. Menamatkan riwayatnya. Sunarto tewas. Beberapa jam setelah ia menamatkan riwayat kakak dan ayahnya. Wajahnya terpampang di mana- mana, baik di media cetak maupun elektronik. Sunarto termasuk salah satu kanibal yang sukses. Mengapa sukses? Karena daging yang dicernanya adalah daging kakak perempuannya sendiri. Gubuk nista tersebut disegel oleh polisi. Tak ada seorangpun kini, yang berani melewati daerah tersebut, hingga muncul legenda tentang Sunarto. Sunarto Sang Kanibal Sejati. Pembunuh berkarier sukses, yang pernah hidup di abad ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara Ibunya? Ia masih hidup hingga kini. Tetapi, jiwanya kini terganggu. Pemandangan ketika Sunarto, darah dagingnya yang membunuh kakak kandungnya sendiri, Cicih Sunengsih membekas terlalu dalam di pikirannya. Rasa phobia menghantuinya, hingga ia menderita paranoid permanen yang tak pernah bisa disembuhkan. Hingga ajalnya menjemput. Entah kapan waktunya tiba.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt; ( Imajinasi di siang hari, untuk teman- temanku semua )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-2594356228197665630?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/2594356228197665630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=2594356228197665630' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2594356228197665630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2594356228197665630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/kalo-yang-ini-kacau.html' title='Kalo yang ini,,, kacau,,,,'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-6809630466752053472</id><published>2007-10-25T15:31:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T15:32:23.501+07:00</updated><title type='text'>Ini Kutulis Ketika Guruku Tercinta, Bunda Iroh Siti Zahroh, pergi,,</title><content type='html'>Ketika Bunda Pergi&lt;br /&gt;Oleh : Urfi Syifa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Walau kutahu, cintamu takkan pernah mati )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari belum senja. Matahari masih tinggi. Menyinari bumi, memberi rona pada langit. Syahdu tak tertandingi.&lt;br /&gt;Bunda telah pergi. Menyibak duka, berkalang noda. Mengiris urat syaraf yang hampir mati kini.&lt;br /&gt; Bunda telah pergi. Mengurai nestapa berlandaskan cinta. Mengukir sebuah tarian dan hujamnya luka.&lt;br /&gt; Bunda pergi. Diiringi tangisan dan derasnya air mata, juga semburat jelaga kekecewaan.&lt;br /&gt; Tapi Bunda harus pergi. Bunda telah pergi. Dia bilang cinta. Dia bilang “ Hapuslah air mata “. Dia bilang, aku berdo’a.&lt;br /&gt; Agar kita bisa. Tetap satu. Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda : Ketika aku menatapmu kini, itulah tanda, bahwa setelah ini, kita tak bisa  bersama lagi.&lt;br /&gt;Anak : Tapi Bunda, mengapa?&lt;br /&gt;Bunda : Terlalu biasa jika kuraikan padamu semuanya,&lt;br /&gt;Anak : Apa? Terlalu biasa bagaimana?&lt;br /&gt;Bunda : Misteri, Anakku. Aku ingin semua ini tetap jadi misteri. Mengertilah, Nak!..&lt;br /&gt;Anak : Tapi Bunda, untuk apa sebuah realita dibungkam menjadi sebuah misteri? Aku butuh cinta.&lt;br /&gt;Bunda : Aku tak pernah lelah memberimu cinta. Dia Yang Mahakuasa masih memberiku kekuatan sebagai seorang pecinta. Jangan Kau ragukan itu, Nak!..&lt;br /&gt;Anak : Cinta seperti apakah ini? Dengan Kau meninggalkan diriku disini? Dengan KAu membubuhkan misteri yang aku tak mengerti?&lt;br /&gt;Bunda : Sesungguhnya Kau telah mengerti. Biarlah aku tetap berwarna biru. Mengapa? Satu, Anakku. Jika kau rindu padaku, tataplah lautan yang membentang luas disana.&lt;br /&gt;Anak : Bunda, lautan tak selamanya biru,&lt;br /&gt;Bunda : Kalau begitu, Kau cukup menatap langit senja yang berwarna jingga di ufuk barat sana.&lt;br /&gt;Anak : Dan jika langitku kelam tertutup kabut?&lt;br /&gt;Bunda : Hatiku dan hatimu tetapi satu.&lt;br /&gt;Anak : Aku tak dapat menyembunyikan keraguan dan kegalauan hatiku,&lt;br /&gt;Bunda : Tataplah aku. Pandangilah mataku. Apakah kau melihat sebuah kepalsuan disana? Apakah kau melihat kebohongan di dalam lingkaran bola mataku ini?&lt;br /&gt;Anak : Tidak, Bunda. Justru aku melihatt binar yang kian menelaga. Bunda, sungguh, aku tak bisa menyangsikan lagi kini, sebuah cinta suci yang kau limpahkan kepadaku. Walau aku harus rela melepas kepergianmu!..&lt;br /&gt;Bunda :  Bintang dan bulan jadi saksi, Anakku. Sebuah keyakinan atas sebuah pengabdian yang sakral.  Selamat tinggal Anakku,..&lt;br /&gt;  Peluk sayangku untukmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Bunda pergi tinggalkanku. Tanpa senyum, tanpa tangis, dan tanpa sebentuk kata perpisahan dua nuansa batin yang saling mencinta. Ia pergi tanpa melihat bola bening yang siap membanjir ini. Ia pergi, tanpa itu semua. Oh, Bunda..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda : Aku ini manusia. Kadang aku rapuh. Walau terkadang pula, aku bisa menjadi  sesosok baja yang tak tergoyahkan lagi. Anakku, aku hanya tak ingin melihat kacamu retak di hadapanku. Aku tak ingin memandangimu terisak di benakku. Cukup Tuhan, aku dan Engkau tahu. Dalam do’a selalu kusisipkan namamu.&lt;br /&gt;     Ingatlah selalu, bahwa aku, selalu mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’aku tulus untuk dirimu,..Matahari kecilku,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya Allah Ya Tuhanku, Maha Penggenggam Langit dan Bumi. Peliharalah matahariku. Peliharalah jiwanya, agar senantiasa berada dalam kesucian dan kemurnian pikiran secercah jiwa- jiwa kecil yang tenang. Jagalah ia, di kaki langit manapun ia berpijak, karena sesungguhnya, aku mencintainya dalam setiap getaran sukmaku. Ya Robbi, biarkanlah matahariku tetap bersinar, menerangi bumi, dan memberikan warna yang terlalu indah bagi lautan dan langit senja. Sampaikan salamku padanya lewat nyanyian indah di buaian mimpinya malam ini. Ya Robbi, pertemukanlah kami kembali dalam jalinan kasih sesama manusia nantinya. Di tempat yang tak bisa dilihat mata, dan tak bisa dijangkau alam pikiran manusia. Surga- Mu yang Abadi, wahai Illahi Robbi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ( Aku tak pernah berhenti mencintaimu, Bunda !)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-6809630466752053472?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/6809630466752053472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=6809630466752053472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/6809630466752053472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/6809630466752053472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/ini-kutulis-ketika-guruku-tercinta.html' title='Ini Kutulis Ketika Guruku Tercinta, Bunda Iroh Siti Zahroh, pergi,,'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-9006651920463176524</id><published>2007-10-25T15:29:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T15:31:03.836+07:00</updated><title type='text'>Ini Pernah Dimuat di Radar Banten edisi 20 Oktober 2007 lalu</title><content type='html'>Rintihan Parau &lt;br /&gt;Oleh : Urfi Syifa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertempur dalam dimensi ruang dan waktu adalah hal yang harfiahnya amat sulit kugapai. Aku hanyalah seonggok tumpukan karet busuk yang hanya menjalar di kaki- kaki yang berbau busuk. Aku tak pernah berhenti berusaha untuk keluar dari neraka busuk ini, tetapi hal tersebut amat sulit kurealisasikan ke alam nyata, hanya mampu bertahan dalam ilusi kesenjangan waktu yang tak tergubris, dalam kisaran waktu tak bertempo dan bermateri, hanya dalam kelelahan sang rembulan yang redup kumenanti.&lt;br /&gt; Aku dan tubuhku. Bermanifestasi dalam keheningan sunyi dan senyapnya ombak di pantai kebuntuan. Kadang aku disentuh oleh manusia dan makhluk yang lain, hingga ku menggelepar dan menari, tapi mereka tak pernah mampu untuk mendengar rintihanku. Panggil aku makhluk tak bernyawa. Mereka selalu menganggapku sebagai makhluk tak bernyawa. Mereka selalu merundukkanku dengan materi tak bertuah yang hanya menyengsarakan kepahitanku pekat dan semakin pekat diatas ambang batas meracun tubuh manusia. Aku ini buta, tapi nuraniku tak pernah buta. Aku bersendawa dalam untaian muatiara busuk di hadapanku. Aroma yang selalu meniadakan nyawa dan ragaku selalu bersemayam di hari- hariku yang penat dan padat. Mereka hanya bisa memanfaatkan keberadaanku. Mereka tak pernah berdosa ketika buana kedigdayaan mereka harus memperkosa hak- hak pribadiku. Menginjak- injak harga diriku, dan enggan untuk mendengarkan interupsi kecil yang kuenyahkan dari rongga- rongga bibirku yang selalu basah oleh keringat kematian ini.&lt;br /&gt; Aku terluka. Terhempas badai jamur beracun yang hinggap di dua sisi duniaku. Tubuhku pengap, seakan hancur oleh vitalitas manusia biadab yang selalu memperlakukanku seenak perut mereka. Memaafkan mereka? Tak akan pernah kuucapkan atau sekedar meniatkannya dalam kalbuku.. hati ini tertembus ilalang tajam, menghujam ke dasar bumi ketulusan jiwaku, mencabiknya, merobeknya, hingga akupun harus mati ketika membayangkan saat- saat itu berjelaga. Fana.&lt;br /&gt; Aku tahu ini semua fana! Tapi Tuhan, Engkaulah Sang Hidup yang terus memberiku kekuatan untuk selalu bersimpuh kepadamu. Aku masih bisa bermunajat dalam kesenggangan waktuku yang hanya terpagut dalam buaian mimpiki, karena sisa nafas yang selalu kureguk dari indahnya keberadaan- Mu disana, Tuhanku!&lt;br /&gt; Terpakasa aku harus bernegosiasi dengan monster yang selalu menindihku ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Mengapa kau tak pernah menyumbang asa untuk membelaiku walau sedikit saja?”, tanyaku pada monster besar di hadapanku ini.&lt;br /&gt; “ Jangan kau tanya aku, Tanya dirimu!”, jawabnya ketus.&lt;br /&gt; “ Aku bertanya padamu, wahai manusia biadab yang tak punya hati!”, timpalku.&lt;br /&gt; “ kau jangan memancing meluapnya emosiku, ya!”, ancamnya.&lt;br /&gt; “ Lantas, apa yang akan kau lakukan jika aku telah menstimulus naluri membunuhmu, Hah?”, tantangku.&lt;br /&gt; “ Jika bukan karena maksudku untuk selalu memanfaatkan eksistensimu, telah kulumat kau habis ke dalam kobaran api dahsyat yang tak tertandingi!”, ujarnya penuh amarah.&lt;br /&gt; Aku terdiam. Sesaat diriku terpana. Tatapanku kosong, menerawang ke kerajaan Tuhan di lapis langit ketujuh disana. Meraba detak jantungku yang masih bergetar ini, aku hinggap ke dalam alam bawah sadarku. Hening. Aku bertanya pada Tuhan. Maksudnya, aku berusaha untuk bermeditasi dengan keberadaan Tuhan disana. Aku akan mencoba kegalauan merpati tak berwarna yang menyerabut di goyangan sebentuk hatiku ni untuk bertransformasi terhadap kebimbangan jiwa yang selalu kutautkan dalam do’aku pada Tuhan Sang Penbentuk Alam.&lt;br /&gt; Sia- sia kumenanti. Sia- sia ku mengolah asa. Batin ini selalu ingin menyeruak. Naluri ketidaksabaranku mulai mengelupas sedikt demi sedikit. Aku tak dapat mencapai pancaran sinar itu. Hanya hembusan angina surga ynag masih dapat menopang kedua sayapku di sini. Ketika aku berkaca pada diriku sendiri, ia hanya menjawab dengan gumaman yang hampir sama dengan anggukan nafas yang kuhembuskan tiap sekonnya. Aku mencoba menderukan maskapai sukmaku untuk menggapai titik terang yang semakin menggelora diujung misteri kegelapan yang tengah menyelimuti sekujur tubuhku ini. Malaikat yang sedang menyulam menghampiriku dengan tawa segarnmya yang lembut,&lt;br /&gt; “ Wahai kau makhluk sabar yang suci, hendak kemanakah dirimu hinggap?”, tanyanya ramah kepada dua duniaku.&lt;br /&gt; “ Aku ingin menjamah singgasana Tuhan, menyampaikan segala kegalauan hatiku pada deburan kasih- Nya yang abadi!”, jawabku.&lt;br /&gt; “ Tetapi, apakah kau pernah menyadari, bahwa dirimu yang kini lebih suci disbanding dengan luapan emosimu?”, tambahnya lagi. Ekspresinya kini menggumpal tajam. Suaranyatak separau sapaannya ynag pertama. Lebih kepada nada bijak tak menjilat.&lt;br /&gt; “ Aku? Aku terkikis oleh emosi pribadiku?”, tanyaku tak yakin,&lt;br /&gt; “ Ya, dan tahukah kamu bahwa sebenarnya, ruangan ynag indah itu jauh berada mendasar di dalam bergelimangnya luapan kesedihan ynag kini terus kau alami,”, ungkapnya bijak.&lt;br /&gt; Aku berseloroh, “ Apakah kau sedang bercanda?”,&lt;br /&gt; “ Tak ada waktu untuk kami para malaikat putih untuk berlelucon ria di pagi buta dan bersendawa dengan ketidak faedahan waktu, karena tugas kami adalah menyampaikan kabar bagimu dan menyanjungkan asma nan agung bagi Tuhan Pencipta alam semesta.&lt;br /&gt; Aku menyeringai malu. Malu bercampur rasa batin bahagia dan berkalang serat keharuan yang membiru. Kau tahu? Kini aku padu. Aku? Dengan semua yang kupunya, dengan kembaran sukmaku yang selalu berada di samping kiriku, melaju dan berpacu dengan hentakan melodi waktu kini. Aku semakin yakin bahwa aroma surga yang dulu hanya bisa kuimpikan, akan segera menjadi resolusi tajam yang menyeruak secara gambalang dalam gumpalan materi yang menyusun tubuhku ini.&lt;br /&gt; Tak apalah aku dihina. Tak apalah aku dicampa. Tak apalah aku terlunta. Bernanah, berdarah dan berkeringat oleh kejamnya pagutan dunia. Ternelenggu dalam kisaransang waktu. Diperbudak oleh sang monster yang terlalu mudah untuk membeli ragaku dan menghempaskanku setelah ia puas mengeksploitasi diriku. Aku hanya bisa berdo’a kepada Tuhanku, agar kelak ia bersedia untuk mengangkat diriku di sisi- Nya atas keikhlasan batinku yang selalu kulimpahkan dalam hari- hariku ini. Tepatnya, sisa hari- hariku yang tak terpaut oleh dentingan jarum jam lagi kini, karena begitu sempitnya ia. &lt;br /&gt; Aku bersemayam pada salah satu system sarafku yang semakin lumpuh. Aku larut akan usia yang selalu menggerogoti sisa hari- hariku perlahan tapi pasti ini. Aku melagukan separuh nafas yang terpendam dalam naluri kemanusiaan yang sedikit kuserap dari mereka. Aku tak pernah melawan batin dan nafsu mereka. Walau aku diperkosa, dihina, diinjak- injak dalam pelangi duka, lara dan nestapa, tak pernah sekelumit kisahku yang mampu membalikkan keadaan, karena pada hakikatnya, inilah aku, dan tak mengapalah aku tetap menjadi aku yang dulu. Aku ini biru, karena aku ini diciptakan biru. Aku tak pernah meminta Tuhanku untuk mengubahku menjadi emas, intan berlian atau perak, karena pada hakikatnya, keadaanku adalah jalinan asaku yang tak pernah pudar jalinannya. Dan aku akan menghadap Tuhanku dengan wajah berseri tanpa gundah gulana yang tak terperi ketika aku akan menghadap Tuhanku di sana. Di hari yang telah ditentukan itu.&lt;br /&gt; Aku tak bisa bermetafora, karena sesungguhnya, metafora itu sendiri adalah aku. Aku tak bisa bersenyawa, karena sesungguhnya, senyawa itu sendiri adalah akau. Aku tak terbayangkan busuk dan kotornya, karena sebenarnya, busuk dan kotor itu adalah aku. Aku tak bisa menggoyangkan mega, karena sesungguhnya, mega tercipta ketika aku tercipta pula. Aku tak bisa disandingkan dengan neraka dunia, karena neraka dunia adalah tempat bersemayamku saat ini. &lt;br /&gt; Kebiadaban virus jahanam yang selalu membuntutiku kini semakin menggerogoti tubuhku yang kian mengecil ini. Aku tak mengecil, tetapi rona nafasku kian tersengal. Terguling dalam kebuntuan dan harga mati sebuah rasa.&lt;br /&gt; Sistem transportasiku berdesir lebih hebat dibandingkan dengan aku yang dulu. Ada apa gerangan? Apakah aku ini sarat dengan lubang hitam kematian? Apakah nyawaku semakin getir dirundung paranoia kematian yang akan segera tiba? Apa aku harus berteriak? Merintih dan meronta pada Sang Hidup di nirwana sana? Menggadaikan kerelaan batin redup untuk mengambil sisa hidup? Mendramatisir situasi demi menggapai praduga penundaan penuntasan ajal? Atau aku harus berlari? Dengan apa? Aku tak punya sepasang kaki. Aku hanya bisa berdiam diri. Menunggu sang monster mencampakkanku. Mengiris- iris urat nadiku, dan melenyapkanku. Tetapi tunggu, aku akan berusaha memanggil nurani sang monster biadab di hadapanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Tuan, apa kau tak pernah ingat akan semua pengorbananku? “, tanyaku padanya.&lt;br /&gt; “ Hahaha, pengorbanan? Pengorbanan yang mana? “, jawabnya sengit.&lt;br /&gt; “ Tentu saja pengorbananku padamu selama aku merevitalisasi diriku untuk berbakti padamu, merelakan tubuhku untuk selalu menitis rasa sakit akibat kebiadabanmu ketika kau menginjak- injak kehormatanku!”, ujarku berapi- api.&lt;br /&gt; “ Apapun yang kau katakan, tak akan pernah kugubris dan kudengarkan wahai kau makhluk yang malang!”, makinya padaku.&lt;br /&gt; “ Lalu, kau akan segera membunuh dan mencampakkanku? “, tanyaku cemas.&lt;br /&gt; “ Hahaha, tentu saja, bodoh! Makhluk- makhluk pandir sepertimu, sangat mudah untuk dibeli nyawa dan raganya! Bahkan, kau lebih buruk jika dibandingkan dengan budak setan terkutuk sekalipun!”, murkanya.&lt;br /&gt; Aku tak akan menangis. Mataku sembab, basah oleh timbunan air mata kekosongan. Aku tak akan pernah menangis karena monster hitam itu. Binarku menelaga, tetapi aku tetap tak akan pernah menangis untuknya.&lt;br /&gt; Aku terhenyak. Gugusan bintang mengerut. Gelap dan tertutup kabut. Aku dibunuh! Aku terbunuh oleh tangan monster ganas itu! Aku dilenyapkan oleh kebusukan makhluk itu! Setelah sekelumit panjang kisah hidupku yang selalu nista terinjak- injak iblis durjana itu!&lt;br /&gt; Tetapi tunggu dulu. Aku melihat sesuatu. Anak mataku menangkap bayangan semesta terindah di ufuk utara. Aku menguat. Jaringan- jaringan tubuhku kembali bereaksi. Aksonku merayap cepat, menyampaikan stimulus pada elang yang menjadi kesatuan utuhku. Aku seperti terlahir kembali. Suci.&lt;br /&gt; Kali ini aku emas. Aku terlahir dengan plakat emas bertahtakan intan berlian. Begitu pula dengan kembaranku. Aku? padu.  Tuhan memang tak pernah berdusta. Tuhan tak perbah mengumbar kabar burung murahan yang sulit untuk digandrungi keabsahannya. Aku menjadi saksi hidup kebesaran dan keagungan- Nya. Disini. Di nirwana ini. Di kumpulan peraduan surga- Nya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tak membangkang kehendak Tuhan&lt;br /&gt; Aku tak menapik kekuasaan Tuhan&lt;br /&gt; Aku mengagumi keindahan Tuhan&lt;br /&gt; Aku mencintai keesaan Tuhan&lt;br /&gt; Aku melucuti kesangsian naluriku untuk menggapai ridho- Mu, Ya Tuhanku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menyesal meski sang monster mencampakkanku, &lt;br /&gt;Aku tak merongrong sang belati yang menghujam ke tubuhku,&lt;br /&gt;Asaku menggelora. Melipat luapan batin yang kini mereda,&lt;br /&gt;Aku?  kini aku makhluk paling beruntung.&lt;br /&gt;Aku dijadikan alas kaki penghuni surga!&lt;br /&gt;Bukan alas kaki si monster pesakitan busuk dahulu kala!&lt;br /&gt;Tetapi kaki harum kesturi para ahli surga!&lt;br /&gt;Ya, aku ini memang sendal jepit usang paling beruntung se- jagat raya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandeglang,  11 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-9006651920463176524?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/9006651920463176524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=9006651920463176524' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/9006651920463176524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/9006651920463176524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/ini-pernah-dimuat-di-radar-banten-edisi.html' title='Ini Pernah Dimuat di Radar Banten edisi 20 Oktober 2007 lalu'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-458307059647841965</id><published>2007-10-25T15:28:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T15:29:36.563+07:00</updated><title type='text'>Baru Blajar Bahasa Sunda,,,</title><content type='html'>Banten I’m in Love! Ups!....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : _oEvRy_&lt;br /&gt;(Urfi Syifa Urohmah )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Duh, Na, ieu beuteung teh teu daek cicing, hayangna diisian bae! “. Temanku, sekaligus asisten pelatihku yang baru kukenal beberapa waktu yang lalu di sanggar pelatihan kesenian banten “ Bungah “, Jajang Sudrajat, yang berbadan tambun itu sejak tadi terus saja mencerocos tak ada habisnya. Maklum, perut tambunnya memang selalu butuh asupan makanan setiap beberapa menit sekali. Tetapi, yang membuatku terganggu sekaligus bingung luar biasa  adalah ia selalu mengekspresikan keluhan atau apapun dengan bahasa sunda yang aku tak mengerti. Memang sih, aku ini tinggal di Banten, tetapi kadang aku ini merasa malu jadi orang Banten, masa bahasa sunda saja aku tak mengerti.&lt;br /&gt; Ayahku berdarah betawi, tetapi ibuku memang orang Banten asli. Ia dilahirkan di Menes, salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Pandeglang, sekitar 25 kilometer dari alun- alun Pandeglang. Atas dasar inilah salah satunya aku jadi malu menjadi orang Banten. Bukan malu karena keadaan Banten, tetapi malu pada diriku sendiri. Sampai suatu ketika nenekku pernah berbicara  “ Orok menes teu tiasa nyarios sunda, kumaha ieu Neng,! “. Dan tentu saja, seisi rumah menertawakanku sepuasnya. Malu juga sih, tapi mau bagaimana lagi?. Ya dijalani saja.&lt;br /&gt; Aku memang dilahirkan di Banten, di Tangerang, tepatnya. Tapi, karena aku lama menetap di luar negeri, di kawasan Orchard Road, Singapura dan Oslo, Norwegia tepatnya, aku jadi terbiasa berbahasa inggris setiap harinya. Ayahku seorang diplomat, maka otomatis, tempat tinggal kami disesuaikan dengan negara tempat ayahku bekerja. Bahasa sunda? Mana pernah dengar. Ibuku saja jarang sekali menggunakannya. Hanya beberapa kali saja kudengar ketika ia berbicara dengan nenek atau keluarga dari Menes yang lainnya. Selebihnya? Aku terbiasa dengan How Are You? , bukan Kumaha Damang?, yang pernah kudengar ketika Ibu menelepon nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tetapi ini juga jadi masalah. Tentu saja bukan masalah ketika aku berbahasa di Madani Secondary School, almamaterku yang berlokasi di Tangerang ini, karena kami memang diwajibkan berbahasa inggris dan arab setiap harinya. Tetapi, ini menjadi masalah besar, karena aku terpilih menjadi duta Indonesia dalam pertukaran pelajar selama dua bulan di Sydney, New South Wales, Australia. Salah satu program yang harus aku jalani adalah memperkenalkan budaya Banten, mulai dari bahasa, kesenian tradisional, hingga pariwisata Banten. Awal mulanya, aku tak menyangka sama sekali akan ada program seperti itu, karena tes penyeleksian hanya berdasarkan nilai TOEFL ( Test Of English As Foreign Language ), IELTS, dan Nilai Akademik saja. Akupun melakukan semua rangkaian test ini via internet, hingga akhirnya aku terpilih dan menjadi salah satu dari dua belas pelajar yang berhasil mewakili Provinsi Banten dalam ajang ini. &lt;br /&gt; Mau tidak mau, aku harus memperdalam kebudayaan Banten. Mulai dari bahasa sunda, hingga belajar salah satu kesenian Banten, Dogdog Lojor. Ibuku saja sampai menjemput nenekku dari Menes untuk menginap di rumahku dan menjadi “ Guru Privat “ bahasa sundaku plus “ Mata- Mata Ibuku “ selama persiapan keberangkatanku. Nenekku mahir sekali berbahasa sunda, mulai dari bahasa sunda lemes ( halus ) hingga yang kasar sekalipun ia tahu. ” He’eh atuh Neng, piraku orang menes teu terang kana basa sunda, kieu- kieu oge Nini mah tos ngarasakeun kumaha jadi Guru! ”, katanya bangga. Dengan telaten ia mengajariku berbahasa sunda hingga sedikit demi sedikit lancar. Memang sih, pertamanya agak sedikit sulit, karena pelafalannya berbeda dengan bahasa Indonesia. Bagaimana membedakan pelafalan ” e ” dan ” eu ” kadang aku masih sulit dan sering tertukar hingga nenekku tertawa terbahak- bahak ketika mendengarnya. Aku juga diajari nembang ( bernyanyi dalam bahasa sunda ) olehnya. Manuk Dadali dan Es Lilin telah aku kuasai dengan baik. Tinggal aku melancarkan latihan Dogdog Lojor dengan sembilan rekanku yang lain.&lt;br /&gt; Dogdog Lojor diambil dari dua kata, yaitu dogdog dengan lojor. Kata pelatihku, dogdog berarti alat musik yang terbuat dari batang kayu bulat, yang ditengahnya dibuat rongga. Bila dipukul, akan mengeluarkan bunyi dog, dog dan seterusnya hingga orang- orang sunda menyebutnya dogdog. Sedangkan lojor berarti panjang, jadi dogdog lojor berarti dogdog yang berukuran panjang ( Awalnya aku tertawa mendengar uraian dari pelatihku itu, karena kupikir dogdog berarti hewan yang suka menggonggong itu loh, anjing ). Pelatihku juga mengatakan, pada masa lalu seni ini merupakan pelengkap dari suatu upacara adapt, jadi tidak ada upacara adapt tanpa pertunjukkan seni dogdog lojor, seperti pada upacara Seren Taun, yang berfungsi untuk mengungkapkan rasa syukur atau persembahan kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang telah memberikan berkah atas panen yang terjadi serta mohon keberkahan. Pelaksanaannya pun dilakukan di halaman rumah ketua adat atau kokolot, yang tidak jauh dari lumbung padi, khususnya yang berkaitan dengan upacara Seren Taun. Namun, seiring dengan perkembangan jalan, permainan ini dilakukan dengan penuh kegembiraan karena menjadi permainan hiburan yang meriah di kalangan masyarakat Banten, khususnya.&lt;br /&gt;Kami, dua belas pelajar yang mengikuti program pertukaran pelajar dilatih di Sanggar kesenian Banten “ Bungah “ di daerah Pandeglang selama kurang lebih dua minggu. Di sinilah rasa itu kualami. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Aku pernah bilang pada keluargaku di Menes beberapa hari setelah aku tiba dari Norwegia, aku bilang pada mereka bahwa aku tak akan tertarik dengan pria asli Banten, karena kuanggap mereka bukanlah tipeku. Tetapi, melihat kenyataan yang ada, hatiku bergeming dan berfikir keras. Inikah yang disebut jatuh cinta? Aku sendiripun tak tahu. Mungkin ini pula yang yang membuatku menjadi amat sangat gigih dalam mempelajari budaya Banten, tentu saja dalam kata lainnya, bersedia memenuhi seluruh persyaratan yang diajukan agar aku sukses mengikuti pertukaran pelajarku. Praditya Tizar Dereinda. Pelajar MAN Insan Madania, wakil dari Kabupaten Tangerang.  Karena dia, mungkin. Karena dia mungkin aku jadi merasa berbeda dari aku yang dulu. Aku yang tidak suka style orang Banten. Aku yang pernah berjanji tidak akan pernah tertarik dengan dengan pria asli Banten. Namun semuanya berubah.&lt;br /&gt;Buat apa aku repot- repot mengikuti program pertukaran pelajar yang hanya dua bulan lamanya ini? Toh jika hanya ke Sydney aku tinggal minta liburan saja pada ayahku. Ke Eropa, yang lebih jauh juga bisa. Tapi ini lain. Ya, karena Tizar jugalah penyebabnya. Mengapa kami memilih dogdog lojor ini sebagai persembahan kami? Tentu saja karena pertunjukkan seni ini amat menyenangkan. Para pemain dogdog lojor berjumlah dua belas orang, terdiri dari 4 orang pemain dogdog dan delapan lainnya pemain angklung. Faktor lainnya, tentu saja karena jumlah pemainnya pas dengan jumlah kami yang akan berangkat ke Sydney. Permainan ini pada mulanya hanya dilakukan oleh laki- laki, tetapi sekarang, perempuanpun bisa mengikutinya. Pada setiap pementasan, ada seorang yang memimpin kelompok, biasanya salah seorang yang memegang dogdog. Tizarlah orangnya, ya, dia, bukan yang lain, apalagi Jajang. Tentu saja bukan Jajang, karena dia asisten pelatih kami, bukan peserta petukaran pelajar seperti kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Neng, ceuk neng Fira, neng Nayya teh bogoh pisan kana kang Tizar nya?” Kang Jajang tiba- tiba mengagetkanku dan membuatku sedikit tersedak, dan C 1000- ku sedikit memuncrat dari botolnya, saking kagetnya aku.&lt;br /&gt;” Idih, Kang Jajang teh sukana nyarios nu aya- aya wae! ”&lt;br /&gt;” Euh, ari Kang Jajang mah tos tahu, atuh, pan Kang Jajang mah doyan ngagosip,  &lt;br /&gt; Neng! ”&lt;br /&gt; ” Nggak juga sih Kang, biasa aja, udahlah Kang, jangan ngegosip yang aneh –  &lt;br /&gt;  Aneh, abdi mah ngerasa nggak enak kalau orangnya denger! ” kataku membela diri dengan bahasa sundaku yang belepotan.&lt;br /&gt;  Fira! Oh, Fira, kenapa kamu menceritakan hal ini pada Kang Jajang? Bisa repot nih, Urusannya. Bukannya apa- apa, aku takut nenekku, sekaligus spy- nya Ibu, bisa tahu, nih, apalagi, nenek cukup dekat dengan Kang Jajang, karena Kang Jajang adalah murid nenek ketika dia duduk di Sekolah Menengah Atas ( SMA ). Walhasil, buka mustahil kalau dia cerita yang macam- macam ke nenek. Benar- benar gawat !&lt;br /&gt; Aku bukan hanya takut kalau seluruh keluargaku mengejekku, karena aku telah menelan ludah sendiri, dengan mengatakan bahwa aku tidak akan tertarik dengan pria asli Banten tetapi juga terlebih karena aku takut kalau Tizar tahu. Aku mau ia tahu, tapi disisi lain akupun takut bila ia tahu akan hal ini. Aku tak tahu kenapa. Sekelumit kosong hati kecilku berkata bahwa aku takut kehilangan dia jika ia tahu yang sebenarnya, tapi sisi hatiku yang lain merasakan getaran yang luar biasa, semacam energi atau entahlah apa namanya, yang kudapat apabila menatap wajahnya. Kadang aku tak percaya, seorang Naraya Hanifati berubah. Nayya yang terbiasa dengan udara Eropa yang sejuk, kini menikmati udara Banten yang cukup panas. Nayya yang terbiasa dengan lagu- lagu seperti BYOB milik System Of A Down, atau By The Way milik Red Hot Chilli Peppers, atau bahkan Believe Me- nya Fort Minnor, sekarang lebih sering terlihat menyenandungkan ” Bubuy Bulan ” atau ” Manuk Dadali ”!&lt;br /&gt; Keberangkatanku ke Sydney tinggal beberapa hari lagi. Latihan dogdog lojor kami semakin bertambah intensitasnya. Kami berusaha melakukan yang terbaik, karena kami akan mementaskannya tiga kali. Pertama, kami akan menampilkannya di Aula Pemerintahan Australia di Canberra, kemudian di Sydney University, dan yang terakhir ketika penutupan, tentu saja di Education Centre of Sydney. Maka dari itu, kami sangat serius berlatih. Kalau aku? Selain karena hal tersebut, ada motivasi lain. Apalagi kalau bukan Tizar.&lt;br /&gt;  Aku menjadi salah seorang dari delapan pemain angklung. Ketika pimpinan dogdog membunyikan dogdognya sebagai aba- aba, kami serempak membunyikan angklung. Kami membawakan lagu ” Kacang Buncis ” dan ” Tongeret ”, kami bergerak melingkar, mengikuti irama lagu, berjingkat, hingga melanjutkan permainan dengan acara ngadu atau bertanding. Kami menyebutnya ” Ucing- ucingan ” dan ” Oray- orayan”. Sesekali kami mengeluarkan suara seperti ” Huh...Hah...Huh...Hah..” dan seterusnya menurut irama lagu. Tiap kelompok mencoba menyentuh kelompok lain, karena yang tersentuh akan disoraki, dan dianggap kalah. Seni dogdog lojor ini dodominasi oleh Banten di bagian selatan, seperti Cibeber dan Pasir Nangka, Lebak. Tetapi, seni dogdog lojor juga hidup dengan subur di daerah Cisolok, Kabupaten Sukabumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kacang Buncis&lt;br /&gt;Cis kacang buncis nyengcle&lt;br /&gt;Ti anggaloti kuda   &lt;br /&gt;Nu geulis tembong pingping&lt;br /&gt;Keun bae jeung kaula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cis kacang buncis nyengcle&lt;br /&gt; Kembang cengek nu mencenges&lt;br /&gt; Nu geulis keur ngelewe&lt;br /&gt; Dasar awewe jerenges&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; …………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sydney Education Centre gemuruh tepuk tangan. Kami membuka pementasan dengan lagu “ Kacang Buncis “, kemudian kami berlenggak- lenggok, membentuk posisi oray- orayan, ucing- ucingan, serta terus berseru “ Huh….Hah…..” sesuai irama musik yang kami mainkan. Sesekali kulihat Tizar melirik ke arahku, dan kami saling bertatap, tanpa harus kehilangan konsentrasi kami saat tampil. Hingga akhir dari pementasan kami yang ditutup dengan gemuruh tepukan tangan para audiens di ruangan itu. &lt;br /&gt; ” Congratulation, you have shown your best performance! “ Tizar menggandeng tanganku setelah pementasan, dan dia memuji penampilanku!&lt;br /&gt; “ Thank you very much for your appreciation to me, but actually your performance is better than me at all! “ Jawabku sambil tersipu dan memandangnya malu- malu.&lt;br /&gt; “ You look so beautiful tonight, Nayya, Ceuk urang mah, mani geulis pisan, euy!” pujinya lagi.&lt;br /&gt; “ Idih Kumaha ieu Kang Tizar, Bahasana mani dicampur- adukkeun kitu, ari rek nyarios inggris mah inggris wae atuh !” jawabku, seperti biasa, dengan bahasa belepotan.&lt;br /&gt; “ Hahaha…! Funny..” kami tertawa bersama, ditemani dengan udara musim semi yang lembut, dengan pemandangan Sydney Opera diseberang sana. Entah mengapa malam itu jadi malam terindah sepanjang hidupku! Terlebih ketika Tizar menatap mataku dan berkata&lt;br /&gt; ” Naraya Hanifati, may i put you in my heart as my soulmate? Jadi kabogoh abdi, kitu…! “ tatapan tajamnya masih melekat.&lt;br /&gt; Aku hanya tersenyum dan mengangguk, seakan diriku melayang di udara, menyapa kodok- kodok ( hewan favoritku ) diluar sana, dan menyenandungkan nyanyian dari hati yang paling dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ” Naraya, geulis, tos tabuh sabaraha ieu, tos ibak acan, geulis?” Nenekku membangunkanku dari mimpi terindahku.&lt;br /&gt; ” Nenek, kenapa ngebangunin aku sih, padahal bentar lagi kan happy ending,...! ”&lt;br /&gt;Gumamku kesal.&lt;br /&gt; ” Neng mimpi naon sih, nyebut- nyebut nama lalaki, saha eta namina? Mizar atawa Tijar,ari Nini teu salah denge! ” Nenekku mulai nyerocos tak karuan.&lt;br /&gt; ” Bukan Tijar, Nek, tapi Tizar, pake Zet, bukan pake J ! Tadi Nayya mimpi Sydney I’m in Love, eh bukan, Banten I’m In Love Deng! “ Jawabku seenaknya, sambil kabur ke kamar mandi, takut ditanya yang macam- macam oleh nenekku yang super cerewet itu, dan juga aku takut ketinggalan rombongan, karena kami akan pergi ke Hotel Sahid Jaya di Jakarta untuk karantina pra- keberangkatan menuju Australia! Dalam hati aku hanya berharap bahwa mimpiku akan jadi kenyataan. Tak peduli akan menelan ludahku sendiri. Tak peduli ejekan keluarga Menes- ku. Yang kupedulikan hanya satu. Samakah perasaan Tizar padaku? Akupun tak tahu. Tapi kuharap begitu.&lt;br /&gt; ” Naraya........Eraeun tah, laju lumpat ka kamar mandi? Hahaha, dasar budak geulis, budak awewe, incu abdi nu panggeulisna, aya- aya wae!.....” Sayup- sayup aku mendengar suara nenek dari dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;  Banten I’m in Love. Sungguh, aku sangat cinta pada Bantenku. Jauh dari rasa cintaku yang dulu. Tempatku dilahirkan, dan kuharap, ini akan menjadi tempatku juga ketika aku menutup mata. Bersama Tizar, tentunya. Jika waktu berkenan mewujudkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-458307059647841965?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/458307059647841965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=458307059647841965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/458307059647841965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/458307059647841965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/baru-blajar-bahasa-sunda.html' title='Baru Blajar Bahasa Sunda,,,'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-3431568467271130772</id><published>2007-10-25T15:26:00.001+07:00</published><updated>2007-10-25T15:28:46.289+07:00</updated><title type='text'>Ini Cerpen Paling Kacau Yang pernah saya bikin,,,  Nauzubillahimin Dzaalik,,</title><content type='html'>Aku Telah Membunuh Tuhan&lt;br /&gt;Oleh : _oEvRy_&lt;br /&gt; ( Urfi Syifa )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya merasakan kebingungan yang luar biasa sangat ketika saya harus menceritakan hal ini pada khalayak. Tentang sebuah pengkhianatan yang menyesakkan urat- urat syaraf. Saya ini hanya seorang pendengar sejati yang selalu mendengarkan apapun yang makhluk Tuhan bicarakan. Kali ini tentang sebuah pengkhianatan, seperti yang telah saya katakan sebelumnya. Pengkhianatan yang dilakukan oleh salah satu orang yang rela untuk sedikit berbagi cerita dengan saya. Sebaiknya, saya biarkan Anda sekalian menilai sendiri apa yang akan rekan saya bicarakan. Saya serahkan kesempatan ini pada rekan saya langsung. Silahkan menyimak. Ingat, ia hanya akan mencurahkan isi hatinya pada Anda sekalian tanpa harus berapriori negatif terhadap dirinya. Dan ingat, sifat salah satu rekan saya ini adalah sensitif. Sangat- sangat sensitif. Jadi, jangan pernah mencoba untuk melukai perasaannya. Perasaan rekan saya ini. Tunggu dulu, saya hampir lupa untuk memperkenalkan namanya kepada Anda sekalian. Namanya Kartolo. Kartolo Sugeng. Selanjutnya, silahkan menyimak cerita selengkapnya.... &lt;br /&gt;( Kartolo bercerita...)&lt;br /&gt;Aku bersandar pada diri ini. Diri ini yang begitu rapuh. Diri ini semakin gila dan bertransformasi, semakin menggila dan tergila- gila pada sebuah asa yang tak terperi. Tiadalah hati bertanya mengapa ataupun bagaimana? Toh, terkadang, Tuhanpun tak mau bertanya         padaku, walau hanya sekedar apa atau bagaimana. Bersimpuh pada dimensi ruang waktu, menyibak bulir- bulir peluh batin yang menggumpal dan mengeras di detak jantung seorang manusia. Tapi entah mengapa, terkadang aku sendiripun tak menganggap diri ini sebagai seorang hamba. Manusiapun tidak. Aku bertanya pada matahari, tetapi ia malah mendelik tajam. Mendelik kaku. Menyibak keangkuhan, menebar pesona dirinya sebagai surya dari atas singgasananya yang menaungi bumi. Dia membuatku ragu, harus bergumam pada siapakah nestapa ini? Lara ini? Bermain dengan api aku tak kuasa, tapi raga ini telah hangus dan terbakar habis lebih dulu sebelum aku memulai perhelatan dengan sang api. Aku semakin tersudut, tergugu, kaku.&lt;br /&gt; Mata ini semakin senyap memandang keindahan rembulan yang pancaran sinarnya tak akan pernah sanggup menyeruak ke dalam rogga tubuhku yang kian menegang ini. Kebekuan es yang menjulang tinggi di kutub sanapun tak mampu membelai kebuntuan hidupku yang telah mencapai titik nadir ini. Jika diri ini boleh berestimasi, aku dapat memprediksikan bahwa Sang Adam, akan menangis tergugu ketika melihat anak cucunya begitu luruh dalam pagutan kebencian umat manusia, cucunya yang lain pula. &lt;br /&gt; Aku ini sampah. Aku ini sampah yang tak bisa didaur ulang dan tak diharapkan untuk kembali didaur ulang. Aku tak bisa bereinkarnasi, dan tak pernah diharapkan untuk bisa bereinkarnasi. Kaki ini menjalar, berusaha untuk menapaki segala arah. Segala aral yang melintang untuk hinggap di pangkuan Tuhan. Tapi entah mengapa, aku selalu tak berdaya untuk merengkuh keberadaan- Nya disana. Hari demi hari semakin berlalu bagai kilatan halilintar yang menyambar bumi dengan begitu cepatnya. Sebelum matahari menyibakkan ekornya dan mengucapkan selamat tinggal di ufuk barat sana, asaku sudah beriak untuk berteriak menyerah. Aku ini pahit. Aku ini getir. Tetapi manusia- manusia di sekitarku berkata, akulah yang menhyebabkan mereka menjadi getir. Pahit. Hitam. Berkabut dan malang.&lt;br /&gt; Mereka tak pernah menganggapku ada. Mereka selalu menganggapku sebagai sebuak kekosongan. Seperti para mahasiswa filsafat yang mengatakan bahwa di dalam sesuatu yang kosong, sesungguhnya terdapat sesuatu yang sangat harfiah dan mendasar, yaitu kekosongan! Aku ini kosong. Dan aku ini berupa sebuah kekosongan. Ah, tidak. Kadang, mereka menganggapku ada. Eksistensi diriku selebihnya diakui. Tetapi mengapa, mereka hanya menganggapku sebagai seekor anjing yang menggeliat dan selalu menjulurkan lidahnya ketika desir hasratnya telah mencapai sebuah titik yang berupaya untuk menggapai sebuah kenyataan. Menapaki kenyataan yang ada, aku ini bergidik. Aku ini bermetafora. Aku berusaha untuk membedah naskah demi naskah kehidupan yang telah kuukir sepanjang hidupku. &lt;br /&gt; Tak ada yang terlalu spesial. Dan akupun tak pernah berharap untuk diistimewakan ataupun didewa- dewakan oleh manusia- manusia di sekitarku. Aku tak pernah meminta Tuhan untuk menjadikanku sebagai asisten pribadinya. Aku juga tak pernah menangis memelas untuk menjadi seseorang yang diterima di masyarakat. Diterima di sebuah miliu yang membentuk kehidupan kepribadianku. Ah, aku ini hampa. Aku tak dapat berkata- kata. Lidahku kelu. Biru, bisu dan membeku. Aku ini butuk kepastian status. Kepastian status sebagai makhluk. Makhluk Tuhan yang sebenarnya masih hidup atau telah mati tanpa ada sesuatu apapun yang mengetahui. Aku ini berdesir kalbu. Yang hanya bisa meluapkan segala kerentaan batin dalam sebuah makna absurd yang hanya dapat dimengerti oleh Tuhan dan aku. Aku pun tak begitu yakin akan keikutsertaan Tuhan dalam kalbuku. Dia mendengarku atu tidak, aku hanya bisa bergumam dan memasukkannya ke dalam daftar hitam pertanyaan dalam hidupku yang tak pernah terjawab.&lt;br /&gt; Bertaburan bintang di langit yang merupakan wahana Sang Mahakarya yang tak tertandingi, kulihat kerlipnya pada saat hari mulai gelap. Tetapi, kegelapannya yang begitu menyesakkan dada, ternyata tak dapat melubangi dan menembus kegelapan nuraniku yang begitu dalam. Tuhan,  apakah Kau masih mau mendengarku?&lt;br /&gt; Orang tua adalah sosok manusia yang merupakan perantara Tuhan ketika Ia harus memberikan keputusannya untuk menghadirkan sesosok manusia ke muka bumi ini. Orang tua. Orang yang lebih tua. Orang yang di tua- kan, atau apapun namanya. Orang tua adalah dua orang hamba, adam dan hawa, yang bersatu, bermanifestasi, dan menghendaki keberadaan buah hati yang sebenarnya, ada dan tiada mereka, bukanlah sebuah jawaban mutlak. Kepiawaian orang tua dalam mendidik buah hati mereka sering dikatakan sebagai faktor “ X “ dalam menentukan garis hidup yang akan segera dilalui oleh titisan mereka, sang buah hati tercinta. &lt;br /&gt;Tercinta? Omong Kosong! Sama sekali aku tak pernah dibelai mereka berdua. Sama sekali aku tak pernah merasakan kehalusan dan kelembutan tangan ibuku yang seharusnya mengusap dahi dan menyibak kegalauan hatiku ketika aku menangis. Aku tak pernah sekalipun merasakan kasarnya tekstur tangan ayahku yang seharusnya melindungiku dikala aku sedang butuh perlindungan! Aku tak pernah merasakan tawa canda yag seharusnya mereka ciptakan dalam membina keberadaanku sebagai buah hati mereka! Hasil dari perbuatan yang sebenarnya, dengan sadar mereka kehendaki dan Tuhan kehendaki pula! Tapi apa kenyataannya? Mereka justru menafikan keberadaanku dengan lelucon dahsyat yang mampu merobek kulit terdalam seonggok bentuk manusia! &lt;br /&gt;Aku ini manusia terbuang. Ya, mereka telah resmi membuangku.&lt;br /&gt;Raga ini mengelupas, terpelanting dalam tataran kenistaan jelaga dunia yang aral lintangnya tak pernah dapat ditebak kesyahduannya. Mengapa angin puting beliung selalu mengajakku untuk berlari dan menghempas ke samudera luas? Mengapa ia tak pernah lelah memintaku untuk sesegera mungkin menderu, menyapu pelataran lembah komunitas manusia, dan melagukan keharuan sebongkah batu kedigdayaan. Hey, mereka itu lemah!&lt;br /&gt;Kadang aku berfikir, naluriku lebih buas merayap jika dibandingkan dengan filosofi para penjilat materi duniawi di luar sana. Aku ini lebih hidup. Tepatnya, aku ini lebih merasa dihidupkan oleh diriku sendiri, tidak seperti mereka yang merasa hidup oleh kegalauan kehidupan mereka masing- masing, bukan karena kesungguhan Sang Hidup yang meminta kepastian hidup, melainkan hanya untuk mengisi hidup dengan segala kenikmatan hidup yang dapat dinikmati ketika kita masih menggenggam kehidupan!&lt;br /&gt;Pelataran ombak serta lonceng gereja menautkan kesalahpahaman antara aku dan Tuhan. Aku tak pernah mengerti, mengapa Tuhan berhenti memberikan cahaya- Nya kepadaku? Mengapa Tuhan berpaling dan memalingkan keagungan- Nya dari diri ini? Mengapa kesemrawutan diri ini tak terkoyak sedikitpun oleh naluri kejernihan Sang Pencipta?&lt;br /&gt;Panggil aku atheis. Panggil aku makhluk tak bertuhan. Hahaha, aku ini memang tak pernah bertuhan. Aku pernah bertuhan, tapi aku juga telah membunuh Tuhan. Aku membunuh Tuhan dengan tanganku sendiri. Seperti Marx. Seperti kekagumanku pada Nietzche. Tetapi, apakah benar, aku telah melenyapkan Tuhan dari hidupku? Apakah benar aku telah melenyapkan keeksistensian Tuhan dalam imagi setiap derap nafasku? Logikaku mendidih. Menjalar melubangi setiap akson di dalam sel sarafku. Sel sarafku yang sepatutnya telah mati membeku dan membiru. Selang mercon yang membludak di tepian senja, mengagetkanku pada satu hal.  Siapa aku?&lt;br /&gt;Aku pernah mengemukakan sebelumya, aku ini manusia tanpa titik. Manusia yang tak pernah memiliki tanda titik. Aku tak bisa menggapai sinar yang Tuhan pancarkan, aku tak bisa mengharap bahkan memintal untaian cinta kasih manusia yang biasa diagung- agungkan. Aku tak pernah bisa memeluk mentari kehangatan dua manusia yang membuatku berada di dunia ini! Aku ini batu. Aku ini gulma. Aku ini debu. Terhempas, tak pernah terlintas. Tergagap aku terhenyak. Rambu- rambu kesucian terkuak. Tidak, aku ini masih punya cinta. Aku memiliki cinta. Aku sang hidup yang meraga, melagukan keindahan cinta, sebuah hal yang menjadi tolak ukur perbedaan manusia dengan binatang. Fase dimana manusia dapat merajai kehidupan imajinasinya dengan melawan ruang dan waktu. Dasar kehidupan yang membentuk manusia dengan miliunya.&lt;br /&gt;Cinta...&lt;br /&gt;Muak aku dengan hal itu! &lt;br /&gt;Persetan dengan cinta dan berkelindannya rasa bahagia di kalbu mereka. Toh, aku ini memang bukan seorang pecinta. Aku telah menegaskan bahwa diriku ini tak pernah memilki tanda titik. Aku t ak bergeming secuilpun, walau mereka mengiming- imingiku dengan ratapan batin yang bersayapkan dewa dan dewi cinta. Bahkan,  aku sanggup menangkis panah cupid yang dikirim Tuhan untuk memanahku dan menjatuhkanku dalam buaian gemerlapnya cinta. Aku sanggup hidup tanpa cinta.&lt;br /&gt;“  Tidak! Aku tak pernah sanggup hidup tanpa cinta!”, segelintir ratapan hati kecilku menginterupsiku. “, Tak ada yang harus diputar- balikkan! Kenyataan aku tak bercinta, bertitik dan bertuhan, telah mengunci seluruh ketepatan relung batin yang telah kusandingkan dengan pengatur siklus kehidupan dalam diri ini,”, Sang penyair di sisi hatiku yang lainnya menjawab intrupsiku tadi. Aku buta. Aku gelap. Tak bercahaya. Apa yang harus aku buka? Kainkah? Mataharikah? Surya yang angkuh dan maha tak pemurah itu?&lt;br /&gt;Aku sudah bosan menapaki nafas dan detik- demi detik sirkulasi oksigen di jagat raya ini. Aku bosan. Aku penat. Aku ingin melingkar. Aku ingin bertransformasi. Aku tak ingin merayap seperti dulu lagi. Aku ingin lari dari Tuhan. Maksudku, menjauh dari kain kafan yang membungkus Tuhan, tentu saja, karena aku telah membunuhnya. Aku merasa diriku larut dalam bias angin senja. Redup, hilang, dan berjelaga. &lt;br /&gt;Kau tahu bagaimana caraku membunuh Tuhan? Hahaha, aku membunuhnya dengan kejam. Sangat kejam, hingga aku sendiripun kadang bergidik membayangkan masa- masa itu. Masa- masa klimaks dimana seorang aku menghancurkan kedigdayaan Tuhan. Aku ini seorang pembunuh. Napak tilas sebagai pembunuh berdarah dingin yang darahnya sebenarnya tetap panas. Darahku mendidih panas, tetapi hasratku sebagai seorang pembunuh tetap saja dingin. Mereka mengutukku. Mereka menganggapku gila. Mereka menganggapku memancing kemurkaan Tuhan. Hmm, memancing kemurkaan Tuhan. Toh, memang itu yang aku cari. Aku mencari saat- saat dimana aku bisa berduel dengan Tuhan. Membuktikan pada dunia yang dikatakan diciptakan Tuhan, bahwa sebenarnya, Dia tidak pernah bisa mempertahankan kedudukannya sebagai Tuhan. Aku ini superior. Aku ini satu- satunya orang yang berani melawan Tuhan. Para atheis itu? Mereka hanya mengaku dan membanggakan diri mereka sebagai seseorang yang tak bertuhan! Padahal apa sebenarnya? Mereka itu pendusta! Mereka ternyata menghamba dan merintih meronta pada Tuhan yang awalnya mereka anggap tak ada! Dasar penjilat!&lt;br /&gt;Dimulai dari dialog interaktifku dengan Tuhan. Tanpa seorang moderator, tentunya, karena mereka semua itu takut melawan Tuhan. &lt;br /&gt;“ Apa yang bisa kau lakukan tanpa kehendak- Ku? “, Tuhan berkata, menyombongkan dirinya.&lt;br /&gt;“ Aku? Apa yang bisa diriku lakukan? Tentu saja membunuhmupun aku bisa! “, jawabku menyangkal keangkuhannya.&lt;br /&gt;“ Sadarkah kau, bila waktunya tiba, kau akan kehilangan segala yang Kutitipkan padamu kini!”, jawabnya murka.&lt;br /&gt;“ Hei, apa yang kau titipkan? Wajah penuh nista ini? Tangan kotor ini? Diri hina ini? Dan dendam membara yang terpatri ini?”, aku mengamuk. Aku kehilangan kontrol emosiku padanya. Dia benar- benar telah membuatku membuncahkan segala kemarahan yang telah kusimpan sepanjang hidupku. &lt;br /&gt;“ Aku akan senantiasa membuka pintu taubatku untukmu, jika kau mau bertaubat!”, tawar Tuhan padaku.&lt;br /&gt;“ Taubat? Padamu? Hahaha. T-a-u-b-a-t katamu? Lelucon apa ini? Lelucon yang kau muntahkan, hah?”, aku muak!&lt;br /&gt;“ Apakah kau benar- benar yakin akan membunuhku?”, tanya Tuhan.&lt;br /&gt;“ Bukan hanya membunuhmu, tetapi juga melenyapkanmu dengan tangan ini. Mengancurkan eksistensimu hingga kau tak dapat terdera sekalipun, hingga kau tak dapat mendengar rintihanmu, bahkan!”, Aku bersiap- siap untuk menghunuskan pedangku ke arahnya. Aku telah mengambil ancang- ancang.&lt;br /&gt;Tiba- tiba, ia tak berbicara. Ia menghilang. Ia pergi. Ia menghilang? Atau ia telah hancur dengan sendirinya? Atau, ia meleleh terbakar dendamku yang membara? Apapun yang terjadi, aku telah membunuhnya. Aku telah melenyapkannya. Aku ini telah mengukir prestasi, dengan pencapaian yang luar biasa tinggi. Sebagai penghancur Tuhan. Dengan pencapaian seperti ini, tak ada yang sanggup menyamaiku. Siapapun orangnya. Tak ada yang sanggup bermanifestasi dengan keleluasaan diriku ini setelah kepergian Tuhan. Tak ada yang bisa bermain api dengan bongkahan kekuatan yang terbentuk di jiwaku. Aku ini? Superior.&lt;br /&gt;Saudara- saudara sekalian, tiba- tiba Kartolo menendang perut saya dan menyebabkan saya terhuyung ke belakang. Terpental beberapa meter dari tubuhnya. Kartolo kehilangan kontrol dirinya. Ia kembali mengamuk. Naluri kesensitifannya tercubit ke permukaan ketika ia mengingat masa- masa pergolakan tersebut, tampaknya.&lt;br /&gt; Tetapi tunggu dulu, Kartolo sepertinya akan melanjutkan lagi ceritanya.&lt;br /&gt;( Kartolo mulai tenang dan kembali untuk bercerita.. )&lt;br /&gt;“ Aku ini superior! Aku telah membunuh Tuhan!”, Aku berteriak pada orang- orang di sekelillingku yang selalu saja berhasrat untuk mereduksi kepiawaianku. Mereka selalu menjulurkan rantainya untuk selalu melucuti kekuatanku. Mereka tak lebih dari songgok kain kafan putih yang tak bisa menyeruak sedikitpun, padahal, renggutan tanah becek yang merangkai kehancuran serat- serat kainnya siap untuk menerkam. Mereka terus menghantuiku dengan terornya setiap saat. Mereka tak pernah mau menerima kenyataan bahwa aku ini adalah superior, seorang penguasa sejati yang telah berhasil menundukkan keangkuhan surya, batu, pagar dunia, angkasa, mega laksana, galaksi dan sistem yang melintang di dalamnya, karena aku telah melenyapkan kekuasaan pengaturnya! &lt;br /&gt;“ Aku telah membunuh Tuhan!”, teriakku pada manusia berbaju putih di hadapanku. Aku meronta, mereka menendangku. Mereka mengekang kepribadianku. Apa lagi ini? Apakah mereka antek- antek Tuhan? Apa ini? Mereka memborgolku, mereka memaksaku untuk diam. Mereka merapatkan mulutku, membekapku, dan...&lt;br /&gt;Gelap. Seakan aku mati lemas.&lt;br /&gt;Saudara- saudara sekalian, sayang sekali, Kartolo tak dapat melanjutkan lagi ceritanya. Ia mengamuk terlalu sangat. Terpaksa kami mengamankannya. Saya hanya bisa terdiam melihat ini semua. Sebenarnya saya tak pernah tega memandang perhelatan kiprah Kartolo di depan mata telanjang ini. Tapi apa boleh buat, ini harus terjadi. Saya hanya bisa diam. Diam sejuta bahasa.&lt;br /&gt; “ Dasar kau manusia gila, pesakitan!”, seorang dokter jiwa RSJ Pakem, Yogyakarta mendengus kesal terhadap salah satu pasiennya yang baru saja berhasil ia ringkus. &lt;br /&gt;“ Awasi dia, jangan sampai dia berusaha kabur dan mengamuk lagi! ”, perintahnya pada ketiga perawat yang mendampinginya dalam mengamankan salah satu pasiennya tadi.&lt;br /&gt;“ Mengapa dia bisa gila?”, salah satu perawat yang baru saja bergabung bertanya pada saya,&lt;br /&gt;“ Dia mengaku telah membunuh Tuhan!”, jawab saya jujur.&lt;br /&gt;“ Apa? Membunuh Tuhan?”, ujarnya.&lt;br /&gt;“ Lelucon bodoh di pagi  buta!”, sahut rekannya yang lain.&lt;br /&gt;“ Hahaha,...!”.&lt;br /&gt;Mereka tertawa. Tergelak. Terbahak. Saya hanya bisa diam. Merintih dan sedikit berempati pada penderitaan Kartolo. Sedikit. Sedikit sekali. Karena saya sendiri sebenarnya tak pernah berpikir untuk menyetujui paradigma Kartolo untuk membunuh Tuhannya. Karena saya masih punya Gusti Allah. Saudara- saudara sekalian, kita hanya bisa berharap semoga Gusti Allah mengampuni dosa Kartolo yang sudah berjelaga dan pahit itu. Semoga. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandeglang, 8 Maret 2007&lt;br /&gt;( Urfi Syifa Urohmah )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-3431568467271130772?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/3431568467271130772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=3431568467271130772' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3431568467271130772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3431568467271130772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/ini-cerpen-paling-kacau-yang-pernah_25.html' title='Ini Cerpen Paling Kacau Yang pernah saya bikin,,,  Nauzubillahimin Dzaalik,,'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-2330669171032258511</id><published>2007-10-25T15:26:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T15:28:34.973+07:00</updated><title type='text'>Ini Cerpen Paling Kacau Yang pernah saya bikin,,,</title><content type='html'>Aku Telah Membunuh Tuhan&lt;br /&gt;Oleh : _oEvRy_&lt;br /&gt; ( Urfi Syifa )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya merasakan kebingungan yang luar biasa sangat ketika saya harus menceritakan hal ini pada khalayak. Tentang sebuah pengkhianatan yang menyesakkan urat- urat syaraf. Saya ini hanya seorang pendengar sejati yang selalu mendengarkan apapun yang makhluk Tuhan bicarakan. Kali ini tentang sebuah pengkhianatan, seperti yang telah saya katakan sebelumnya. Pengkhianatan yang dilakukan oleh salah satu orang yang rela untuk sedikit berbagi cerita dengan saya. Sebaiknya, saya biarkan Anda sekalian menilai sendiri apa yang akan rekan saya bicarakan. Saya serahkan kesempatan ini pada rekan saya langsung. Silahkan menyimak. Ingat, ia hanya akan mencurahkan isi hatinya pada Anda sekalian tanpa harus berapriori negatif terhadap dirinya. Dan ingat, sifat salah satu rekan saya ini adalah sensitif. Sangat- sangat sensitif. Jadi, jangan pernah mencoba untuk melukai perasaannya. Perasaan rekan saya ini. Tunggu dulu, saya hampir lupa untuk memperkenalkan namanya kepada Anda sekalian. Namanya Kartolo. Kartolo Sugeng. Selanjutnya, silahkan menyimak cerita selengkapnya.... &lt;br /&gt;( Kartolo bercerita...)&lt;br /&gt;Aku bersandar pada diri ini. Diri ini yang begitu rapuh. Diri ini semakin gila dan bertransformasi, semakin menggila dan tergila- gila pada sebuah asa yang tak terperi. Tiadalah hati bertanya mengapa ataupun bagaimana? Toh, terkadang, Tuhanpun tak mau bertanya         padaku, walau hanya sekedar apa atau bagaimana. Bersimpuh pada dimensi ruang waktu, menyibak bulir- bulir peluh batin yang menggumpal dan mengeras di detak jantung seorang manusia. Tapi entah mengapa, terkadang aku sendiripun tak menganggap diri ini sebagai seorang hamba. Manusiapun tidak. Aku bertanya pada matahari, tetapi ia malah mendelik tajam. Mendelik kaku. Menyibak keangkuhan, menebar pesona dirinya sebagai surya dari atas singgasananya yang menaungi bumi. Dia membuatku ragu, harus bergumam pada siapakah nestapa ini? Lara ini? Bermain dengan api aku tak kuasa, tapi raga ini telah hangus dan terbakar habis lebih dulu sebelum aku memulai perhelatan dengan sang api. Aku semakin tersudut, tergugu, kaku.&lt;br /&gt; Mata ini semakin senyap memandang keindahan rembulan yang pancaran sinarnya tak akan pernah sanggup menyeruak ke dalam rogga tubuhku yang kian menegang ini. Kebekuan es yang menjulang tinggi di kutub sanapun tak mampu membelai kebuntuan hidupku yang telah mencapai titik nadir ini. Jika diri ini boleh berestimasi, aku dapat memprediksikan bahwa Sang Adam, akan menangis tergugu ketika melihat anak cucunya begitu luruh dalam pagutan kebencian umat manusia, cucunya yang lain pula. &lt;br /&gt; Aku ini sampah. Aku ini sampah yang tak bisa didaur ulang dan tak diharapkan untuk kembali didaur ulang. Aku tak bisa bereinkarnasi, dan tak pernah diharapkan untuk bisa bereinkarnasi. Kaki ini menjalar, berusaha untuk menapaki segala arah. Segala aral yang melintang untuk hinggap di pangkuan Tuhan. Tapi entah mengapa, aku selalu tak berdaya untuk merengkuh keberadaan- Nya disana. Hari demi hari semakin berlalu bagai kilatan halilintar yang menyambar bumi dengan begitu cepatnya. Sebelum matahari menyibakkan ekornya dan mengucapkan selamat tinggal di ufuk barat sana, asaku sudah beriak untuk berteriak menyerah. Aku ini pahit. Aku ini getir. Tetapi manusia- manusia di sekitarku berkata, akulah yang menhyebabkan mereka menjadi getir. Pahit. Hitam. Berkabut dan malang.&lt;br /&gt; Mereka tak pernah menganggapku ada. Mereka selalu menganggapku sebagai sebuak kekosongan. Seperti para mahasiswa filsafat yang mengatakan bahwa di dalam sesuatu yang kosong, sesungguhnya terdapat sesuatu yang sangat harfiah dan mendasar, yaitu kekosongan! Aku ini kosong. Dan aku ini berupa sebuah kekosongan. Ah, tidak. Kadang, mereka menganggapku ada. Eksistensi diriku selebihnya diakui. Tetapi mengapa, mereka hanya menganggapku sebagai seekor anjing yang menggeliat dan selalu menjulurkan lidahnya ketika desir hasratnya telah mencapai sebuah titik yang berupaya untuk menggapai sebuah kenyataan. Menapaki kenyataan yang ada, aku ini bergidik. Aku ini bermetafora. Aku berusaha untuk membedah naskah demi naskah kehidupan yang telah kuukir sepanjang hidupku. &lt;br /&gt; Tak ada yang terlalu spesial. Dan akupun tak pernah berharap untuk diistimewakan ataupun didewa- dewakan oleh manusia- manusia di sekitarku. Aku tak pernah meminta Tuhan untuk menjadikanku sebagai asisten pribadinya. Aku juga tak pernah menangis memelas untuk menjadi seseorang yang diterima di masyarakat. Diterima di sebuah miliu yang membentuk kehidupan kepribadianku. Ah, aku ini hampa. Aku tak dapat berkata- kata. Lidahku kelu. Biru, bisu dan membeku. Aku ini butuk kepastian status. Kepastian status sebagai makhluk. Makhluk Tuhan yang sebenarnya masih hidup atau telah mati tanpa ada sesuatu apapun yang mengetahui. Aku ini berdesir kalbu. Yang hanya bisa meluapkan segala kerentaan batin dalam sebuah makna absurd yang hanya dapat dimengerti oleh Tuhan dan aku. Aku pun tak begitu yakin akan keikutsertaan Tuhan dalam kalbuku. Dia mendengarku atu tidak, aku hanya bisa bergumam dan memasukkannya ke dalam daftar hitam pertanyaan dalam hidupku yang tak pernah terjawab.&lt;br /&gt; Bertaburan bintang di langit yang merupakan wahana Sang Mahakarya yang tak tertandingi, kulihat kerlipnya pada saat hari mulai gelap. Tetapi, kegelapannya yang begitu menyesakkan dada, ternyata tak dapat melubangi dan menembus kegelapan nuraniku yang begitu dalam. Tuhan,  apakah Kau masih mau mendengarku?&lt;br /&gt; Orang tua adalah sosok manusia yang merupakan perantara Tuhan ketika Ia harus memberikan keputusannya untuk menghadirkan sesosok manusia ke muka bumi ini. Orang tua. Orang yang lebih tua. Orang yang di tua- kan, atau apapun namanya. Orang tua adalah dua orang hamba, adam dan hawa, yang bersatu, bermanifestasi, dan menghendaki keberadaan buah hati yang sebenarnya, ada dan tiada mereka, bukanlah sebuah jawaban mutlak. Kepiawaian orang tua dalam mendidik buah hati mereka sering dikatakan sebagai faktor “ X “ dalam menentukan garis hidup yang akan segera dilalui oleh titisan mereka, sang buah hati tercinta. &lt;br /&gt;Tercinta? Omong Kosong! Sama sekali aku tak pernah dibelai mereka berdua. Sama sekali aku tak pernah merasakan kehalusan dan kelembutan tangan ibuku yang seharusnya mengusap dahi dan menyibak kegalauan hatiku ketika aku menangis. Aku tak pernah sekalipun merasakan kasarnya tekstur tangan ayahku yang seharusnya melindungiku dikala aku sedang butuh perlindungan! Aku tak pernah merasakan tawa canda yag seharusnya mereka ciptakan dalam membina keberadaanku sebagai buah hati mereka! Hasil dari perbuatan yang sebenarnya, dengan sadar mereka kehendaki dan Tuhan kehendaki pula! Tapi apa kenyataannya? Mereka justru menafikan keberadaanku dengan lelucon dahsyat yang mampu merobek kulit terdalam seonggok bentuk manusia! &lt;br /&gt;Aku ini manusia terbuang. Ya, mereka telah resmi membuangku.&lt;br /&gt;Raga ini mengelupas, terpelanting dalam tataran kenistaan jelaga dunia yang aral lintangnya tak pernah dapat ditebak kesyahduannya. Mengapa angin puting beliung selalu mengajakku untuk berlari dan menghempas ke samudera luas? Mengapa ia tak pernah lelah memintaku untuk sesegera mungkin menderu, menyapu pelataran lembah komunitas manusia, dan melagukan keharuan sebongkah batu kedigdayaan. Hey, mereka itu lemah!&lt;br /&gt;Kadang aku berfikir, naluriku lebih buas merayap jika dibandingkan dengan filosofi para penjilat materi duniawi di luar sana. Aku ini lebih hidup. Tepatnya, aku ini lebih merasa dihidupkan oleh diriku sendiri, tidak seperti mereka yang merasa hidup oleh kegalauan kehidupan mereka masing- masing, bukan karena kesungguhan Sang Hidup yang meminta kepastian hidup, melainkan hanya untuk mengisi hidup dengan segala kenikmatan hidup yang dapat dinikmati ketika kita masih menggenggam kehidupan!&lt;br /&gt;Pelataran ombak serta lonceng gereja menautkan kesalahpahaman antara aku dan Tuhan. Aku tak pernah mengerti, mengapa Tuhan berhenti memberikan cahaya- Nya kepadaku? Mengapa Tuhan berpaling dan memalingkan keagungan- Nya dari diri ini? Mengapa kesemrawutan diri ini tak terkoyak sedikitpun oleh naluri kejernihan Sang Pencipta?&lt;br /&gt;Panggil aku atheis. Panggil aku makhluk tak bertuhan. Hahaha, aku ini memang tak pernah bertuhan. Aku pernah bertuhan, tapi aku juga telah membunuh Tuhan. Aku membunuh Tuhan dengan tanganku sendiri. Seperti Marx. Seperti kekagumanku pada Nietzche. Tetapi, apakah benar, aku telah melenyapkan Tuhan dari hidupku? Apakah benar aku telah melenyapkan keeksistensian Tuhan dalam imagi setiap derap nafasku? Logikaku mendidih. Menjalar melubangi setiap akson di dalam sel sarafku. Sel sarafku yang sepatutnya telah mati membeku dan membiru. Selang mercon yang membludak di tepian senja, mengagetkanku pada satu hal.  Siapa aku?&lt;br /&gt;Aku pernah mengemukakan sebelumya, aku ini manusia tanpa titik. Manusia yang tak pernah memiliki tanda titik. Aku tak bisa menggapai sinar yang Tuhan pancarkan, aku tak bisa mengharap bahkan memintal untaian cinta kasih manusia yang biasa diagung- agungkan. Aku tak pernah bisa memeluk mentari kehangatan dua manusia yang membuatku berada di dunia ini! Aku ini batu. Aku ini gulma. Aku ini debu. Terhempas, tak pernah terlintas. Tergagap aku terhenyak. Rambu- rambu kesucian terkuak. Tidak, aku ini masih punya cinta. Aku memiliki cinta. Aku sang hidup yang meraga, melagukan keindahan cinta, sebuah hal yang menjadi tolak ukur perbedaan manusia dengan binatang. Fase dimana manusia dapat merajai kehidupan imajinasinya dengan melawan ruang dan waktu. Dasar kehidupan yang membentuk manusia dengan miliunya.&lt;br /&gt;Cinta...&lt;br /&gt;Muak aku dengan hal itu! &lt;br /&gt;Persetan dengan cinta dan berkelindannya rasa bahagia di kalbu mereka. Toh, aku ini memang bukan seorang pecinta. Aku telah menegaskan bahwa diriku ini tak pernah memilki tanda titik. Aku t ak bergeming secuilpun, walau mereka mengiming- imingiku dengan ratapan batin yang bersayapkan dewa dan dewi cinta. Bahkan,  aku sanggup menangkis panah cupid yang dikirim Tuhan untuk memanahku dan menjatuhkanku dalam buaian gemerlapnya cinta. Aku sanggup hidup tanpa cinta.&lt;br /&gt;“  Tidak! Aku tak pernah sanggup hidup tanpa cinta!”, segelintir ratapan hati kecilku menginterupsiku. “, Tak ada yang harus diputar- balikkan! Kenyataan aku tak bercinta, bertitik dan bertuhan, telah mengunci seluruh ketepatan relung batin yang telah kusandingkan dengan pengatur siklus kehidupan dalam diri ini,”, Sang penyair di sisi hatiku yang lainnya menjawab intrupsiku tadi. Aku buta. Aku gelap. Tak bercahaya. Apa yang harus aku buka? Kainkah? Mataharikah? Surya yang angkuh dan maha tak pemurah itu?&lt;br /&gt;Aku sudah bosan menapaki nafas dan detik- demi detik sirkulasi oksigen di jagat raya ini. Aku bosan. Aku penat. Aku ingin melingkar. Aku ingin bertransformasi. Aku tak ingin merayap seperti dulu lagi. Aku ingin lari dari Tuhan. Maksudku, menjauh dari kain kafan yang membungkus Tuhan, tentu saja, karena aku telah membunuhnya. Aku merasa diriku larut dalam bias angin senja. Redup, hilang, dan berjelaga. &lt;br /&gt;Kau tahu bagaimana caraku membunuh Tuhan? Hahaha, aku membunuhnya dengan kejam. Sangat kejam, hingga aku sendiripun kadang bergidik membayangkan masa- masa itu. Masa- masa klimaks dimana seorang aku menghancurkan kedigdayaan Tuhan. Aku ini seorang pembunuh. Napak tilas sebagai pembunuh berdarah dingin yang darahnya sebenarnya tetap panas. Darahku mendidih panas, tetapi hasratku sebagai seorang pembunuh tetap saja dingin. Mereka mengutukku. Mereka menganggapku gila. Mereka menganggapku memancing kemurkaan Tuhan. Hmm, memancing kemurkaan Tuhan. Toh, memang itu yang aku cari. Aku mencari saat- saat dimana aku bisa berduel dengan Tuhan. Membuktikan pada dunia yang dikatakan diciptakan Tuhan, bahwa sebenarnya, Dia tidak pernah bisa mempertahankan kedudukannya sebagai Tuhan. Aku ini superior. Aku ini satu- satunya orang yang berani melawan Tuhan. Para atheis itu? Mereka hanya mengaku dan membanggakan diri mereka sebagai seseorang yang tak bertuhan! Padahal apa sebenarnya? Mereka itu pendusta! Mereka ternyata menghamba dan merintih meronta pada Tuhan yang awalnya mereka anggap tak ada! Dasar penjilat!&lt;br /&gt;Dimulai dari dialog interaktifku dengan Tuhan. Tanpa seorang moderator, tentunya, karena mereka semua itu takut melawan Tuhan. &lt;br /&gt;“ Apa yang bisa kau lakukan tanpa kehendak- Ku? “, Tuhan berkata, menyombongkan dirinya.&lt;br /&gt;“ Aku? Apa yang bisa diriku lakukan? Tentu saja membunuhmupun aku bisa! “, jawabku menyangkal keangkuhannya.&lt;br /&gt;“ Sadarkah kau, bila waktunya tiba, kau akan kehilangan segala yang Kutitipkan padamu kini!”, jawabnya murka.&lt;br /&gt;“ Hei, apa yang kau titipkan? Wajah penuh nista ini? Tangan kotor ini? Diri hina ini? Dan dendam membara yang terpatri ini?”, aku mengamuk. Aku kehilangan kontrol emosiku padanya. Dia benar- benar telah membuatku membuncahkan segala kemarahan yang telah kusimpan sepanjang hidupku. &lt;br /&gt;“ Aku akan senantiasa membuka pintu taubatku untukmu, jika kau mau bertaubat!”, tawar Tuhan padaku.&lt;br /&gt;“ Taubat? Padamu? Hahaha. T-a-u-b-a-t katamu? Lelucon apa ini? Lelucon yang kau muntahkan, hah?”, aku muak!&lt;br /&gt;“ Apakah kau benar- benar yakin akan membunuhku?”, tanya Tuhan.&lt;br /&gt;“ Bukan hanya membunuhmu, tetapi juga melenyapkanmu dengan tangan ini. Mengancurkan eksistensimu hingga kau tak dapat terdera sekalipun, hingga kau tak dapat mendengar rintihanmu, bahkan!”, Aku bersiap- siap untuk menghunuskan pedangku ke arahnya. Aku telah mengambil ancang- ancang.&lt;br /&gt;Tiba- tiba, ia tak berbicara. Ia menghilang. Ia pergi. Ia menghilang? Atau ia telah hancur dengan sendirinya? Atau, ia meleleh terbakar dendamku yang membara? Apapun yang terjadi, aku telah membunuhnya. Aku telah melenyapkannya. Aku ini telah mengukir prestasi, dengan pencapaian yang luar biasa tinggi. Sebagai penghancur Tuhan. Dengan pencapaian seperti ini, tak ada yang sanggup menyamaiku. Siapapun orangnya. Tak ada yang sanggup bermanifestasi dengan keleluasaan diriku ini setelah kepergian Tuhan. Tak ada yang bisa bermain api dengan bongkahan kekuatan yang terbentuk di jiwaku. Aku ini? Superior.&lt;br /&gt;Saudara- saudara sekalian, tiba- tiba Kartolo menendang perut saya dan menyebabkan saya terhuyung ke belakang. Terpental beberapa meter dari tubuhnya. Kartolo kehilangan kontrol dirinya. Ia kembali mengamuk. Naluri kesensitifannya tercubit ke permukaan ketika ia mengingat masa- masa pergolakan tersebut, tampaknya.&lt;br /&gt; Tetapi tunggu dulu, Kartolo sepertinya akan melanjutkan lagi ceritanya.&lt;br /&gt;( Kartolo mulai tenang dan kembali untuk bercerita.. )&lt;br /&gt;“ Aku ini superior! Aku telah membunuh Tuhan!”, Aku berteriak pada orang- orang di sekelillingku yang selalu saja berhasrat untuk mereduksi kepiawaianku. Mereka selalu menjulurkan rantainya untuk selalu melucuti kekuatanku. Mereka tak lebih dari songgok kain kafan putih yang tak bisa menyeruak sedikitpun, padahal, renggutan tanah becek yang merangkai kehancuran serat- serat kainnya siap untuk menerkam. Mereka terus menghantuiku dengan terornya setiap saat. Mereka tak pernah mau menerima kenyataan bahwa aku ini adalah superior, seorang penguasa sejati yang telah berhasil menundukkan keangkuhan surya, batu, pagar dunia, angkasa, mega laksana, galaksi dan sistem yang melintang di dalamnya, karena aku telah melenyapkan kekuasaan pengaturnya! &lt;br /&gt;“ Aku telah membunuh Tuhan!”, teriakku pada manusia berbaju putih di hadapanku. Aku meronta, mereka menendangku. Mereka mengekang kepribadianku. Apa lagi ini? Apakah mereka antek- antek Tuhan? Apa ini? Mereka memborgolku, mereka memaksaku untuk diam. Mereka merapatkan mulutku, membekapku, dan...&lt;br /&gt;Gelap. Seakan aku mati lemas.&lt;br /&gt;Saudara- saudara sekalian, sayang sekali, Kartolo tak dapat melanjutkan lagi ceritanya. Ia mengamuk terlalu sangat. Terpaksa kami mengamankannya. Saya hanya bisa terdiam melihat ini semua. Sebenarnya saya tak pernah tega memandang perhelatan kiprah Kartolo di depan mata telanjang ini. Tapi apa boleh buat, ini harus terjadi. Saya hanya bisa diam. Diam sejuta bahasa.&lt;br /&gt; “ Dasar kau manusia gila, pesakitan!”, seorang dokter jiwa RSJ Pakem, Yogyakarta mendengus kesal terhadap salah satu pasiennya yang baru saja berhasil ia ringkus. &lt;br /&gt;“ Awasi dia, jangan sampai dia berusaha kabur dan mengamuk lagi! ”, perintahnya pada ketiga perawat yang mendampinginya dalam mengamankan salah satu pasiennya tadi.&lt;br /&gt;“ Mengapa dia bisa gila?”, salah satu perawat yang baru saja bergabung bertanya pada saya,&lt;br /&gt;“ Dia mengaku telah membunuh Tuhan!”, jawab saya jujur.&lt;br /&gt;“ Apa? Membunuh Tuhan?”, ujarnya.&lt;br /&gt;“ Lelucon bodoh di pagi  buta!”, sahut rekannya yang lain.&lt;br /&gt;“ Hahaha,...!”.&lt;br /&gt;Mereka tertawa. Tergelak. Terbahak. Saya hanya bisa diam. Merintih dan sedikit berempati pada penderitaan Kartolo. Sedikit. Sedikit sekali. Karena saya sendiri sebenarnya tak pernah berpikir untuk menyetujui paradigma Kartolo untuk membunuh Tuhannya. Karena saya masih punya Gusti Allah. Saudara- saudara sekalian, kita hanya bisa berharap semoga Gusti Allah mengampuni dosa Kartolo yang sudah berjelaga dan pahit itu. Semoga. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandeglang, 8 Maret 2007&lt;br /&gt;( Urfi Syifa Urohmah )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-2330669171032258511?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/2330669171032258511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=2330669171032258511' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2330669171032258511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2330669171032258511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/ini-cerpen-paling-kacau-yang-pernah.html' title='Ini Cerpen Paling Kacau Yang pernah saya bikin,,,'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-3638730979261951265</id><published>2007-10-25T15:21:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T15:23:41.864+07:00</updated><title type='text'>Cerpen aneh.</title><content type='html'>Surprise!!.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Urfi Syifa Urohmah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMA Cahaya Madani Banten Boarding School&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya aku tiba di Indonesia. Tempat kelahiranku dua puluh tiga tahun lalu, namun tidak menjadi tempat dimana aku dibesarkan. Udara terik kota Tangerang menyapaku beberapa saat setelah aku Landing di Bandara Soekarno- Hatta dengan pesawat JAL ( Japan Airlines ). Aku memang dibesarkan di Jepang, beberapa kilometer dari pusat kota Tokyo. Berbekal kenekatan dan rasa penasaran yang berlebihan dan bergejolak dari dalam relung darah mudaku, aku nekat mencari rumah nenekku di Indonesia. Rumah almarhumah nenekku, tepatnya. Nenekku sudah tiada, beberapa hari setelah aku, Cassana Bianca, dilahirkan di daerah Pari, Mandalawangi yang terletak di sebuah Kabupaten bernama Pandeglang di sebelah barat pulau jawa. Orangtuaku masing- masing anak tunggal. Dan mereka berdua sudah kehilangan kedua orangtuanya kini. Otomatis, aku tidak pernah merasakan cinta dan kasih sayang dari seorang nenek ataupun kakek yang kadang aku tak sanggup untuk membayangkannya. Tapi, ibuku bilang padaku, bahwa adik dari nenekku, yang biasa dipanggil ”bibi” oleh  ibuku, masih hidup dan tinggal di Indonesia. Ya, kira- kira di daerah Mandalawangi ini.&lt;br /&gt; Pesawat pada penerbangan pertama menuju Indonesia dari Jepang masih kurasakan getarannya. Kini aku berada di dalam taksi. Sebuah taksi yang kusewa untuk mencari rumah bibi dari ibuku itu. Aku panggil dia nenek muda. Mengapa nenek muda? Karena tentu saja dia lebih muda dari nenekku. Tapi, masih termasuk tua juga. Tentu saja, mana ada sih nenek- nenek yang muda!. Taksi terus melaju. Sesekali kubuka kaca mobil taksi yang membawaku ini, dan menghirup dalam- dalam udara kota Tangerang yang panas. Delapan jam di dalam pesawat membuatku cukup lelah. Apalagi, ditambah rasa penasaranku pada nenek muda- ku.&lt;br /&gt;Aku hampir saja lupa. Aku belum mengabari orang tuaku di Jepang bahwa aku sudah sampai di Indonesia. Buru- buru aku raih O2 XDA- ku dari tas pinggangku. Aku harus mengabari orangtuaku secepatnya. &lt;br /&gt;” Mom, I’ve arrived in Soekarno- Hatta Airport several minutes ago, and now I’m getting a journey with a taxi.”  &lt;br /&gt;“ Oh, ya? Alhamdulillah, don’t forget to keep your self well there, I’ve told you that Indonesia is really different with Japan, can you feel that, honey? “&lt;br /&gt;“ Yeah, surely I can feel it. Come on, I’m not a baby, I’m an adult person, and I can help my ownself here, Mom! “&lt;br /&gt;“ Ok, but I just gonna remaind you once more that Indonesia is different with Japan, and I scare thet you will find any difficulities there, so, promise to me that you’ll always keep your worship and safety there! “&lt;br /&gt;“ Yes, Mom, God will..! “&lt;br /&gt;“ And the last, give me the the further Information everyday, OK! “&lt;br /&gt;“ Absolutely, Mom, ok, good bye!”&lt;br /&gt;“ Take care, Honey! “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Klik. Telepon diputus. Untung saja aku ingat kalau aku akan bepergian cukup jauh, bukan hanya ke Hokkaido atau ke Osaka, tetapi ke Indonesia. Untung saja ponsel dan simcard-ku punya fasilitas yang memadai untuk menghubungi pihak lain di luar negeri, sehingga aku tak perlu repot- repot membeli simcard lagi disini. Untung saja keluargaku membiasakan diriku dengan beberapa bahasa, sehingga aku bisa lancar berkomunikasi dengan beberapa bahasa. Terbukti hingga saat ini, aku telah menguasai setidaknya 5 macam bahasa, mulai dari bahasa Jepang, Inggris, Indonesia, Mandarin serta sedikit bahasa Perancis. Dan aku amat menikmati kemampuanku itu. Aku merasa amat mudah untuk berkomunikasi dengan orang lain di berbagai belahan dunia. &lt;br /&gt; ” Pak, ini sudah sampai daerah mana? “ Tanyaku pada si supir taksi.&lt;br /&gt; ” Sudah sampai karawaci, Neng, emangnya kenapa, Neng? ”, Tanyanya.&lt;br /&gt; ” Kalau Mandalawangi sudah kelewat belum, Pak?” &lt;br /&gt; ” Ya belum, dong Neng, masih dua setengah jam-an lagi, lah kira- kira!”&lt;br /&gt; “ Oh, begitu, ya sudah, tidak apa- apa, saya Cuma khawatir kelewat saja! “, Kataku, mengakhiri pembicaraanku dengan supir taksi gemuk bernama Sanusi itu. Matahari makin tinggi. Sepanjang perjalanan, aku tak dapat memejamkan mataku, karena aku masih merasa tak percaya dapat menginjakkan kakiku di tanah kelahiranku, yang aku tak pernah tahu bagaimana keadaan ril-nya. Selama ini aku hanya tahu keadaan Indonesia dari berita- berita yang orangtuaku dapatkan dari kedutaan besar Indonesia di Jepang serta Internet. Hingga aku memberanikan diri untuk menginjakkan kakiku disini.&lt;br /&gt; ” Pak, apakah di jalan ini tersedia tempat untuk beristirahat? ”, Tanyaku&lt;br /&gt; ” Oh, ada, Neng, kira- kira dua kilometer lagi, nanti saya belok dulu disana.” &lt;br /&gt; ” Terima kasih, Pak! ”.&lt;br /&gt; ” Iya, sama- sama, Neng. Tapi, kok si Neng ngomongnya formal amat, sih, Neng? Kayak para pejabat aja! ”&lt;br /&gt; ” Saya lama tinggal di Jepang, Pak, maka dari itu, bahasa saya jadi terlalu formal, saya jarang sekali mendengar bahasa Indonesia selain bahasa formal yang saya pakai untuk berkomunikasi sehari- hari disana! ”. Jawabku.&lt;br /&gt; ” Oh, pantesan, dari tadi kok saya ngerasa kaku banget dengernya, kayak yang bukan Indonesia asli aj, gitu Neng! ”, Tambahnya lagi.&lt;br /&gt; ” Ah, tidak juga, kok, Pak, biasa saja!”, Ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami mengobrol hingga sampai di tempat peristirahatan di jalan Tol Jakarta- Merak ini. Sementara taksi yang kusewa mengisi bahan bakarnya, aku bergegas menuju toilet, aku ingin sekali buang air kecil! Setelah aku menemukan tempat yang kucari, aku langsung masuk ke dalamnya, dan melakukan ” Ritual ” urgent- ku itu. Setelah keluar dari toilet yang kurasa kotor dan tak higienis itu, aku masih dikejutkan oleh kejutan yang lain lagi.&lt;br /&gt; ” Eh, Mbak, bayar dulu, enak aja mau langsung pergi! “, Hardik seorang lelaki tua yang berdiri di depan pintu toilet sejak tadi.&lt;br /&gt; ” Oh, maaf, saya tidak tahu kalau toilet di sini harus bayar, saya kira tidak bayar!”&lt;br /&gt; ” Enak aja, emangnya ini toilet nenek moyanglu, disini mana ada yang gratis, Mbak!, pura- pura nggak tau aja, nih si Mbak cantik! ”, Tambahnya.&lt;br /&gt; ” Maaf, ya, Pak, tapi saya memang benar- benar tidak tahu. Maaf, berapa saya harus bayar?”, Tanyaku diplomatis.&lt;br /&gt; “ Seribu, kalau Mbak mau mandi juga boleh, tapi bayarnya lima ribu, hehehe! “, Jawabnya cekikikan.&lt;br /&gt; “ Sudah, saya tidak mau berbelit- belit, ini, saya bayar! “, Jawabku pedas sambil mengeluarkan selembar sepuluh ribu rupiah, dan langsung pergi menuju taksiku.&lt;br /&gt; “ Neng, kembalinya…”, Teriak bapak tua itu dari kejauhan, tetapi aku tidak peduli dengan teriakannya, aku sudah sangat muak melihat wajahnya, terutama dengan kejutan yang kuterima barusan. Memang benar kata ibuku, bahwa Indonesia amat berbeda dengan Jepang dari segala sisi, mungkin. Temasuk dari takaran toilet. Aku langsung masuk ke dalam taksi dan menggerutu di dalam hati. Hingga lama kelamaan aku merasa lelah dan tertidur. Lelahnya perjalanan Jepang- Indonesia membuat badanku terasa lelah. Alunan suara Norah Jones dari Ipod- ku mengantarku ke dalam mimpi.&lt;br /&gt; Satu jam telah berlalu, dan aku tersentak dari tidurku. Aku merasa ada guncangan aneh di perutku. Aku merasa mual dan perutku serasa dikocok dengan keras. Aku langsung bangun dan bertanya pada Pak Sanusi.&lt;br /&gt; ” Pak, ini jalan kok rusak sekali?” Tanyaku padanya.&lt;br /&gt; ” Emang begitu, Neng, biasa, proyek pemerintah yang nggak tuntas! “&lt;br /&gt; “ Ini namanya daerah apa, Pak, kalau boleh saya tahu? “&lt;br /&gt; “ Saya juga kurang tahu sih, Neng sebenernya, tapi saya pernah denger, lokasi ini mau dijadikan kompleks perkantoran gitu, Neng, kalo nggak salah namanya daerah Cipocok ”, Katanya memberitahuku.&lt;br /&gt; “ Tapi jalannya kok rusak seperti ini, ya, Pak? ”, Tanyaku benar- benar penasaran.&lt;br /&gt; ” Duh, Saya nggak tahu, Neng, itu mah urusan pemerintah! ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah beberapa kejutan yang kudapatkan sepanjang hari ini. Mulai dari udara yang pengap dan cenderung tidak sehat, toilet yang kotor namun harus dipungut bayaran, hingga jalanan yang membuat sedikit sensasi di perutku. Aku tak tahu kejutan apalagi yang akan kuterima setelah ini. Yang jelas, kejutan yang kualami benar- benar membuat pikiranku bercampur aduk tak karuan. Bertanya pada diri sendiri, mengapa Indonesia seperti ini? Tentu saja, dengan jawaban yang terpaksa harus tertunda.&lt;br /&gt; ” Pak, ini daerah apa? ”, Tanyaku, sekitar dua puluh menit beranjak dari jalan penuh kejutan tadi.&lt;br /&gt; ” Pasar Pandeglang, Neng, kenapa, gitu?”&lt;br /&gt; “ Saya mau lihat- lihat sebentar, Pak, bisa tidak? ”&lt;br /&gt; ” Silahkan aja, Neng, siapa yang larang? Tapi, kalau ada apa- apa panggil saya cepat, ya, Neng! ”, Perintahnya.&lt;br /&gt; ” Memangnya kenapa, Pak? Kelihatannya Bapak khawatir sekali ”.&lt;br /&gt; ” Neng kan cantik, terus baru pertama kali kesini, saya takut Neng digangguin sama preman pasar Pandeglang ini !”, Tambahnya.&lt;br /&gt; ” Tenang aja, Pak, di Taekwondo, saya sudah dapat sabuk Biru garis, lho Pak, jadi Insya Allah saya bisa jaga diri! ”. Aku yakin pada ucapanku.&lt;br /&gt; ” Hati- hati ya, Neng!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bau pasar yang menyengat menemaniku berjalan- jalan di tengah teriknya matahari yang menyinari Pandeglang. Ini tidak terlihat seperti pasar. Ini lebih terlihat seperti penampungan sampah atau barang bekas di Jepang sana. Sekali lagi aku mengusap dada melihat ” kejutan ” yang selanjutnya ini. Aku menyaksikan sendiri beberapa orang yang menarik- narik orang dijalan, yang terlihat seperti ” dipaksa ” untuk menaiki kendaraan umum yang diparkir sembarangan di jalan itu. Ada juga lalat- lalat yang beterbangan silih berganti dari satu makanan ke makanan lain dengan begitu santainya. Aku sampai di sebuah toko yang menjual sandal. Aku baru ingat, kalau aku lupa memasukkan Charles Jourdan- ku ke dalam koperku, yang itu artinya, aku tidak membawa sandal kesayanganku itu. Dalam hati aku berniat ingin membeli sandal di toko itu. Dengan harapan tidak mendapat kejutan yang buruk lagi.&lt;br /&gt; Tidak ada Charles Jourdan. Tidak ada Reebok atau Adidas keluaran terbaru. Tidak ada Sophie Martin, apalagi Marks &amp; Spencer. Yang ada hanyalah imitasi dari mereka. Kejutan lagi? Tentu saja. Bosan hati ini menerimanya. Tapi tunggu, sepertinya aku tertarik dengan salah satu sandal yang dipajang di sudut toko itu. Ya, sandal santai berwarna hijau tua dan krem, yang bermerek, kalau tidak salah Carvil, kalau aku tidak salah baca. Langsung aku masuk ke toko tersebut, dan menanyakan harga sandal tersebut pada penjualnya yang sedang asyik merokok di meja kasir. Kubawa sandal tersebut ke meja kasir dan bermaksud untuk langsung membayarnya. tanpa tahu kalau sebentar lagi ada kejutan berikutnya yang akan datang.&lt;br /&gt; ” Pak, Bisa saya beli yang ini? ” &lt;br /&gt; ” Apa, Neng? Mau nyari yang model kayak gimana? “&lt;br /&gt; “ Saya bukan mau cari model, tapi mau beli sandal yag ini! “&lt;br /&gt; “ Tapi yang model begitu buat cowok, Neng, bukan buat cewek! “&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Penjual itu langsung merebut sandal yang telah aku pegang dan mengembalikannya ke tempatnya semula sambil menggerutu. Aku semakin kesal bercampur heran melihat kelakuan orang ini. Aneh, kok penjual melarang konsumen untuk membeli barang yang disukainya. Benar- benar aneh. Aku sudah benar- benar kesal, langsung aku mengambil kembali sandal yang telah ditaruh di tempatnya semula tadi. &lt;br /&gt; “ Sekali lagi saya Tanya, Pak, berapa harga sandal ini? Saya benar- benar ingin memilikinya, tak peduli sandal ini untuk wanita atau pria. Yang jelas, saya mau beli sandal ini! ”, Teriakku memaksa.&lt;br /&gt; ” Kalo dibilangin jangan nyolot gitu, dong, Neng!, kan saya udah bilang kalo yang itu buat cowok, bukan buat cewek, kok si Neng malah maksa banget! ”, Gusarnya.&lt;br /&gt; ” Dimana- mana, yang namanya pembeli itu harus dihormati dan dihargai, bukan dibentak- bentak seperti ini, Pak! ”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Darahku mendidih. Aku benar- benar sudah sangat kesal pada penjual sendal di pasar yang aneh ini. Aku kehilangan kendali. Hingga akhirnya...&lt;br /&gt; ” Bukk! ”&lt;br /&gt; Tinjuku mendarat di perutnya. Diikuti dengan beberapa jurus taewondoku setelahnya. Pria itu terhuyung kesakitan. Dia tidak melawan, dia tampak amat ketakutan. Beberapa detik setelah kejadian tersebut, orang- orang datang berkerumun melihat aksiku. Sayup- sayup kudengar orang- orang membicarakan sesuatu tentang diriku. Tentu saja yang kedengarannya negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Ih, geulis- geulis kok kitu kalakuanana! ”&lt;br /&gt; ” Busyet, cakep- cakep galak buanget! ”&lt;br /&gt; “ Bapak- bapak aja ditinju ampe tepar gitu! “&lt;br /&gt; Tiba- tiba datanglah seseorang yang kukenal yang melerai perkelahian kami. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Stop! Tolong, semuanya bubar! “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pak Sanusi melerai perkelahian kami. Semua pasang mata berhenti memandang dan pergi menjauh dengan gumaman- gumaman yang berbagai macam jenisnya. Pak Sanusi menyelesaikan masalah kami.&lt;br /&gt; “ Apa- apaan ini, Neng, kok bisa ribut kayak gini?”&lt;br /&gt; ” Saya Cuma mau beli sandal, tapi bapak ini malah sewot! ”&lt;br /&gt; ” Saya kan sudah bilang kalau sendal ini buat cowok, bukan buat cewek, salah sendiri situ maksa!”&lt;br /&gt; ” Tapi saya juga kan bayar, bukan minta!”&lt;br /&gt; ” Sudah, jangan lagi diteruskan. Sekarang lebih baik bapak kasih sendalnya ke Neng ini, terus Neng bayar sendalnya! ”, Kata Pak Sanusi.&lt;br /&gt; ” Sekaligus ganti rugi kerusakan toko saya! ”, Teriak penjual itu sadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku menyerahkan beberapa lembar ratusan ribu rupiah ke penjual itu. Matanya kini berbinar- binar melihat uang yang aku serahkan. Aku benar- benar kesal. Benci. Aku tak menyangka kejutan yang akan aku dapatkan begitu jauh dari yang kubayangkan. Tak setitikpun rasa yang menyibak kesamaan derajat dan kualitas hidup antara Indonesia dan Jepang. Walaupun ada beberapa hal yang membuatku kagum ketika melihat kebudayaan Indonesia, meski sejatinya miris. Aku tahu keadaan ini bisa diubah. Dan aku juga mau untuk mengubah Indonesia. Biar bagaimanapun juga, aku dilahirkan di Indonesia ini. Masalah kewarganegaraan itu gampang. Aku juga warga negara Indonesia. Di Jepang, aku masih memakai kewarganegaraan Indonesia selama aku dan keluargaku hidup di sana. Hingga kini, sepertinya aku akan benar- benar tinggal dan menetap di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ” Neng, kita sudah sampai di Mandalawangi, Neng! Ini dia Mandalawangi yang Neng cari! ”, Pak Sanusi memberhentikan Taksinya di depan sebuah sekolah berbentuk islamic boarding school bertuliskan SMA Cahaya Madani Banten Boarding School. Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada satpam di sekolah tersebut mengenai nenek muda yang aku cari.&lt;br /&gt; ” Permisi, Pak, boleh saya bertanya?”&lt;br /&gt; ” Ya, Neng, ada apa? ”, Jawab satpam yang bername- tag Toto tersebut.&lt;br /&gt; ” Saya ingin mencari alamat ini, kira- kira, Bapak tahu?”, Tanyaku sambil menyerahkan alamat nenek muda kepadanya.&lt;br /&gt; ” Ya Allah, Neng, atuh ini mah alamat sekolah ini! ”, Serunya kaget.&lt;br /&gt; ” Yang benar, Pak? Saya serius! ”&lt;br /&gt; ” Benar, Neng, lebih baik Neng saya antar ke Pak pimpinan saja, sepertinya Neng orang penting! ”&lt;br /&gt; ” Terima kasih, Pak, sebelumnya!”, Tambahku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ternyata yang kaget bukan hanya aku. Pimpinan sekolah itu juga sama kagetnya denganku. Lelaki setengah baya yang bernama Asep Rachmatulloh itu luar biasa senang bercampur kaget ketika bertemu denganku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; ” Saya Cassana Bianca ”, kataku memperkenalkan diriku kepadanya.&lt;br /&gt; ” Cassana Bianca? Anda tinggal di mana sebelum ke sini?”&lt;br /&gt; ” Saya dilahirkan di Mandalawangi ini, namun saya dan kedua orangtua saya tinggal di Jepang, dan saya dibesarkan di Jepang.”&lt;br /&gt; ” Allah Mahabesar, Nak, Anda-lah orang yang selama ini kami cari! ”&lt;br /&gt; ” Anda cari? Justru saya yang sedang mencari nenek muda saya!”&lt;br /&gt; ” Nenek muda? Bibi dari Ibu Andakah orangnya?”&lt;br /&gt; ” Ya, tepat. Saya sedang mencarinya. Apakah Anda tahu dimana keberadan nenek muda saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; dengan raut muka yang berubah menjadi sedikit murung, Lelaki itu beranjak menuju kantornya, dan keluar membawa berkas- berkas surat penting. Aku tersentak bukan main kagetnya lagi. Sepertinya kejutan sdemi kejutan tidak pernah berhenti mengahampiriku. Namun kali ini lebih terkejut dari yang sebelumnya. Nenek mudaku telah meninggal dunia tiga tahun yang lalu. Sekolah ini diwakafkan olehnya sebelu ia menghembuskan nafas terakhirnya. Dalam wasiatnya, ia juga menuliskan sebuah amanat, jika salah satu dari anggota keluarganya yang datang dan menemukan alamat sekolah ini, maka ia harus mengabdi pada sekolah ini. Setitik air mata yang lama- lama makin membuncah membanjiri wajahku. Kini, tekadku benar- benar bulat. Tekad untuk mengabdi pada sekolah ini. Membahagiakan nenek muda. Mengabdi pada Indonesia. Dan aku juga mulai menemukan keyakinan akan hal itu. Kuraih ponselku dan menelepon orangtuaku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; ” Mom, Dad, this is Bianca. ”&lt;br /&gt; ” Yes, Honey, what’s wrong? ”&lt;br /&gt; ” I’ve Found My Destination.”&lt;br /&gt; ” Really? Can you describe the situation in that place now?”&lt;br /&gt; ” She has passed away. Nenek muda sudah meninggal, Dad! She has passed away three years ago! ”, Sambil terisak aku mengabari orangtuaku di Jepang. Menberitahu semua fakta yang kudapatkan disini. Hingga aku mengutarakan tekadku yang sudah bulat.&lt;br /&gt; ” Mom, Dad, I’ve considered this. I’ve decided that I’ll move and Live in This Country! I’ll build and make the revolution of Indonesia. Please, permit me.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; kejutan demi kejutan telah menjadi bagian dari hidupku. Yang selanjutnya, aku tinggal di sekolah ini dan menjadi salah satu staf pengajar di bidang ketatabahasaan. Dan aku sungguh sangat menikmatinya.&lt;br /&gt; Dimulai dari udara yang pengap, kemudian tragedi toilet, jalan yang luar biasa indahnya, hingga menbuat perutku mual, sandal bertabur bencana, hingga sekolah ini. Terima kasih, Tuhan, telah memberiku kesempatan untuk menikmati kejutan yang Engkau anugerahkan. Kehidupan. Dan kebahagiaan. Entah sampai kapan, hanya Dia yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandeglang, 29 September 2006&lt;br /&gt;Urfi Syifa Urohmah&lt;br /&gt;Indonesia, terus maju! ( ini surat buat para calon gubernur dan wakil gubernur Banten )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-3638730979261951265?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/3638730979261951265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=3638730979261951265' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3638730979261951265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3638730979261951265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/cerpen-aneh.html' title='Cerpen aneh.'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-5537393760334306187</id><published>2007-10-25T15:17:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T15:21:09.613+07:00</updated><title type='text'>Resensi Buku,,,Sebenernya sih bikinyya udah lama banget,,</title><content type='html'>Resensi Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Pergolakan Relijiusitas, Sejarah dan Misteri Dunia Seni&lt;br /&gt;Oleh: Urfi Syifa Urohmah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : The Da Vinci Code&lt;br /&gt;Pengarang : Dan Brown&lt;br /&gt;Tebal Buku : 640 + Cover&lt;br /&gt;Penerbit  : PT. Serambi Ilmu Semesta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Buku The Da Vinci Code yang cukup tebal ini ( sekitar 640 halaman ) adalah sebuah buku yang berisi plot raksasa yang mengisahkan sebuah pergolakan berbagai fakta dan ilusi dengan alur cerita yang cenderung memikat. Ketika pembaca baru memulai untuk mengawali kisah yang dikemas di dalam buku ini, tentu saja para pembaca memiliki keengganan luar biasa untuk meninggalkan halaman demi halaman di buku ini meski hanya selembar dari ratusan halaman yang disajikan, karena lembar demi lembar dari rangkaian kisah di dalamnya begitu menarik dan menggugah keinginan pembaca untuk meneruskan hingga lembaran terakhir tanpa melewatkan satupun dari halaman yang telah tersusun di dalamnya, bahkan berkeinginan untuk mengulang berkali- kali.&lt;br /&gt;Irama cerita yang beralur melingkar dan tidak terikat pada urutan kejadian,  terkesan rapi dan mengalun sehingga pembaca dapat merangkai kata- kata yang disajikan secara logis dan berkesinambungan, meskipun alurnya acak dan membutuhkan kemampuan menganalisis kalimat demi kalimat yang memiliki tingkat bahasa yang cukup tinggi. Novel  yang menjadi salah satu novel terlaris abad ini versi majalah New York Time Amerika Serikat ini telah mendapat pengakuan dari berbagai pihak, baik perorangan maupun lembaga, diantaranya adalah pengarang- pengarang terlaris Amerika Serikat dan Inggris seperti Harlan Coben dan Nelson De Mille, yang mengatakan bahwa novel ini adalah sebuah bacaan yang amat menyita perhatian pembaca, sebuah konsep lengkap tentang penggila sejarah, pecinta teka- teki, dan sebuah bacaan cerdas yang berada jauh beberapa tingkat diatas beberapa kisah jenius biasa. Bahkan, harian Republika mengakui bahwa The Da Vinci Code adalah sebuah kisah menegangkan yang dikemas dengan tafsiran yang mengagumkan tentang sejarah barat sehingga novel ini tidak hanya menarik hati pembaca yang mencintai kisah- kisah menegangkan, tetapi juga para peminat seni dan agama.&lt;br /&gt;Sinopsis yang terdapat pada sampul  buku yang berisi tentang inti kisah yang menceritakan petualangan tokoh Robert Langdon, seorang pakar simbologi Harvard University, dengan Sophie Neveu, kriptolog handal kepolisian Prancis dalam menghadapi sebuah konspirasi yang menyembunyikan sebuah kebenaran yang telah dipendam selama ribuan tahun, yang melibatkan berbagai peristiwa rangkaian pembunuhan dan misteri sejarah  yang bercampur dalam sebuah konsep, tentu saja membuat pembaca tergugah untuk segera berpindah ke halaman- halaman utama.&lt;br /&gt;Yang menarik lagi dari novel ini, adalah ketersediaan sebuah halaman pembuka yang diberi label sebagai halaman yang berisi fakta- fakta sejarah tentang keakuratan berbagai dokumen serta deskripsi benda- benda seni yang diceritakan di dalamnya. Halaman ini membuat kontroversi yang begitu fenomenal di kalangan para pecinta sejarah dan para tokoh agama nasrani, baik Kristen katholik maupun protestan, serta berbagai kepercayaan tentang suatu kebenaran di masa lampau. Ketika buku ini diterbitkan, Dan Brown melejit di dunia internasional, sebagai pennulis yang kontroversional, fenomenal, sekaligus jenius. Hingga fakta yang menjadi fenomena, muncul beberapa karya sastra lain sebagai sanggahan, bantahan, bahkan penolakan secara mutlak dari isi buku ini, diantaranya adalah Cracking The Da Vinci Code serta The Da Vinci Code Decoded karya Martin Lunn. Sebuah respon yang luar biasa sensasional untuk ukuran sebuah novel biasa, sehingga patutlah buku ini dikatakan sebagai novel yang cukup pantas disebut sebuah novel bertaraf luar biasa.&lt;br /&gt;Seorang kurator Museum Louvre, Prancis bernama Jacques Sauniere, ditemukan tewas dibunuh di dalam kantornya sendiri, tepat pada hari dimana Robert Langdon, seorang pakar simbologi agama Harvard University memiliki sebuah agenda pertemuan dengannya. meski Langdon telah mengemukakan berbagai alibi dan bukti- bukti yang menyangkal keterlibatan dirinya dalam pembunuhan ini, kepolisian Prancis tetap memburunya sebagai tersangka, karena menganggap tulisan tangan Sauniere bertinta darahnya sendiri di lantai Museum Louvre yang salah satunya menuliskan dengan jelas nama Langdon disana, sebagai bukti otentik yang dapat menjerat Langdon sebagai pelaku pembunuhan ini. Adalah Sophie Neveu, seorang kriptolog cerdas kepolisian Prancis, yang juga adalah cucu kandung Sauniere, menyadari, bahwa kakeknya menuliskan kode- kode rahasia pada lantai tersebut, dan iapun berkeyakinan, bahwa Langdon tidak bersalah, tetapi Langdon adalah orang yang harus ia cari untk mengungkap teka- teki yang dimaksudkan oleh kakeknya tersebut.&lt;br /&gt;Penggunaan anagram yang luar biasa cerdas, dari beberapa karya Leonardo Da Vinci, berhasil dipecahkan dan menjadi kunci untuk membawa mereka kepada sebuah jawaban dari rangkaian teka- teki yang dimaksudkan oleh kakek Sophie. Penggunaan sandi atbash, sebuah sandi kuno yang digunakan para kriptolog pada umumnya untuk memecahkan sebuah kode rahasia, mengambil peranan yang culup besar disini. Sebuah konspirasi yang luar biasa rapi tersusun di balik semua peristiwa pembunuhan berantai yang terjadi, yang mengincar sebuah konsepsi berisi keangkuhan, kebiadaban, pembantaian, kebohongan, bahkan kenistaan sebuah fakta yang dikemas dalam latar sebuah kebenaran suci yang disembunyikan selama berabad- abad lamanya. Deskripsi yang cermat dan akurat tentang benda- benda seni yang utamanya adalah karya- karya sang maestro lukis, Leonardo Da Vinci, yang ternyata menyimpan berjuta misteri dari goresan demi goresan yang dihasilkannya di atas kanvas. Sebuah paradigma baru tentang karya seni, dimana sebuah karya seni ternyata memiliki sebuah nilai yang jauh lebih tinggi daripada penafsiran kita sebelumnya, sebuah penilaian yang tidak bias diputuskan secara teoritis dalam menilai sebuah karya seni. Dan sekali lagi, Dan Brown sepertinya telah berhasil untuk melahirkan sebuah paradogma baru yang benar- benar dapat menyihir pandangan pembaca tentang dunia seni.&lt;br /&gt;Tokoh- tokoh lain yang diceritakan di dalam novel ini, seperti Sir Leigh Teabing, seorang bangsawan sekaligus sejarawan dari Inggris, Bezu Fache, kapten kepolisian judisial Prancis, juga Uskup Aringarosa, serta Silas yang merupakan anggota dari perkumpulan Opus Dei, sebuah gereja ekstrim yang perekrutan anggotanya diluar dari cara- cara umum gereja biasa yang menimbulkan pro dan kontra, bahkan pertentangan dengan Vatikan. Biarawan Sion, sebuah perkumpulan persaudaraan rahasia yang dibangun pada abad pertengahan, dan para kesatria templar yang telah diulas pada buku sensasional Holy Blood, Holy Grail karya Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln, yang juga kontroversional beberapa tahun lalu, muncul dan diangkat kembali eksistensinya pada The Da Vinci Code. Pertentangan di tubuh penganut Nasrani sangat jelas disoroti disini. Asal usul agama Kristen yang kini menjadi agama mayoritas penduduk  bumi dipertanyakan dengan kritis. Pembuktian berbagai konspirasi sejarah yang dilakukan gereja pada masa lalu diungkap secara gamblang oleh Dan Brown. Deskripsi tentang karya- karya seni Leonardo Da Vinci yang juga menyoroti masalah keabsahan berbagai sejarah yang telah tertulis dalam kitab suci agama Kristen, Injil, dan juga fakta- fakta sejarah yang dibungkam selama ribuan tahun berusaha diungkap disini. Bahkan, dengan yakin Brown menuliskan, bahwa Yesus, yang diyakini sebagai Tuhan oleh para penganut Nasrani, sebenarnya adalah manusia biasa yang pada akhirnya dianggap sebagai Tuhan, atas konspirasi Konstantin Yang Agung, kaisar Romawi lalu, yang menetapkan dan mentahbiskan Yesus sebagai Tuhan. Tentu saja hal ini mengundang respon yang bermacam- bermacam dari dunia luar, sehingga wajarlah jika The Da Vinci Code mendapat banyak pujian, sanjungan, sanggahan, bantahan, bahkan penolakan dari berbagai pihak.&lt;br /&gt;Pengambilan setting cerita di dua negara, yaitu Prancis dan Inggris, adalah dua lokasi yang menjadi sumber sejarah dari legenda Holy Grail ( Cawan Suci ), Maria Magdalena ( yang diyakini sebagai pendamping hidup Yesus ), sebagai sosok perempuan suci yang terbuang, yang sejarah dan kesaksiannya dibungkam dan kian menjadi misteri hingga saat ini. Dan Brown juga berusaha untuk meyakinkan para pembaca bahwa sebenarnya, sejarah adalah sebuah kisah yang ditulis oleh para pemenang sejarah, yang dengan sendirinya mengalun sesuai dengan kehendak sang pemenang dalam sejarah yang berlangsung tersebut. Perlu adanya kajian secara khusus untuk mengkaji The Da Vinci Code secara lebih jauh, karena jika hanya pada penalaran biasa tanpa riset, pembaca akan mudah terbawa arus cerita yang seolah- olah menggiring pembaca untuk menyetujui semua konsepsi yang dimunculkan Brown.&lt;br /&gt;Sebagai buku yang menjadi “ Best Seller”  di berbagai belahan dunia ini, The Da Vinci Code merupakan gabungan dari kisah petualangan yang mendebarkan, cerdas, jenius, padat akan muatan sejarah dan deskripsi karya- karya seni agung dari para maestro dunia, juga diperkaya dengan dokumen- dokumen yang diklaim sebagai dokumen yang akurat pada lembar- lembar pertama pembuka buku ini, The Da Vinci Code ditelusuri sebagai buku yang merupakan media bagi Brown untuk mengingkari dan juga menolak akan eksistensi Kristen yang menjadi sebuah sejarah yang dipegang sepanjang masa, namun sebenarnya memiliki fakta tersembunyi yang selama ini tak pernah diungkapkan. Melalui kode- kode yang tersembunyi dibalik mahakarya Leonardo Da Vinci, seperti The Madonna of The Rocks, The Mona Lisa, serta The Last Supper, Leonardo menyimpan banyak rahasia berbahaya yang mengancam keselamatan manusia, khususnya penganut Nasrani. Beberapa buku yang merupakan respon dari munculnya novel ini mengklaim bahwa Brown adalah seorang anti- katolik.&lt;br /&gt;Kisah- kisah legenda Holy Grail, yang menceritakan kehidupan Yesus yang memiliki seorang pendamping, yaitu Maria Magdalena, yang sering diumpamakan sebagai cawan suci maupun mawar suci, mendasari petualangan akan pencarian kebenaran dari teka- teki yang berada dalam novel ini secara keseluruhan. Tokoh Leigh Teabing ( dideskripsikan sebagai tokoh yang memiliki cacat tubuh permanen ) yang telah mencuruhkan seluruh hidupnya dalam mencari fakta sebenarnya tentang Holy Grail seperti mendapatkan durian jatuh ketika Robert Langdon dan Sophie Neveu yang memilki berjuta petunjuk tentang keberadaan Grail mendatanginya di kediamannya di Puri Vilette, beberapa kilometer dari Paris. Kekuasaan Leigh yang merupakan bangsawan Inggris yang kaya raya, sangat berpengaruh untuk melindungi dua buron internasional, yaitu Langdon dan Neveu, yang diyakini bekerjasama dalam  pembunuhan Jacques Sauniere, kurator agung Louvre. Leigh membawa mereka ke Inggris, dan memanfaatkan mereka untuk mencari keberadaan Holy Grail. Leigh menggunakan berbagai cara untuk mencari tahu keberadaan Grail dengan menghalalkan berbagai cara, dan ternyata, ialah yang menjadi otak dari pembunuhan Mahaguru biarawan Sion ( Jacques Sauniere ), tiga Senechaux ( ksatria pelindung Mahaguru ), dan juga Remy Legaludec ( asisten pribadi Leigh Teabing ), dan pada akhirnya, Langdon dan Sophie dibebaskan dari segala tuduhan pembunuhan, dan menangkap Teabing sebagai pelaku yang sesungguhnya mereka cari.&lt;br /&gt;Langdon menyimpulkan, pencarian misteri Holy Grail, sebenarnya adalah pencarian tentang hakikat seorang perempuan suci yang terbuang, tersakiti, dan dihapus dari sejarah yang telah ditulis ulang berabad- abad lalu. Langdon juga menggambarkan tentang pelanggaran hak- hak asasi manusia yang terjadi pada abad pertengahan lalu, seperti pembakaran massal para kesatria Templar di tiang pancang oleh Paus Clementius, paus yang berkuasa pada saat itu, pelenyapan sejumlah anggota keluarga mahaguru biarawan Sion yang dinilai mengancam eksistensi gereja, penelusuran dinasti Merovingian ( keturunan Yesus langsung ), serta kekaguman Leonardo Da Vinci pada hakikat seorang perempuan suci yang harus menghadapi berbagai badai kehidupan, yang dituangkan dalam karya- karya seninya yang menyiratkan berbagai makna mendalam pada setiap goresannya. Sebuah penalaran yang menakjubkan tentang seorang wanita, pandangan mengenai keberadaan Tuhan, penolakan terhadap sebuah keterpaksaan, serta ketidakberdayaan ketika kasih saying dan cinta yang berbicara. Hal ini terlihat jelas dalam karakter tokoh- tokoh yang digambarkan, dan menjadi sebuah deskripsi nilai rasa yang mutlak berkaitan.&lt;br /&gt;Penggunaan teknologi tinggi dan teka- teki yang sangat sulit untuk dipecahkan, memiliki ketertarikan dan nilai lebih tersendiri bagi buku ini. Dimulai dari anagram yang membingungkan, Dan Brown memulai untuk membuktikan kepiawaiannya sebagai pencerita yang handal dan luar biasa cerdas, dilanjutkan dengan puisi sang Mahaguru yang memilki makna ganda untuk membuka cryptex, alat unik penyimpan kertas papirus di dalamnya, yang hanya dapat dipecahkan dengan menggunakan sandi atbash, sebuah sandi kuno yang sulit dikenali, hingga permainan kata yang tersamar, tetapi ganda. Brown memaksa pembaca untuk berpikir kritis dan membawa pembaca pula untuk ikut berusaha memecahkan teka- teki yang dimaksud. Penggunaan teknologi tinggi dapat dilihat dari mekanisme penyadapan yang dilakukan Leigh Teabing dalam memata- matai Sauniere, juga kehidupan pribadi Teabing yang mewah, termasuk penggunaan revolver medusa, senjata api mutakhir yang digunakan untuk membunuh beberapa korban. &lt;br /&gt;Meski The Da Vinci Code memiliki nilai tambah yang luar biasa di mata pembaca, tentu saja masih terdapat kekurangan yang mendasar, seperti sisi linguistik dari novel terjemahan ini. Kalimat teka- teki yang diajukan, tampak tidak cocok apabila diterjemahkan, karena berhubungan dengan anagram dan puisi, unsur- unsur yang erat kaitannya dengan kaidah- kaidah linguistik. Selain itu, bantahan yang muncul dari buku- buku yang muncul setelah novel ini memiliki pengaruh yang amat besar bagi fakta yang diungkapkan oleh Brown. Beberapa pembaca kehilangan kepercayaan pada The Da Vinci Code, dan Dan Brown terlihat begitu membumbui fakta yang ada dengan kisah yang belum seratus persen kebenarannya terjamin. Brown juga terlalu mengambil resiko dengan mengatakan bahwa sebenarnya Yesus bukanlah Tuhan, melainkan manusia biasa yang ditahbiskan sebagai Tuhan, yang menjadi pemicu konflik antar agama, bahkan konflik intern agama. Kadang, Brown juga menggunakan kalimat- kalimat yang terlalu rumit, sehingga pembaca yang tidak memahami kisah ini dari awal, merasa enggan untuk meneruskan bacaannya. Dan juga, tidak terdapat sama sekali gambar atau lukisan dari karya seni maupun bangunan yang telah diklaim sebagai fakta, sehingga menyurutkan keinginan pembaca untuk menempatkan diri seolah- olah berada di dalam cerita. Akhir yang terkesan menggantung, merupakan sebuah cirri khas seorang Dan Brown, walaupun pada beberapa pembaca, terjadi kesalahpahaman persepsi, yang amat fatal jika penafsirannya benar- benar menyimpang, karena novel ini didasari oleh pengembangan fakta dan sejarah.&lt;br /&gt;Pada umumnya, sebuah novel spektakuler oleh penulis sekaliber Dan Brown ini, memiliki nilai- nilai seni yang tinggi. Apresiasi dari berbagai pihak, baik secara positif maupun ekstrim, adalah bukti keberhasilan Brown dalam menulis cerita yang kontroversial ini. Pengungkapan sejarah, sebuah momen berharga yang tak pernah terulang kembali, sebuah apresiasi kecintaan terhadap seorang wanita suci, penghargaan yang mendalam terhadap Leonardo Da Vinci secara keseluruhan, juga penalaran yang tinggi akan arti sebuah kebenaran. Jawaban tentang misteri yang berusaha diungkap oleh Brown, tetap menjadi misteri, karena sesungguhnya, misteri akan tetap menjadi misteri abadi, tinggal bagaimana kita, sebagai pembaca, untuk menyikapi paradigm yang dibangun oleh Brown tentang konsepsi sejarah masa lampau, tanpa harus mempermasalahkan agama dan kebebasan untuk berkarya dan berapresiasi seni. Karena sesungguhnya, segala sesuatu memiliki arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandeglang, 23 Januari 2007&lt;br /&gt;Urfi Syifa Urohmah&lt;br /&gt;XI IPA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-5537393760334306187?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/5537393760334306187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=5537393760334306187' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5537393760334306187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/5537393760334306187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/resensi-bukusebenernya-sih-bikinyya.html' title='Resensi Buku,,,Sebenernya sih bikinyya udah lama banget,,'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-7572289248174713521</id><published>2007-10-25T15:04:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T15:15:24.030+07:00</updated><title type='text'>Shiva dalam jalinan kata..</title><content type='html'>Sekeping Cinta Faturrahman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Urfi Syifa Urohmah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Novel Mini &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Special Dedicated for:&lt;br /&gt;My Beloved Mother… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua Januari dua ribu tujuh. Seorang lelaki muda yang cukup matang  terlihat sedang merenungkan sesuatu di atap rumahnya. Sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Andaikan kita harus berbicara tentang sebuah kebetulan, otak kita tak akan ada habisnya buat berpikir, mengapa suatu kebetulan itu bisa terjadi. Kadang- kadang, sel otak kita bekerja keras untuk mencari kunci jawaban mengapa sebuah kejadian bisa kita alami. Dan tak jarang pula, jawaban yang timbul hanya rasa nyeri luar biasa yang datang dari dalam otak kita. Orang tua bilang, buat apa, yang seperti itu saja dipikirkan, toh tidak akan ada kata selesai untuk hal ini.&lt;br /&gt;Lain dengan diriku. Kadang, aku selalu memikirkan hal- hal sekecil apapun yang terjadi dan membuat sebuah catatan sejarah hidupku. Sampai orang memberiku julukan sebagai sesosok manusia pemikir. Tentu saja bukan berpikiran kotor, pastinya, karena aku tidak tertarik dengan dunia seperti itu. Aku sangat mengagumi kebesaran kekuasaan Tuhan. Kekuasaan yang dapat memberikan  kesempatan untuk hidup dan bernapas dengan gratis di muka bumi. Aku juga sangat mengagumi kekuatan Tuhan yang dahsyat yang bisa menciptakan bentuk dan rupa yang benar- benar indah,… seperti diriku. Seorang Rico Faturrahman. Ini sebuah anugerah yang besar dan tak tergantikan. Dia memberikan aku hidup. Dan yang paling penting lagi, aku berterima kasih sekali karena Tuhan telah memberiku dua kaki tanpa cacat, mulut dan hidung yang amat pas ukurannya untuk seorang lelaki,  gigi yang rapi berderet 32 buah yang dengan begitu setianya bertengger nyaman di mulutku ini. Dia juga menghadiahiku mata yang bisa melihat betapa indahnya alam semesta ini, perut yang cukup atletis, sampai otak cemerlang yang dapat membawaku menggapai apa- apa yang aku dambakan. Termasuk takdirku untuk hidup serba berkecukupan dari hasil jerih payahku sendiri. Dan yang jelas, aku bersyukur karena dapat menapaki hidup ini dengan seorang ibu yang selalu ada dalam segala nuansa hidupku.&lt;br /&gt;Aku sangat menyadari kalau Tuhan itu Mahaadil. Mahasempurna. Apalagi jika dihubungin dengan kejadian yang kualami sebulan yang lalu. Aku  semakin cinta kepada Sang Pencipta semesta alam. Aku juga semakin yakin bahwa The Power of God surround of my life itu benar- benar ada.&lt;br /&gt; Jodoh itu di tangan Tuhan. Dan itu telah rapi tertulis di dalam Lauh Mahfuz- Nya jauh sebelum kita bercokol ke dunia. Jauh sebelum orang tua  kita saling bertemu. Jauh sebelum kita bisa mengucapkan a- i- u- e- o. Jauh sebelum ini dan itu tercipta. Dan hal itu lebih dari sekedar menakjubkan. Dan semua itutetap menjadi realita. Wonderful and Unpredictable.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh November dua ribu enam. Pinggir pantai Anyer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki berparas rupawan meluapkan segala isi hatinya. Berteriak seperi orang yang hilang asa. Orang gila. Setidaknya, itulah interpretasi kita jika kita berada tak jauh dari tempatnya melakukan atraksi tersebut. &lt;br /&gt;Sepuluh meter dari tempat tersebut, seorang wanita berparas manis dan karismatik, dibalut dengan jilbab lebar sedang asyik duduk di pinggiran pantai sambil membaca Al- Ma’tsurat sekaligus bertadabbur alam. Merenungi ciptaan Rabb- nya. Sang Khaliq yang tak pernah terputus rahmat dan karunia- Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Aaaaahhhh……!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Dasar wanita brengsekkk…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Karina brengseeeeekkkk!...!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Brengseeekkkkkkk……….!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rico terus- menerus berteriak sendiri tanpa melakukan hal lain yang lebih berarti. Dia ingin meluapkan seluruh emosinya. Semua jelaga yang menetap dan berkarat di hatinya. Dia dikhianati kekasihnya sendiri. Karina. Yang ternyata lebih akrab dengan sebutan ayam kampus sejati ia biarkan mengisi ruang kosong di hatinya tanpa sadar. Ia hanya bisa terpaku ketika dirinya berpapasan dengan Karina di salah satu hotel berbintang di Anyer. Berkaca pada sebuah kebetulan yang kita tak pernah tahu kapan itu akan terjadi. Di tempat yang sama, Rico sedang menghadiri seminar di hotel yang memiliki bintang berderet lima itu. Tak perlu membayangkan hal apa yang terjadi ketika mereka saling bertatap muka. Konklusi yang kita dapat, Rico mengalami suatu fase dimana dirinya benar- benar merasakan suasana kalut yang tak pernah ia bayangkan. Remuk. Hancur. Terlebih lagi, luka.&lt;br /&gt; Rico berekspresi tanpa memikirkan seseorang yang merasa terusik, sepuluh meter dari tempatnya. Wanita berjilbab lebar tadi. Wanita yang sedang mengagumi nuansa deburan ombak lembut dan semilir angin yang terus- menerus membuat jilbabnya berkibar. Tetapi ia gusar juga pada akhirnya. Melihat seorang lelaki yang berbuat seolah dirinya tak berdaya menahan problematika dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Percuma saja Kamu berteriak- teriak seperti itu!”, Wanita itu mulai berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Biarkan saja saya begini, apa urusan Anda?”, Rico mendengus kesal karena wanita tadi berkata seperti itu padanya. Nampaknya emosi yang terbalut dalam keputusasaan juga kekecewaan yang mendalam telah membuatnya kehilangan kontrol diri. Dia berbicara tanpa melihat wanita berjilbab tadi. Menghadap lurus ke arah pantai. Membelakanginya. Dia enggan membalikkan badannya ke arah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Kamu tahu? pertama, Kamu mengganggu saya, kedua, Kamu ini menbuat kacau konsentrasi saya, dan ketiga, saya terlalu kasihan melihat seseorang yang belum bisa menyelesaikan masalahnya secara dewasa!”, Wanita itu menanggapi tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Kalo saya mengganggu Anda, maaf, tetapi Anda tidak berhak sama sekali untuk berbicara mengenai masalah kedewasaan diri saya, memangnya Anda siapa?”, Sambil membalikkan badannya, Rico menjawab komentar wanita tadi.&lt;br /&gt; Sesaat mereka berpandangan. Tak lebih dari tiga detik, si wanita langsung memalingkan mukanya ke arah lain dan beristighfar. Rico terdiam sesaat. Mulutnya terkunci tiba- tiba. Ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Jantungnya berdebar lebih kencang, kontinuitas berdetaknya bertambah, seperti seorang pesakitan yang sedang dikejar kejamnya angina buritan. Mukanya memerah. Badannya bergetar. Seperti tersengat listrik jutaan  volt. Tanya Mengapa? Ini hanya akan menghasilkan kalimat tanya retoris. Jelas saja, Rico mengalami love at the first sight dalam tempo kurang dari tiga detik. Sementara makhluk berparas indah tadi? Dia bisa menguasai diri, Istighfar yang terus- menerus diucapkannya menjadi sebuah jaminan penguasaan dirinya. Dirinya mengalami hal yang serupa atau tidak, tetap menjadi misteri. Wanita ini selalu ingat akan dosa dan kekhilafan dirinya. Salah satunya, dosa jika bertatapan sama dengan lelaki yang bukan muhrim pada saat yang kedua kalinya. Meskipun yang pertama kalinya bukan sebuah perbuatan dosa, melainkan suatu garis yang telah ditakdirkan Sang Pencipta untuk terjadi pada dirinya hari ini. Tanpa harus melakukan suatu kesalahan. Dosa. Zina mata, populernya. Hal itulah yang membuatnya langsung memalingkan muka ketika matanya bertatapan dengan Rico tadi. Dari jarak sepuluh meter yang terasa amat dekat, Rico seperti tersihir beberapa saat. Ia benar- benar tersihir. Dan sepertinya bukan untuk waktu yang sebentar. Walaupun dirinya jadi agak kaku, karena Rico langsung mendapatkan sebuah ilham untuk merubah sikapnya pada wanita ini. Refleks begitu saja. Rico mendadak menaruh kepercayaan yang amat besar pada orang ini. Padahal, baru beberapa menit mereka berbicara. Dan baru tiga detik Rico melihat  wajah manisnya secara tidak sengaja. Eksistensi sebuah kebetulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Saya baru saja memperoleh sebuah kekecewaan yang terlalu mendalam. Terlalu sakit. Mungkin Anda benar, saya belu memiliki sebuah kedewasaan yang terpatri dalam diri saya akan suatu kesanggupan dalam menyelesaikan masalah. Dia terlalu,..Ah!”, Rico tercekat di tenggorokannya. Ragu untuk menyampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Dia, Karina. Kekasih saya, calon pendamping hidup saya, tetapi mengapa dia harus mengkhianati saya? Saya berpapasan dengannya ketika dia digandeng seorang om- om. Ternyata Karina Chicken Campus. Saya hancur.”, Rico ngungkapin perasaannya ke wanita tadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Saya mengerti. Bagaimana perasaan kamu saat ini, tapi akhi, semua masalah ada jawabannya, dan kita harus yakin akan hal itu!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rico mikir sejenak. Akhi? Oh ya, dia ingat sesuatu. Akhi itu kalu tidak salah adalah sebutan untuk laki- laki dalam bahasa arab. Kemudian dia melanjutkan ceritanya yang terputus tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Dia terlalu yakin untuk menyakiti perasaan saya. Padahal, saya telah memberikan segala untuk dirinya. Rasa sayang yang terlalu mahal, hingga keseriusan untuk memilihnya menjadi seorang pendamping untuk menapaki hidup ini! Tetapi mengapa dia tega melakukan semua ini pada diri saya?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Simpel. Apakah pernah kamu berpikir positif pada Allah? Apakah pernah kamu berpikir kalau semua kejadian dalam hidup ini semata- mata karena Allah ingin memberi hikmah yang amat besar dibalik ini semua?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Misalnya?”,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Siapa yang tahu kalau Allah memang memberikan kamu hikmah hari ini. Kamu diberi kesempatan untuk  melihat sendiri dengan mata kepala kamu kalau ternyata wanita yang selama ini mempunyai tempat yang terlalu besar di hatimu ternyata seperti itu. Kamu diberikan petunjuk secara tidak sadar oleh Allah tentang kenyataan yang sebenarnya sebelum Kamu terlambat, apalagi tadi Kamu mengatakan, Kamu sudah serius untuk mengikat dirimu dan dirinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Kamu benar. Tiada kata yang pantas saya ucapkan selain lautan terima kasih yang mendalam. Kamu memberikan sesuatu yang konstruktif bagi hidup saya, menenangkan pikiran saya. Membuka pikiran saya. Otak saya yang emosional. So, what do I have to do right now?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“ Patient. Positive thinking to God, pray, and accept these all sincerely.”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Sampai lupa. Boleh saya mengenal Anda? Saya Rico Faturrahman, dari Tangerang, panggil saja saya Rico. ”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Saya Shafira. By the way, sudah hampir Maghrib. Saya harus pulang sekarang. Assalamu’alaikum!”, tanpa basa- basi, tanpa jabat tangan, dan tanpa melihat wajah Rico secara langsung, Fira pamit pulang ke rumahnya, yang tidak jauh dari tempat ini. Ia  berjalan cepat ke mobilnya yang terparkir di pinggir pantai. Ia langsung menginjak pedal gas, dan melesat menuju rumahnya yang berada di kompleks dekat pantai Anyer ini. Seolah berlomba dengan matahari yang hampir menenggelamkan sayapnya, ia bergegas mengendarai mobilnya menuju bumi pertiwinya.&lt;br /&gt; “ Fira, tunggu, boleh saya minta alamat atau nomor telepon kamuuuuuu?”, Setengah berlari ia berteriak. Rico baru menyadari ketika Fira sudah berjalan terlalu jauh. Dia lupa meminta nomor telepon apalagi alamatnya. Sebuah penyesalan yang pahit menjalar dari kerongkongan hingga usus- usus halus yang terlipat rapi di dalam tubuhnya. Ia merasa sebuah mutiara hatinya terlepas begitu saja.&lt;br /&gt; Jalan tol Merak- Jakarta terasa hampa. Biasanya, ia selalu bersemangat ketika mendengarkan instrument Wolfgang Amadeus Mozart atau Vanessa Mae kesayangannya ketika berkendaraan. Namun kali ini, ia memilih diam. Terpaku menatap lurusnya jalan bebas hambatan ini, katanya. Meskipun jalan ini tidak terlalu absolute untuk dikatakan sebagai jalan bebas hambatan. Jiwa berpikirnya muncul ke permukaan. Apakah ini yang disebut sebagai kebetulan? Apakah ini yang dikatakan sebagai Rahmat dari Tuhan? Apakah ini yang dikatakan sebagai love at the first sight? Atu ini hanya sebuah angina lalu yang berhembus dan menghilang begitu saja? Tampaknya tidak begitu kenyataannya. Entah mengapa pula sejak tadi Rico berpikir kalau pertemuannya dengan Shafira bukanlah sebagai sesuatu yang pertama dan terakhir. Gelombang dan sel- sel syaraf otaknya terus berpacu seiring dengan ban mobilnya yang menderu kencang. Hingga ia yakin akan suatu hal.&lt;br /&gt; Ia yakin bahwa Shafira adalah seseorang yang ia cari selama ini. Mutiara tak tergantikan yang sebenarnya sedang ia cari. Bukannya perhiasan imitasi yang hanya memberikan sebuah kepalsuan seperti apa yang telah Karina berikan baginya. Shafira, dimanakah Engkau berada? Di hatiku yang terdalam kah? Atau, kau hanya sebuah harapan kosong yang selalu mengawang di nirwana kebahagiaanku? Aku hilang rasa. Tetapi aku yakin, bahwa dia tetap ada. Nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; “ Ya Allah, Rico, kamu dari mana saja, Nak? Ibu cemas memikirkan keadaan dirimu, Nak! Kamu tidak langsung kembali setelah seminar selesai, kan?kamu kemana saja, Nak?”, kekhawatiran seorang ibu cukup beralasan untuk anaknya yang terlambat pulang selama 36 jam tanpa ada kabar maupun pesan. Memang, setelah kejadian pahit dengan Karina, aku tidak mengaktifkan ponselku, dan aku juga belum membuka- buka laptop- ku sama sekali. Jadi wajar kalau ibuku khawatir. Ia sangat menyayangiku, hingga terkadang ia lupa bahwa Rico yang sekarang adalah seorang pemuda matang yang siap untuk membina sebuah keluarga baru.&lt;br /&gt; Sejak awal, ibuku memang tak pernah setuju diriku berhubungan dengan Karina. Tapi entah mengapa aku, yang terlalu bodoh ini mengabaikan kata- kata ibuku. Dan kali ini, aku dapat merasakan betapa sakralnya kata- kata seorang ibu. Hikmah dari Allah. Kata- kata Shafira kembali terngiang di telingaku. Aku berpikir dan terus berpikir. Betapa indahnya hidupku jika ia berada di sampingku. Membangunkanku ketika aku terlelap nyenyak di sepertiga malam terakhir. Menyenandungkan shalawat dan nyanyian indah di telingaku, yang aku rasa akan lebih indah jika dibandingkan dengan instrumen Mozart ataupun Vanessa Mae yang sangat mampu untuk memberiku semangat baru. Betapa indahnya hidupku nantinya bila aku bisa bersanding dengannya di sebuah pelaminan suci, memilikinya lewat sebuah akad nikah yang suci, dan melihatnya mendidik anak- anakku tumbuh dan berkembang. Aku hanya dapat berimajinasi, betapa indahnya hal tersebut bila benar- benar menjadi sebuah realita yang datang menghampiri hidupku. Dan membangunkanku dari bayangan semu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Bu, maafkan Rico selama ini, Bu!”, Rico mengawali pagi ini dengan sebuah permintaan maaf pada ibunya yang tercinta.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Maaf untuk apa, Nak? Seingat Ibu, kamu tidak berbuat salah pada Ibu”, &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Ini tentang Karina, Bu”,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Karina? Ada apa dengan dia?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Bu, ternyata dia bukan wanita yang saya cari selama ini. Dia tidaklah seperti yang saya bayangkan sebelumnya, Bu. Dia terlalu nestapa untuk menjadi menantu Ibu”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Memangnya ada apa, Nak, hingga Kamu berkata seperti itu? Padahal biasanya Kamu selalu memujanya di setiap waktu. Dan, mengapa tiba- tiba kamu beralih pikiran menjadi setuju akan pendapat Ibu?”,&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt; “ Allah memberi jalan pada saya, Bu. Sepertinya Allah terlalu baik pada setiap hamba- Nya. Ia memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi…..,”, Rico menggantung kalimatnya. Mulutnya tercekat untuk berkata.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Karina ayam kampus, Bu, …!”,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Astaghfirullahal ‘Adzim…”, Ucapnya Lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Maafkan Rico selama ini, Bu, maafkan saya..!”, Rico memeluk ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Allah masih menyayangimu, Nak. Ia tampakkan apa yang seharusnya tampak. Ia menyelamatkanmu, Nak. Sekarang, maukah Kamu bersabar dan tetap percaya bahwa Allah telah memasangkan setiap manusia dengan pasangan yang benar- benar cocok? Dan hal tersebuat telah tertuang pada ayat- ayat- Nya? Ayat- ayat tentang kejujuran, kebahagiaan? Ayat- ayat cinta! Dan Kamu harus yakin bahwa hal tersebut memang ada.”, Tetes demi tetes air mata tercurah dari mata sayu Ibunda Rico. Air mata kebahagiaan. Air mata kelegaan batin dan pikiran. Air mata bahagia melihat anaknya terlepas dari jurang yang hampir saja ia masuk ke dalamnya. Air mata kejujuran yang terpancar dari beningnya cairan dari kelopak mata sang ibunda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Kemudian, bagaimana dengan Fayyza?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Bu, biarkan saya mencari..,!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Inilah harapan ibu, Nak. Jika kamu dapat meminangnya menjadi istrimu!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Tapi bukan dirinya yang Rico cintai, Bu!”, Rico mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sesaat mereka terdiam sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Kamu masih tetap mencintai Karina setelah Kamu tahu semuanya?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Bukan dia, Bu. Sama sekali bukan dia. Bukan Karina,..”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Tapi Shafira.”, Ia akhirnya berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seraut wajah kebingungan menyelimuti wajah ibundanya. Ia tidak mengenal Shafira sama sekali, dan tiba- tiba anaknya mengatakan kalau dirinya sangat mencintai Shafira, nama yang begitu asing di telinganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Shafira?”, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Ya, dia Shafira. Seorang wanita luar biasa yang saya baru menatapnya stiga detik, seseorang yang menyadarkan saya akan besarnya kekuatan cinta Illahi pada hamba- hamba- Nya. Dan saya merasakan getaran dahsyat, gelombang magnetik dan besarnya kekuatan cinta, dan dengan yakin saya memutuskan, untuk memilihnya menjadi pendamping hidup saya…,”, Rico bercerita dari awal pertemuannya hingga akhir yang menyesakkan dada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Jadi, Kamu tidak tahu dimana ia tinggal? Nomor telepon, bahkan orang tuanya, Kamu tidak tahu akan hal itu semua?”, ibunya kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Akan saya cari  tahu. Sampai berhasil meminangnya. Cinta ini entah mengapa menjadi terlalu besar mengendap di dasar hati saya. Inilah kekuatan cinta suci, Bu, mencintai seseorang karena Allah, dengan tetap mengutamakan Allah sebagai cinta sejati kita..”, Rico mengutip kata- kata Shafira beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Apa saja asal Kamu bahagia, Nak, jangan pernah berhenti mencari cinta sejatimu, apakah dia seperti Fayyza, Nak?”, ibunya bertanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Yah, dia berjilbab lebar seperti Fayyza, Shafira memiliki paras sindah bidadari, tak ada perbadaan diantara mereka berdua soal ini, Bu! Ia juga memiliki kelopak mata yang indah seperti yang Fayyza yang miliki sepenuhnya, ia juga memiliki suara yang indah seperti gemericik sungai surga ketika ia melantunkan ayat- ayat- Nya, tetapi ia memiliki suatu magnet yang tidak dimiliki oleh Fayyza.”,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Cinta, “, Rico terhenyak sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Hanya Allah yang tahu,”, ibunya mengakhiri pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari demi hari berlalu, Rico terus mencari tahu keberadaan Shafira, hingga ia harus bermalam di Anyer selama beberapa hari, hanya untuk mengobati cintanya yang begitu mengkronis pada Shafira. Do’a dari ibunya yang tulus selalu mengiringi setiap langkahnya. Termasuk dalam pencarian cintanya. Meski ibunya masih amat berharap jika Fayyza- lah yang menjadi menantunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sepuluh  Desember dua ribu enam. Rico termenung di kantornya. Seorang sahabat lama datang menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Irfan?”, Rico terkejut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Ya, ini aku, Irfan teman kuliahmu di strata satu dulu!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Irfan Maulana. Seorang sosok sahabat sejati yang tak pernah mati. Lelaki yang memiliki garis wajah tegas tetapi memancarkan keteduhan ini adalah seorang sahabat yang telah melengkapi siklus kehidupan Rico selama kurun waktu yang tak bisa dikatakan sedikit. Irfan, yang sering disebut- sebut sebagai titisan Fernando Morientes, salah satu bintang sepak bola Spanyol yang sangat rupawan itu, karena memang Irfan memiliki paras yang rupawan, seperti halnya anugerah yang Tuhan berikan untuk seorang Rico Faturrahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Subhanallah, ternyata Allah masih mengikat tali silaturahmi kita, Fan!”,Rico senang luar biasa, dan melupakan lamunannya tentang Shafira sejenak.&lt;br /&gt; Mereka terlibat pembicaraan yang begitu kental. Dua sosok sahabat yang telah lama tidak bertemu. Dan kehangatan jalinan persabatan yang mereka rasakan begitu menjelma dalam kalbu mereka masing- masing. Walaupun raga mereka terpisah jauh, namun, jiwa mereka tetap satu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Aku ingin kau menjadi saksi pada akad nikahku nanti, Teman!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Akad nikahmu? Subhanallah, selamat, ya, Kawan “,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Jadi bagaimana, apakah Kau setuju?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Pertanyaanmu terlalu retoris, Absolutely,.”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; ” Sebelum itu, aku ingin bertanya padamu, Siapa wanita beruntung yang akan kau sunting?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Seorang bidadari yang kukenal dalam forum dakwah setahun lalu. Aku memberanikan diri untuk melamarnya, dan Ayahnya menyetujuinya. Dan kini, pernikahanku tinggal beberapa hari lagi, Kawan!”,Irfan terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Selamat, Kawanku!”, Hanya itu yang dapat Rico ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dirinya kembali teringat pada Shafira. Adakah dia tahu jika dirinya amat mencintai eksistensinya sebagai seorang wanita? Adakah Shafira mencari tahu keberadaannya layaknya Rico mencarinya seperti seorang pesakitan yang kehilangan penawar racunnya. Misteri.&lt;br /&gt; Ibunya terus menanyakan hasil pencariannya akan Shafira. Tetapi, dirinya seolah kehilangan jejak sama sekali. Seolah menghilang ditelan bumi, Rico tak dapat menemukan sosok Shafira di Anyer sana. Entahlah. Ibunya terus- menerus berkata behwa Fayyza adalah seseorang yang benar- benar pantas untuk dirinya. Meskipun ia tahu, bahwa anak yang amat dikasihinya amat menyayangi Shafira. Rasa cinta bisa digali. Dan ibunya terus berharap jika Rico bisa belajar mencintao Fayyza. Entah kapan waktu itu tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh belas Desember dua ribu enam. Hari pernikahan Irfan, dengan seseorang yang Rico tak pernah tahu, karena Irfan terus merahasiakannya, untuk membuatnya penasaran. Maklum, sahabat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Kau ingin menikah, atau ingin main- main, Fan? Masa kau tak mau memberitahuku juga tentang siapa yang akan kau nikahi?”, Rico memaksa kali ini.&lt;br /&gt; “ Ok, kuberi tahu. Dia Manda, seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta.”, &lt;br /&gt; “ Manda?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Itu panggilanku padanya. Ukhti Manda.”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Siapapun itu, asal kau bahagia, Fan!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Yah, Allah Mahabesar, Kawan!”, &lt;br /&gt; Nampaknya Irfan sudah merencanakan segalanya, hingga seluruh keluarganyapun tak ada yang mau memberitahu Irfan akan menikah dengan siapa. Manda, hanya itu yang dia tahu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Akad nikah seorang sahabat lama akhirnya tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semuanya terjadi begitu saja. Irfan sahabatnya. Sahabatnya ketika mereka menempuh pendidikan strata satu di Universitas Indonesia beberapa tahun lalu. Mereka seperti Mario dan Luigi. Seperti Asterix dan Obelix. Seperti Doraemon dan Nobita. Seperti Thalhah Ubaidilah dan Zubair bin Awwam. Tak bisa dipisahkan. Hingga tiba- tiba merekadipertemukan kembali dalam suasana yang begitu agung. Pernikahan seorang sahabat. Kebahagiaan yang akan dirasakan oleh seorang sahabat, pada hakikatnya adalah kebahagiaan sahabatnya pula. Ketika Irfan terluka, Rico mengobatinya. Ketika Rico menangis, Irfan selalu menyokongnya dari belakang. Ketika mentari tiba di ufuk barat, mereka berdua berlomba untuk menggapainya. Ketika bulan membagikan sinar redupnya  setiap malam, mereka berdua berusaha merajut keindahannya yang tiada tara. Rico si pemikir. Irfan si pencair. Seperti asam dan basa yang selalu berubah menjadi suasana netral ketika mereka berdua ada. Ukhuwah islamiyah. Eksistensi kekuatan persahabatan. Friendship power. Cinta Illahi. Dimana Illahi mencintai hamba- hamba- Nya ketika sesame muslim mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Seperti Rico Faturrahman dan Irfan Maulana yang terikat dalam satu jiwa. Rasa. Dimana satu sama lain rela memberikan apapun yang mereka punya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Saya terima nikah Shafira Alamanda binti Ahmad Anwar Sanusi dengan mas kawin tersebut, tunai! “, Irfan mengucapkan kalimat sakti tersebut dengan lancar tanpa berulang. Gambaran sebuah keyakinan yang mantap dari diri seorang Irfan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Selamat, Fan..!”, Rico memeluknya erat. Lebih erat dari sebelumnya. Sebuah keikhlasan yang teramat besar dari seorang sahabat kepada sahabatnya. Meskipun beberapa tetes air mata yang meleleh di pipi Rico tak dapat disembunyikan dari pandangan Irfan. Meski rapuh, sejatinya tidak. Rico hanya rapuh secara harfiah. Bukan secara maknawiah. Hati kecilnya berkata bahwa inilah makna dari cinta sejati sebenarnya. Cinta Illahi. Begitu besarnya makna dari sebuah keikhlasan. Terukir di hati seorang Rico Faturrahman. Dia menyadari, rasa cintanya begitu besar terhadap Shafira. Tetapi, persahabatan dan keikhlasan jauh lebih besar maknanya dibandingkan dengan harus memaksakan diri untuk memiliki Shafira. Rico mencintai Shafira. Irfan pun mengalami hal yang sama. Dan mungkin, perasaan yang telah dirasakan Irfan jauh lebih berkarat dari pada rasa cinta yang dialaminya. Irfan telah mengenal Shafira jauh sebelum Rico mengenalnya. Shafira pun terkejut ketika Rico menjadi saksi penikahannya. Jauh dari estimasi seorang manusia. Tetapi sekali lagi, inilah kebetulan yang dimaksudkan. Kekuasaan Allah yang absolut dipegang oleh- Nya dan tak terjamah oleh otak manusia. Shafira mencintai Irfan, dan Irfan pun mencintainya. Dan Rico? Dirinya tetap yakin jika cinta Illahi tetap abadi datang kepada setiap Hamba. Termasuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Loh, Rico, mengapa Engkau menangis disaat aku bahagia, Kawan?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Sesungguhnya aku menangis karena bahagia, Kawan!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Aku mencium ketidakjujuran dimatamu, Kawan!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Hanya Allah yang tahu hakikat kejujuran!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Baiklah, Rico, sahabatku, do’akanlah kami agar selalu bahagia, dan kudo’akan kau pula agar kau segera mendapatkan cinta yang kau cari selama ini!”, Ungkap Irfan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Kudo’akan Engkau selalu, Sahabatku!”, Rico memeluknya erat sekali lagi. Dengan matanya yang basah. Ia segera berpamitan pada keluarganya. Tanpa berpamitan pada Shafira terlebih dahulu. Rico tak bisa lagi mencerna, apa sebenarnya yang sedang terjadi pada dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh November lalu. Bayangan itu melintas lagi di dalam benaknya. Seorang wanita berjilbab lebar itu. Suaranya yang lirih melantunkan Al- Ma’tsurat sore itu? Matanya yang indah itu? Kata- katanya yang sanggup memecah kebuntuan hatiku? Serta bayangan semu dirinya yang selalu menghantui pencarian cinta sejatiku. Andaikan mereka berdua tahu semua itu.&lt;br /&gt; Rico tidak bisa menghadiri resepsi pernikahan sahabatnya setelah itu. Ia memacu BMW hitam metaliknya ke arah Anyer. Pantai sejuta pesona. Di tempat yang sama. Waktu yang sama. Dengan orang yang berbeda. Kali ini dengan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Bu, terima kasih karena Ibu selalu memberikan kasih dan sayang ibu yang begitu tulus untuk Rico.”,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “ Allah- lah yang memberikan ibu kekuatan untuk selalu mencintaimu,”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Di tempat inilah Rico selalu mendapat pelajaran hidup yang amat berharga,”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Pelajaran yang berharga sebenarnya Kau dapat setipa hari, Nak,..tanpa Kau sadari!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Ya, dan sekarang Rico tahu, bahwa, kita selalu satu. Terima kasih, Ibu. Sekarang, Rico telah mendapatkan jawaban dari do’a- do’a Rico selama ini. Sholat dan Ikhtiar Rico. Pencarian akan cinta sejati. Cinta Illahi. Besarnya kekuatan cinta yang menghasilkan sebuah keikhlasan.”,&lt;br /&gt; “ Maksudmu, Nak?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Izinkan aku memelukmu, Ibu!, aku sangat mencintaimu. Sepenuh hatiku. Ridhoilah aku di setiap langkahku, Ibu!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rico memeluk ibunya dengan erat. Lebih erat dari biasanya. Air matanya membasahi pashmina ibunya. Begitu pula ibunya. Binarnya menelaga, bibirnya selalu mengucap zikir tiada terputus. Mereka berdua terikat sebuah rasa. Cinta. Cinta Illahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Bu, berapa nomor ponsel Fayyza yang baru?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Ada apa, Nak, tak biasanya kau menanyakan dirinya!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku…ingin belajar mencintainya, berilah aku restu untuk meminangnya, Ibu..”, Dengan mantap Rico membuat sebuah keputusan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ibunya tersenyum simpul. Senyuman diiringi air mata dan do’a. juga cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin sekali rasanya aku berkata, aku ini punya rasa,&lt;br /&gt;Ingin sekali aku berkata, aku ingin dicintai,&lt;br /&gt;Ingin sekali aku merasa, aku bisa mencintai,&lt;br /&gt;Ingin sekali aku berdusta, aku tak mencintai dia,&lt;br /&gt;Namun aku tak bisa berdusta, bahwa aku mencintai dirinya,&lt;br /&gt;Aku mencintai dirinya karena Allah Ta’ala……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua Januari dua ribu tujuh. Lelaki muda tadi masih setia duduk di atap rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok tanggal tiga Januari. Aku masih setiap disini. Menatap kemilau bintang bertaburan yang menghias gelapnya malam. Aku masih melintang, mengharap keabadian cinta Illahi. Aku masih hidup. Aku belum mati. Aku tak pernah berhenti menyanjungkan do’aku kepada orang- orang yang pernah singgah di hatiku. Kini aku tahu, ukhuwah islamiyah dan hakikat sebuah keikhlasan adalah abstraksi dari sebuah penghayatan cinta Illahi. Belajar mencintai itu mudah. Tetapi, berharap untuk dicintai lebih sulit. Tetapi, tak ada kata sulit untuk mendapatkan cinta Illahi. Seluruh kejadian penciptaan manusia hingga kontraksi di dalamnya terbentuk karena kekuatan cinta. Termasuk kebetulan dan ketidaksengajaan. Ya, itulah interpretasi cinta menurutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Rico, sudah malam, Nak, besok pagi kamu harus fit, lho!”, Ibu memanggilku lembut.&lt;br /&gt;“ Ya, Bu, sebentar lagi Rico turun. Sudah tidak sabar punya menantu, ya?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya nih, akhirnya Fayyza jadi menantu Ibu, Subhanallah, ya, Nak!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ssst, Bu, hanya Allah yang tahu…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintamu, cintaku. Cinta Illahi. Tetaplah jadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandeglang, 19 Desember 2007&lt;br /&gt;Urfi Syifa Urohmah&lt;br /&gt;( Special Dedicated for My beloved Mom, My Friends, and Someone )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-7572289248174713521?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/7572289248174713521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=7572289248174713521' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7572289248174713521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/7572289248174713521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/shiva-dalam-jalinan-kata.html' title='Shiva dalam jalinan kata..'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-8858890292747375861</id><published>2007-10-25T15:01:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T15:02:48.584+07:00</updated><title type='text'>Artikel- Bersambung</title><content type='html'>Mengulang Masa Keemasan Indonesia : Bukanlah Sebuah Dosa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Indonesia. Banyak orang yang mengaku bahwa Indonesia adalah tanah air mereka. Tanah airku. Tanah air kita semua. Untaian zamrud di khatulistiwa yang elok serta kaya akan khazanah budaya dan peradaban manusia di dalamnya. Negeri subur, gemah ripah loh jinawi. Negeri tempat bersandingnya dua dunia yang merajai semesta : Laut dan Daratan!. Indonesia punya itu semua. Persandingan dua dunia membuat sebuah paradigma tersendiri bagi setiap insan manusia. Ada yang menganggap Indonesia sebagai sebuah tataran kehidupan luhur sebuah peradaban tinggi yang menorehkan sejarah, bergemuruh luka, cinta, darah dan air mata. Ataukah, Indonesia hanya berupa sebuah tanah yang berisi bermacam- macam sumber kehidupan yang dapat dijadikan sebagai sapi perahan bagi para imprealis sana?&lt;br /&gt;Indonesia pusaka memiliki jati diri. Jati diri sebagai sebuah bangsa. Jati diri sebagai sebuah negara yang dapat melenggang dan berlayar mengarungi segala pergolakan dahsyat di muka bumi. Sebuah kesatuan majemuk  yang bercirikan eratnya persatuan dan kesatuan dan harmonisasi manusia- manusia yang berjalan di dalamnya. Yang tak pernah tercakup di dalamnya rasa saling memusuhi, kelaparan, kemiskinan, kenistaan, dan ketidakadilan dalam berbagai aspek kehidupan. Tapi tunggu dulu, Bung! Indonesia mana yang sedang Anda bicarakan?&lt;br /&gt;Berbicara mengenai Indonesia, adalah sebuah kewajaran jika kita sedikit boleh “ bangga “, ketika kita menoleh ke belakang, sedikit berapriori positif tentang kedahsyatan nusantara beberapa abad yang lalu. Sebagai salah satu manusia yang lahir dan sibesarkan di sebuah miliu di kawasan Indonesia, tentunya, sebuah paradigma yang tidak terlalu berlebihan jika seorang anak bangsa merasa bahagia ketika ibu pertiwinya disebut sebagai salah satu negeri  gemah ripah loh jinawi. Tetapi, apakah arti kebanggaan itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu Kelanjutannya.............................&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-8858890292747375861?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/8858890292747375861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=8858890292747375861' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8858890292747375861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8858890292747375861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/artikel-bersambung.html' title='Artikel- Bersambung'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-961043749265193587</id><published>2007-10-25T14:48:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T14:53:32.689+07:00</updated><title type='text'>DramaQueen. Hm, too Awkward,,</title><content type='html'>Assalamu’alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;The Powerfull Women From The Second Grade Proudly Present…… &lt;br /&gt; The Holy Mission’s Abusement&lt;br /&gt;Starring  &lt;br /&gt;The Pope   : Tian Istiyana&lt;br /&gt;Sister Milano   : Vivi Vianita&lt;br /&gt;Sister Diana   : Rd. Siti Hajar&lt;br /&gt;Sister Rivera   : Yusi Adistya&lt;br /&gt;Vatican’s Prelate  : Urfi Syifa&lt;br /&gt;The Christian’s Clergyman: Ainun Najah, Iis Sri Hartati&lt;br /&gt;The Moslem’s Lecturer : &lt;br /&gt;• Aras Nur Barich&lt;br /&gt;• Nadiyya Amaliya&lt;br /&gt;• Yayang Siti Rochmah&lt;br /&gt;The Tsunami Disaster’s Victims:&lt;br /&gt;• Novi Eryani&lt;br /&gt;• Siti Latifah&lt;br /&gt;• Anna Sarah&lt;br /&gt;• Wita Anjenia&lt;br /&gt;• Heni Indriani&lt;br /&gt;• Rasih&lt;br /&gt;Collegian   : &lt;br /&gt;• Nanda Fauziyana ( U. S. A )&lt;br /&gt;• Lilis Chodijah ( Mecca )&lt;br /&gt;• Nifa Hanifa ( Egypt )&lt;br /&gt;Major of Meulaboh  : Rt. Maya Nurmayanti&lt;br /&gt;Narrator   : Peny Listiani Pohan&lt;br /&gt;Operating Programmer : Yollanda Octavitri&lt;br /&gt;Script By   : Urfi Syifa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Holy Mission’s Abusement&lt;br /&gt;December 26th , 2004&lt;br /&gt; A glorious scenery made a deep sense of Indonesian’s people. Especially for the Nanggroe Aceh Darussalam’s personality. Even, they supposed these reality as something signs of the day after. The darkness of life gather absolutely inside on Aceh’s deeply heart. The tsunami disaster had damaged my beloved aceh. People ask these matters again and again. They never wanted to accepted those things as the usual happening which become their  life cycles. The part of their life. They still keep they traumatic and they would not forget it at all. Several people ask to their own selves. Is this the remainder from The God? Or, more than those sufficient thing? Or, even, worse than those matters? The mystery still gather around them. The deep blue sky also, cannot give any answers so far. Neither I do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latifah  : Mom, Dad, where are you all? I really feel scare for being alone here,&lt;br /&gt;Latifah  : Mom, Mom, ( Latifah sees that her beloved mother, Anna , had passed away, and she   Felt the tremendous shocked when she sees her mother. )&lt;br /&gt;Latifah : Mom…………………..No……….God…………..! ( Hysteria )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meanwhile, in another place of Aceh, at the same time..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novi  : Where is my daughter?&lt;br /&gt;Heni  : Mom, I’m here,..&lt;br /&gt;Novi  : Heni, are you getting ok?&lt;br /&gt;Heni  : Allahu Akbar! The God still blesses me so far, He still keep my own self  to be safe here,&lt;br /&gt;Novi  : ( Crying beside her, with an unidentified expression )&lt;br /&gt;   Heni, I expect that you’ll be strong to hear this news.&lt;br /&gt;Heni  : Say it punctually now,&lt;br /&gt;Novi  : Your father,..&lt;br /&gt;Heni  : My Father? What’s going on with him?&lt;br /&gt;Novi  : He lost. &lt;br /&gt;Heni  : Say it honesty, Mom. &lt;br /&gt;Novi  : What must I do to make you believe in me? ( Crying )&lt;br /&gt;Heni  : ( Crying ) Your tears. They had made me believe in you. My Father…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Day by day. Running away, like a dust in a duster. The eternality only belong to God. Whoever couldn’t deny that statement. Even the King. Or even majesty. Will they getting their happiness anymore? Who knows the answer? Only Him who knows. Absolute and perfectly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;January 18th, 2005.&lt;br /&gt;St. Peter Basilica, Vatican.&lt;br /&gt;The Pope : My Prelate, Alexandrine Marschek! &lt;br /&gt;Prelate  : Yes, my majesty!&lt;br /&gt;The Pope : Would you like to do the sacred things so far?&lt;br /&gt;Prelate  : A honor and the glorious thing for me!&lt;br /&gt;The Pope : Walk on the God’s way!&lt;br /&gt;Prelate  : I just deliver my life existence for my sacrifice to God! To be done, the whole of His obligation!&lt;br /&gt;The Pope : Prove it! Prove your holy sacrifice to God!&lt;br /&gt;Prelate  : Would you like to explain about your mean?&lt;br /&gt;The Pope : Do the Johannes : 11 in Aceh!&lt;br /&gt;Prelate  : Well, I’ve got it. I promise to you, I never be back here before I done my holy mission.     Trust me. I need your sincerely blessing.&lt;br /&gt;The Pope : In the name of God, The Passion of The Christ, and The Sacred Mother! Amen. &lt;br /&gt;Prelate  : Amen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; And after that, the Prelate were going to the Saint- Sulpice Church in France. She going to meet The first Christian’s Clergyman in France, Immanuel Fache.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prelate  : Bonjour!&lt;br /&gt;Immanuel : Bonjour! Excusa Moi?&lt;br /&gt;Prelate  : Oui. Moi Alexandrine Marschek. The Prelate of Vatican.  Comment alle vous?&lt;br /&gt;Immanuel : Mercy Beaucoup. Moi Immanuel Fache. Parisianne. &lt;br /&gt;Prelate  : Well, Monsiour Immanuel, have you heard the order from the Pope?&lt;br /&gt;Immanuel : Oui, Madmoiselle Marschek.&lt;br /&gt;Prelate  : So?&lt;br /&gt;Immanuel : I’ve prepared all of the necessary thing for our holy mission.&lt;br /&gt;Prelate  : All right. The show must go on! Well, Indonesia. We will come to you, Honey! ( Laugh )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; So many people who come and join to Nanggroe Aceh Darussalam and becoming the volunteer there, of course, for giving them the aid and everything which they need. A sacred “ different mission “ which hided inside of the human personality who comes and go, and rapidly becoming the holy secret. Whenever will be shown.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aras  : My beloved pupil, save our people soul sooner, ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayang  : Well, my teacher, unfortunately, we have nothing here. Even a little bit money, we   have given everything which belong to us to them. And now, it’s going lost like a hurricane when it blows the dust.&lt;br /&gt;Nadiyya : Ustadzah, Mereka kelaparan…Mereke butuh sesuap nasi….( Arabic)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aras  :  Give them everything those we have! ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadiyya : But we have done that matter! ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayang  : So, what must we do so far?&lt;br /&gt;Aras  : Kemarilah, anak- anakku. Sesungguhnya, membangun mental dan spiritual mereka   adalah jihad.  ( Sure expression ) ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; After several days, the whole of Christian’s missionaries come to Indonesia. They gather in a hotel in Medan, which becomes the one and only the hotel which can be operated in Medan, Polonia Hotel, because of this Tsunami tragedy. They meet in a room to make any strategies of their missions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Sing The “ Christian Anthem “ , lead by Sister Rivera)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ainun  : Well, have you known well about our job desk in our mission in Aceh?&lt;br /&gt;Sister Milano : Absolutely, my Honor!&lt;br /&gt;Sister Diana : We have done the whole of our preparation. What are we waiting for?&lt;br /&gt;Ainun : Be Patient, please, my Sister. We still waiting for the recommendation from  Vatican,&lt;br /&gt;Sister Rivera : How long?&lt;br /&gt;Ainun : Simple. And a short time. Even, when you open your eyes , and look anything behind you, you will get the answer sooner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Suddenly, The prelate and Immanuel Fache come inside )&lt;br /&gt;Prelate : Shalom! May God Bless You All!&lt;br /&gt;Immanuel : Well, Ms. Alexandrine Marschek, can we start now?&lt;br /&gt;Prelate : Yeah, what are we waiting for? ( Explain the mission )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meanwhile, at the same time, in Aceh.&lt;br /&gt;Heni : When we will have any foods?&lt;br /&gt;Latifah : I need the clothes. And, I cannot deny to my self, that I feel extremely hungry right now!&lt;br /&gt;Novi : Be patient, please. After several times more,&lt;br /&gt;Latifah : But when?&lt;br /&gt; Suddenly, the whole of missionaries come there. Give them everything those becoming the necessary thing for them selves. They give the victims any kind of materials. Beginning from the food, clothes, money, drugs, and the passionate of love. The spirit of live.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prelate : We will give you everything those you need. Just say these matters. Without thinking or feeling doubt exactly!&lt;br /&gt;Novi : Well, we could not say anything for these all. We were stopping our troubles here. Our darkness, our failure. &lt;br /&gt;Wita : You have given us the new life. And probably, you’ve enrich our spirit and soul!&lt;br /&gt;Sister Diana : May God Bless You All!&lt;br /&gt;Sister Rivera : Don’t you think that you still have the lackness here? &lt;br /&gt;Sister Latifah : Pardon Me?&lt;br /&gt;Sister Milano : Yeah. Lackness. Even this is the tremendous thing.&lt;br /&gt;Prelate : Don’t say it with full of vulgarity, my sister! Probably you could make it simple!&lt;br /&gt;Ainun : Hey, look at yourself. Something wrong with your own selves. &lt;br /&gt;Wita : Our own selves?&lt;br /&gt;Novi : We cannot take your point!&lt;br /&gt;Immanuel : Ok. I would like to make it easier. Hey, we were the human kind. And the God existence is the necessary thing in our life.&lt;br /&gt;Prelate : What kind of matter which your God had given to you? Only the worst and the sadness which always gather with you all. Don’t you think that your God, has no any roles in your life cycles?&lt;br /&gt;Heni : Excuse me?&lt;br /&gt;Prelate : Have you ever think that your God, has no any powers to recover your life?&lt;br /&gt;Heni : In my view, it’s not proper to be said in front of us! What a Heartless jerk statement those all!&lt;br /&gt;Sister Rivera : But we mean that…( Cutted )&lt;br /&gt;Rasih : What do tou mean?&lt;br /&gt;Sister Milano : We just want to deliver to you all about the reality.&lt;br /&gt;Latifah : A non- sense reality!&lt;br /&gt;Novi : Siti, stop it! Let them finish their statement!&lt;br /&gt;Prelate  : Ok. Those all the sufficient things. We never argued that we have the onest one True statement.l but, we just would like to bring you all, to the evidence. The proof.&lt;br /&gt;Wita : What do you want to prove?&lt;br /&gt;Ainun : Incridible thing. The sacred thing.&lt;br /&gt;Sister Diana : The passion of the Christ.&lt;br /&gt;Sister Rivera : The Miracle of Christ.&lt;br /&gt;Sister Milano : And His Majesty.&lt;br /&gt;Novi : Those things are only the abstract things. &lt;br /&gt;Latifah : And you cannot prove anything which do you want to prove!&lt;br /&gt;Wita : Yeah, Exactly.&lt;br /&gt;Prelate : Well, that’s your statement. Can you see this? ( Give the money, food, etc..) we can give you everything, and it coming from the Christ.&lt;br /&gt;Novi : So, it means….&lt;br /&gt;Heni : What do you mean?&lt;br /&gt;Sister Diana : The truth&lt;br /&gt;Sister Rivera : The power of God&lt;br /&gt;Sister Milano : Surely you believe us, Don’t you?&lt;br /&gt;Novi : Mm, &lt;br /&gt;Latifah : No, Mom,!&lt;br /&gt;Novi : How can I say No for this,&lt;br /&gt;Latifah&amp;H : No..&lt;br /&gt;And Novi has Baptism by them!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; The Collegian from U.S.A, Egypt, and Mecca, were coming to Meulaboh. They were shocked when they see that their family approached by Vatican’s  Missioners.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanda : I couldn’t  believe whatever I see in front of my naked eyes!&lt;br /&gt;Nifa : Ini tidak bisa dibiarkan ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lilis : Kita harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan akidah mereka ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanda : Probably we should do something. Let’s go to the majority of Meulaboh!&lt;br /&gt;Nifa : Ayo ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; The collegians which study abroad and stay over their education term there, never accepted if they beloved area, should be  taken by the Vatican’s  paradigm. And they would do something to clarify this situation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Meulaboh’s Tsunami victim’s camp area.&lt;br /&gt; The collegians come to the Major of Meulaboh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanda : We cannot stay alive here calmly meanwhile our village had attacked by the Missionaries &lt;br /&gt;Nifa : Ya, ini adalah sebuah kenyataan ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lilis : Kegiatan yang harus segera kita kikis habis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Major : All right. We really said a thousand of thanksgiving to you all, because..&lt;br /&gt;Nanda` : Because why?&lt;br /&gt;Major : Without your warning all, perhaps, we never awaked and realized such now.&lt;br /&gt;Nanda : Uh, how come? So, you just keep silence here meanwhile the people were attacking?&lt;br /&gt;Major : Unfortunately, yes! ( Stare at the wall )&lt;br /&gt;Nanda : It’s not a necessary thing to be thought. Now, our duty is…&lt;br /&gt;Nifa : Menyadarkan mereka! ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lilis : Mengembalikan akidah mereka ( tau kan? ) Arabic, gituh ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanda : And throw out the whole of the abusement of their holy mission!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; They are going to the Moslem’s Lecturer house, to make the agreement and cooperation among them, to protect their Aceh, their beautiful paradise, and stopped the abusement of the Christian’s mission!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aras : Sebelum kita memulai diplomasi kita dengan mereka, marilah kita berdoa kepada Sang Maha Pencipta ( Arabic…trus mereka nunduk buat do’a, gituh, )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanda : Yes, we ready to go and start our mission today!&lt;br /&gt;( Allahu Akbar! )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; They are going to the Meulaboh victim’s camp, and they ready to fight with the Missionaries. In that place, the Missioners still take actions to the Tsunami victims. They never given up before they get their goal. They never said surrender for their “ Holy Mission “. And nowadays, they will get what is the truth of war. Despite they never scared or fear for everything which would be happened in Aceh, but now, probably they would face it sooner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prelate : In the name of God in His eternal paradise, Mother Mary and  Jesus, …&lt;br /&gt;Nanda : Stop! You never done your mission here! We never gotten silence to see these situations all!&lt;br /&gt;Aras : Ini bukan tempat kalian seharusnya berada! ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lilis : Bagaimana bisa, sebuah penyalahgunaan misi suci terus- menerus dibiarkan? ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayang : Did you think that we cannot fight you?&lt;br /&gt;Prelate : Fight us?&lt;br /&gt;Sister Milano : The abusement?&lt;br /&gt;Nifa : Ya, penyalahgunaan misi. ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanda : Or maybe, did you think that we are the weak community?&lt;br /&gt;Major : We really felt disappointed, meanwhile, you help them to recover their own selves, but why, in another side, you force them to move to another religion?&lt;br /&gt;Ainun : Excuse me?&lt;br /&gt;Sister Diana : We never forced them at all!&lt;br /&gt;Prelate : They believe us, and they follow us with full of awareness!&lt;br /&gt;Nanda : Don’t be lie, it’s so easy to us to see the evidence.&lt;br /&gt;Prelate : Evidence? Haha, evidence? Evidence that your God, never given you all anything?&lt;br /&gt;Sister Rivera : Is it your meaning?&lt;br /&gt;Aras : Sama sekali bukan, saudaraku! ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanda : The truth and the real evidence, that you have abuse the norm of the human right of people!&lt;br /&gt;Prelate : Human right? Abusement? Hahaha, what a sucker thing it is! ( Laugh )&lt;br /&gt;Yayang : It’s not the proper time to be laughing at all!&lt;br /&gt;Sister Diana : We could not take your point!&lt;br /&gt;Major : We will battle you all, if you still do this abusement! We never allowed you to help them, if you still do your mission here, in this unsuitable place!&lt;br /&gt;Prelate : Oh, all right. I’ve taken your point. But, we just want to ask you something,&lt;br /&gt;Nanda : What is it?&lt;br /&gt;Prelate : Can you recover this situation without us?&lt;br /&gt;Immanuel : Yeah, a genius question!&lt;br /&gt;Aras :  Allah selalu bersama kita! ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lilis : Cahaya- Nya tak akan pernah pudar! ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadiyya : Dan Dia selalu memberi kami kekuatan! ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Major : And Aceh governmental system still own the existence  here!&lt;br /&gt;Nanda : What are you waiting for?&lt;br /&gt;Aras : Kembalilah ke tempatmu disana! ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prelate : Mm,.. ( Thinking of something )&lt;br /&gt;Yayang : What do you think about?&lt;br /&gt;Major : Well, Ms. Alexandrine,&lt;br /&gt;Prelate : Mr. Major, why you deny our last agreement?&lt;br /&gt;Nanda : An agreement?&lt;br /&gt;Prelate : Yeah, an agreement, he didn’t share anything to you so far?&lt;br /&gt;Major : Yes. I do. But unfortunately, the characteristic of Aceh’s personality, culture and religion, cannot be paid by your money! ( Angry )&lt;br /&gt;Aras : Dan kami yakin akan hal itu! ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prelate : Ok. My honorable Major. And you all. We would going exit from this “ Unsuitable place “, but remember, we never said “ Surrender “  or being a loser here, and we would see your development here, without any aids from us, ( High and mighty expression )&lt;br /&gt;Nanda  : Those all becoming more than the adequate statement to say “ Good Bye “&lt;br /&gt;Aras : Satu hal yang perlu kami tekankan pada kalian, kami tak bermaksud menimbulkan perpecahan dalam persaudaraan antar manusia, ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prelate : Uh, the unity of human being?&lt;br /&gt;Nadiyya : Ya, indahnya sebuah persatuan ( Arabic )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanda : Without any freaks or obstacles inside,&lt;br /&gt;Yayang : Insya Allah,&lt;br /&gt;Aras : ( She reads an ayat of The Holy Koran, QS. Ali Imran : 103 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novi : Astaghfirullahal’adziim.. ( Crying )&lt;br /&gt;All : Alhamdulillahirobbil’alamin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Eventually the whole of missionaries are going out from Meulaboh. But, one thing that they keep is : They never getting stopped to reach their goal. And they should fly sooner to the St. Peter Basilica, Vatican. Depend on their statement, that they never said “ Surrender “, despite whatever happened and thwart them, forever. Until the end of time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ainun : Ms. Alexandrine Marschek?&lt;br /&gt;Prelate : Yeah. Let us going out from this place punctually,&lt;br /&gt;Immanuel : Vatican?&lt;br /&gt;Prelate : Absolutely. Right now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Basilica St. Peter, Vatican. &lt;br /&gt;Two days after the whole of missionaries in Aceh gone away from there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prelate : I’m Sorry, ( Cry )&lt;br /&gt;The Pope : Are You sure with your statement?&lt;br /&gt;Prelate : Yes, I never felt doubt in my mind,&lt;br /&gt;The Pope : Well, what should you do to pay your failure there?&lt;br /&gt;Prelate : My life. I never gotten exhausted to walk in the God’s way. Trust me, please.&lt;br /&gt;The Pope : In The name of God, The Sacred Mother Mary, And Jesus Christ, we accepted your sacrifice, Amen.&lt;br /&gt;Prelate : Amen.&lt;br /&gt; Ladies and gentleman, remember. However, they never gotten stopped to preach their mission to create the absolute community of Christ. They never given up to reach their goal. In the name of Bible, until the end of time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La Conversation Sur de Telephone ( The Conversation Under the Telephone Line )&lt;br /&gt;Immanuel : Bonsoir!&lt;br /&gt;Prelate : Bonsoir! Comment alle vous?&lt;br /&gt;Immanuel : Oui, tres bien. Madmoiselle Alexandrine Marschek?&lt;br /&gt;Prelate : Bingo!&lt;br /&gt;Immanuel : Next Mission?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prelate : A-h-a! Indonesia. Have you heard about earthquake in Jogjakarta?&lt;br /&gt;Immanuel : Oui. Deux minute. After several minutes ago. So..?&lt;br /&gt;Prelate : Yeah! ( Laughing )&lt;br /&gt;Immanuel : ( Laughing )&lt;br /&gt;Prelate : Indonesia, We’ll be coming,… ( laughing )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The End.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; I’m sorry, we couldn’t give you the happy ending story. The bad ending is an evidence. Who will gives the happy ending story? Only God Who Knows. &lt;br /&gt;Assalamu’alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( They Make a diorama of a Mission... War..Robot...Random..etc..)&lt;br /&gt;( They Make a Line, and Give the Honorable to the Spectators )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Wanna if i You Know,&lt;br /&gt;That We Are From Second Grade,&lt;br /&gt;Can You see Us, then You See Us,&lt;br /&gt;Then You know You have to do,&lt;br /&gt;Second Grade Yo..! ( Shake...Shake...Shake..)&lt;br /&gt;Second Grade Yo..! ( Shake...Shake...Shake..)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-961043749265193587?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/961043749265193587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=961043749265193587' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/961043749265193587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/961043749265193587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/dramaqueen-hm-too-awkward.html' title='DramaQueen. Hm, too Awkward,,'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-1824131350359899535</id><published>2007-10-25T14:44:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T14:47:01.234+07:00</updated><title type='text'>Resensi Buku</title><content type='html'>The Fascinating Book Ever Made :&lt;br /&gt; Laskar Pelangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu alangkah malu aku dibuatnya. Siapa yang membuatku malu? Untungnya ia bukan manusia lain sama sekali. Ia berbentuk lembaran- lembaran pencerahan setebal 530 halaman yang menggemaskan. Hmm, lidah ini kelu dibuatnya. Hati ini meradang dubuatnya. Fenomena “ Laskar Pelangi “membuatku terpesona bukan kepalang. Bukan karena cap “ Best Seller “ yang terpampang di kulit luar buku seksi ini, tetapi karena keindahan metamorfosis bahasa Andrea Hirata dalam menjalin benang- benang kisah syahdu di  Melayu Belitong ini. Benar- benar menyiratkan sebuah makna yang “gemuk” akan hikmah dalam membina kehidupan yang semakin berekselensi hari demi harinya.&lt;br /&gt; Aku tertegun dan berdegup jantungku dengan dahsyatnya, seakan isinya meminta untuk berjalan- jalan keluar sana, meninggalkan tubuhku yang kian terkoyak ini. Sungguh dahsyat kekuatan kertas kaya hikmah ini. Kadang aku merasa terbuai, terpana, terkagum, bahkan terisak ketika bulir- bulir plot ceritanya mengalir lembar- demi lembar. Kekuatan novel ini sungguh spektakuler, Superb, dan fantastik! Sebuah rangkaian kasih dan gema haru pendidikan yang diuntai seindah kalung topaz bertahtakan berlian.&lt;br /&gt; Aku mendengar betapa Andrea dengan lugas meghimpun kekuatan untuk berani berbicara tentang kenyataan. Berani hidup. Berani berbicara sesuai dengan kenyataan hidup. Andrea kadang menyentilku dengan permainan kata yang langsung menyentuh relung batin  terdalamku, Dengan menyunggingkn langsung kata-kata sakti mandraguna tentang kejujuran, makna dari kekuatan cinta putih , dan betapa Takdir Tuhan- lah yang mampu menyetir kelangsungan hidup seseorang, bukan semata-mata dari kesombongan manusia yang telah berlaga memakai akal sehatnya dalam berbuat dan berlaku di masyarakat. Ini tentang kejujuran hati. Ini bukanlah sebuah karya. Ini adalah sebuah mahakarya anak negeri yang patut untuk dipuji.&lt;br /&gt; Aku bukanlah manusia yang suka memuji dan dipuji. Namun, kuberikan kedua jempolku ini untuk memberikan sebuah penghargaan dari nilai rasa yang tertuang sepenuhnya dalam “Laskar Pelangi “. Aku merasa tertampar keras ketika kutengok Lintang, seorang pelajar dari kawasan kumuh Belitong pedalaman yang tak pernah sekalipun lari dari kewajiban dan tanggung jawab moral sebagai pelajar. Ia tak pernah sekalipun menyerah pada kenyataan yang terlalu pahit diemban bagi anak sekecil usianya yang masih terlalalu dini untuk menapaki kesulitan hidup dan kejamnya perhelatan zaman yang harus ia lalui. Lintang jenius terus berpacu dalam melodi waktu. Lintang pelajar luar biasa tetap melaju dalam percepatan aliran ilmu yang kian menjadi. Lintang tak pernah berhenti berputar pada revolusi pemikiran-pemikiran para ilmuwan kondang yang konon, ia pun bermimpi untuk menjadi salah satu dari raksasa ilmu tersebut. Lintang yang kecil tak pernah malu untuk bermimpi besar. Karena segalanya bermula dari kejantanan dalam merangkai mimpi yang berani. Berani memutarbalikkan fakta dalam melibas segala keputusasaan sang pemimpi. Itulah mereka. Laskar Pelangi.&lt;br /&gt; Ada kalanya aku tak kuasa menahan haru ketika pilar-pilar sekolah kampung yang teramat miskin “ Muhammadiyah ” berlaga dalam kancah adu prestasi yang bergengsi. Ada kalanya aku menitikkan air mata kebanggan ketika Mahar menyusun sebuah konsep karnaval yang amat brilian hingga mengangkat derajat sekolahnya yang tak pernah dewan juri perhitungkan sebelumnya. Betapa perjuangan dan keikhlasan membuahkan hasil yang amat manis. Rindang bak pohon filicium yang menjadi markas besar Laskar Pelangi. Ada kalanya aku merinding melihat kepatuhan anak terhadap orangtua. Lihatlah cara mereka menghormati ibunda dan ayahanda guru mereka. Tak setitikpun merautkan corak kebencian ataupun kedurhakaan pada para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Mereka nyata. Mereka ada. Ibu dan bapak guru kita bersama. Aku menitikkan air mata ketika Ibu Muslimah, Ibunda guru mereka berucap “ Subhanallah, Subhanallah..”, melihat kedigdayaan Lintang melibas seluruh soal yang dibacakan pada lomba cerdas cermat yang mempertaruhkan martabat sekolah mereka. Adapula saat syahdu persahabatan Laskar Pelangi ini diuji. Bagaimana jiwa Flo dan Mahar yang beralih pada kemusyrikan harus dkembalikan pada jalur yang seharusnya. Sebuah tendangan bagi kesia-siaan manusia ketika harus meminta dan memuja kepada makhluk yang tentulah tak punya daya dan kuasa.&lt;br /&gt; Selanjutnya, aku tak tahu harus bilang apa. Ini adalah masterpiece. Ini adalah sebuah mahakarya. Ini bukanlah sebuah kekosongan cerita. Aku percaya, jika kelak seluruh generasi muda tergerak untuk berani bermimpi dan menghancurkan rongrongan ketidakpastian akan nasib, tentulah bangsa ini cepat terhantar oleh waktu pada zaman keemasan yang pernah terkubur. Ini bukanlah sebuah drama komedi, Bung! Iniadalah satire yang dibungkus secara absurd pada tawa lepas masyarakat umum. Selamat bagi Andrea Hirata. Selamat berkarya dan teruslah berekselensi pada tulisan pembangunan jiwa dan penuh makna!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, 19 Oktober 2007&lt;br /&gt;Urfi Syifa Urohmah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-1824131350359899535?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/1824131350359899535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=1824131350359899535' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1824131350359899535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/1824131350359899535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/resensi-buku.html' title='Resensi Buku'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-2301569717677679963</id><published>2007-10-14T21:30:00.000+07:00</published><updated>2007-10-14T21:38:10.198+07:00</updated><title type='text'>Selamat Idul Fitri...</title><content type='html'>selamat Idul Fitri y ah kawannnnn..&lt;br /&gt;hm.&lt;br /&gt;kembali ke fitri,&lt;br /&gt;amiiinnn..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-2301569717677679963?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/2301569717677679963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=2301569717677679963' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2301569717677679963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2301569717677679963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/selamat-idul-fitri.html' title='Selamat Idul Fitri...'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-9145292733224617058</id><published>2007-10-14T21:28:00.000+07:00</published><updated>2007-10-14T21:29:56.786+07:00</updated><title type='text'>Tentang dia.</title><content type='html'>kenapa mesti ada dia dihati gw?&lt;br /&gt;knapa nggak kamu or aku or apalah gitu,,&lt;br /&gt;tapi knapa mesti Dia?&lt;br /&gt;Wooyyy?? Knapa?&lt;br /&gt;Dia.&lt;br /&gt;HHmm,,,To mysterious,,&lt;br /&gt;"x" mysterio..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-9145292733224617058?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/9145292733224617058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=9145292733224617058' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/9145292733224617058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/9145292733224617058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/tentang-dia.html' title='Tentang dia.'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-2173941683282879482</id><published>2007-10-14T21:27:00.000+07:00</published><updated>2007-10-14T21:28:16.791+07:00</updated><title type='text'>UTS</title><content type='html'>Ujian Tengah Semester.&lt;br /&gt;PAsrah aja lah.&lt;br /&gt;namanya juga manusia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-2173941683282879482?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/2173941683282879482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=2173941683282879482' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2173941683282879482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/2173941683282879482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/uts.html' title='UTS'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-8401996654868858842</id><published>2007-10-14T21:11:00.000+07:00</published><updated>2007-10-14T21:25:58.714+07:00</updated><title type='text'>Ied 1428 H. Destiny. Hmm,,</title><content type='html'>Ya Allah, Ya Robbi...&lt;br /&gt;Terima Kasih Atas Rahmat- My yang begitu besar terhadap hambamu ini,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun Yang terjadi , gw sih nganggap semua pasti ada hikmahnya. klise banget sehh,,,apalagi kalo lo inget sinetron ramadhan yang amit2 berjamur pas ramadhan taon ini.&lt;br /&gt;guys, tau ga?&lt;br /&gt;itu tuh, satu kata yang namanya  mudik.&lt;br /&gt;m-u-d-i-k.&lt;br /&gt;hm,,aga2 parno neh gw taun ini.&lt;br /&gt;knapa?&lt;br /&gt;tanya kenapa?&lt;br /&gt;ya iyyalah, gw kan blom ngasih tau knapa.&lt;br /&gt;gue ngabisin 6 hari liburan gue yang sumpah cuma seujung tanduk lagi sisanya ini, di sana,,,di kampung hal;amanku,,, ( Ndeso )&lt;br /&gt;Hmm,,,&lt;br /&gt;pertamanya seh enjoy3 aja tuh gw disana,,&lt;br /&gt;lama- lama....&lt;br /&gt;Aaarrrrggghhh,,&lt;br /&gt;knapa Aaaarrrhhhh??&lt;br /&gt;knapa ga Ffffuuiiihhh??\&lt;br /&gt;karena ekspresi aaaarrrggghhh itu paling pantes buat gw teriakin hari2 belakangan ini,,&lt;br /&gt;Guys? you know what??&lt;br /&gt;1. gue dibombardir sama tante2 gw yg kaya petasan mercon.&lt;br /&gt;2. hp n data2 penting di flashdisk gw ketinggalan di kamar gw di asrama skolah, trus gw balik ke skul buat ngambil, ternyata kuncinya dibawa pulang sama ade kelas gue, padahal gue udah suruh dia taro tuh kunci di rak sepatu,,,&lt;br /&gt;3. gw ga pegang hape,,,,,haaaaaaaaaa.............gw ga bisa komunikasi tanpa merengek dulu ke bokap, nyokap, kaka gue yang pwweeeellliiiiittttnya luar biasa,&lt;br /&gt;4. gw berantem sama kaka gw gara2 simcard,&lt;br /&gt;5. pas gw mo balik ke tng, mobil mogok,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,&lt;br /&gt;tiba2 dinamonya rusak,,,&lt;br /&gt;lo tau mogoknya dimana??&lt;br /&gt;di tengah2 kemacetan yang panjangnya nyampe 13 kilometer,,...................&lt;br /&gt;panas gila, aus gila, cape gila, nn...&lt;br /&gt;malu gila,,,&lt;br /&gt;diklaksonin  tujuh rupa,,,&lt;br /&gt;abis itu hujan turun dengan gemasnya,,,,,,,&lt;br /&gt;Ya Allah, jangan kau Azab kami [ do'a ade gw yg masih kelas 1 sd ]&lt;br /&gt;yang bikin gw ngakak sebentar ngelupain kisah tragis diatas,,&lt;br /&gt;6. taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,,,,,,,,&lt;br /&gt;baru gw bisa bilang FFFffffffuuuiiiiihhhhh....&lt;br /&gt;nyampe juga brow di rumah.&lt;br /&gt;mm,,,ayo itung lagi.&lt;br /&gt;rasionalkah Menes[ pandeglang]- tangerang 7 jam?&lt;br /&gt;ayo, itung lagi! ( kaya iklan salah satu vendor celular )&lt;br /&gt;7. Thanks God!!!!! Love u so much...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-8401996654868858842?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/8401996654868858842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=8401996654868858842' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8401996654868858842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/8401996654868858842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/10/ied-1428-h-destiny-hmm.html' title='Ied 1428 H. Destiny. Hmm,,'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7854697507815146438.post-3967902827189750029</id><published>2007-09-14T12:21:00.000+07:00</published><updated>2007-09-14T12:23:41.674+07:00</updated><title type='text'>Ramadhan</title><content type='html'>Hari ini ramadhan yang kedua tahun 1428 H.&lt;br /&gt;aku seneng banget hari ini,&lt;br /&gt;bisa berbagi keceriaan sama ade2 ku yang asalnya dari tangerang,,&lt;br /&gt;mania,,,,&lt;br /&gt;aku seneng banget bisa menatap langit sore di halaman rumahku kala fajar terbenam,,&lt;br /&gt;aku seneng banget bisa berada dalam dunia,&lt;br /&gt;shiva dalam dunia,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7854697507815146438-3967902827189750029?l=urfisyifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://urfisyifa.blogspot.com/feeds/3967902827189750029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7854697507815146438&amp;postID=3967902827189750029' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3967902827189750029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7854697507815146438/posts/default/3967902827189750029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://urfisyifa.blogspot.com/2007/09/ramadhan.html' title='Ramadhan'/><author><name>urfi-syifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08206767870949386107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_u6nrPfNacpA/S6pe8bEIcvI/AAAAAAAAABg/PJzYL7-iU20/S220/IMG00068-20100323-2227.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
